Selasa, 03 Agustus 2010

Latihan Cahaya Dan Suara Batin


Guru, "Saya ingin tahu mengapa latihan Cahaya dan Suara adalah cara yang terbaik untuk mencapai pencerahan?"
dengan tenang guru menjawab, siswa ku, "Karena itu yang terbaik. Tidak ada penjelasan yang diperlukan."
Guru, " Apakah Anda tidak dapat menerangkan sedikit tentang metode itu?, kata siswa yang masih duduk dihadapan sang guru.
guru pun menjawab dengan tegas, siswa ku,"Semakin saya menerangkan, maka semakin terdengar seperti sampah bagi saya. Sebetulnya, bagaimana Anda dapat menerangkan matahari? Itulah adanya. Karena itu adalah diri kita sendiri, Cahaya dan Suara adalah Jati Diri kita. Anda kembali ke diri Anda sendiri. Apa lagi yang dapat membuat Anda merasa lebih baik selain menjadi diri sendiri? Apa lagi yang dapat membuat ikan merasa lebih baik selain berada di air? Mengapa dia merasa lebih baik di air? Karena dia adalah ikan. Jika Anda meminta saya untuk menerangkannya maka saya tidak tahu.

Jika Anda merasa baik, Anda sudah mengetahuinya. Jika Anda tidak merasa baik, pergilah untuk menemukan sesuatu yang lain, lalu datang kembali. Itulah yang terbaik; itulah yang saya tahu. Dan jika Anda ingin mencari referensi, kita dapat menemukannya di Alkitab, seperti Santo Yohanes mendengar Suara Terompet, dan Tuhan datang dengan Suara Guntur. “Pada mulanya adalah Firman; dan dari Firman ini terciptalah kita.” Itu adalah Suara. Oleh sebab itu, jika kita bersatu dengan unsur kimia kita, maka itulah yang terbaik; itulah apa adanya. Sutra Agama Buddha mengatakan hal yang sama. Di Al Quran juga disebutkan bahwa Cahaya dan Suara adalah Jati Diri kita. Dan apakah Anda tahu bahwa saat ini penelitian ilmiah juga mengatakan bahwa kita adalah Cahaya dan Suara, kita adalah energi. Jadi, apa lagi yang dapat membuat kita merasa baik jika bukan diri kita sendiri? Kembali ke dalam elemen kita dan menyadari keberadaan Jati Diri kita! Itulah yang terbaik, dan itu semua nyata.

dengan masih memandang gurunya siswa kembali bertanya, "Jadi kita harus melihat Cahaya kita sendiri dan mendengar Suara kita sendiri, guru?

Kembali dengan tenang beliau menjawab, "anda bukan melihat Cahaya itu, tetapi Anda sendiri adalah Cahaya itu." Anda bukan mendengar Suara itu, tetapi Anda sendiri adalah Suara itu. Anda adalah Getaran yang membuat alam semesta utuh. Anda adalah itu. Anda adalah Panglima Kepala di kosmos ini. Lebih banyak Anda menyadari bahwa Anda adalah Ia, maka akan lebih banyak energi yang Anda miliki, dan Anda akan menjadi lebih bebas. Lebih baik daripada Anda hanya menyadari bahwa Anda adalah daging tubuh ini, Anda adalah kuku tangan ini, Anda adalah ini dan itu. Anda harus menyadari, “Tidak, bukan, bukan, Saya adalah Pencipta. Saya adalah Cahaya. Saya adalah Suara. Saya adalah makhluk yang absolut itu.” 
 
 

Sabtu, 31 Juli 2010

TEMAN KU YANG BAHAGIA

......... Bahagiakah saya ??.



Berbagai komentar tentang bahagia dari para sahabat,

Diawali dengan suatu filosofi Dede Yasa Warmadewa , memberikan suatu selentingan pada ku, hey! lihat lah jarimu kawan, kau bisa tahu akan semua disana, dimana jari tangan yang menunjuk, 1 jari menunjuk ke luar 3 jari menunjuk diri sendiri. Ini yang dilupakan banyak orang...Orang barat setelah puas dengan kehidupan materialnya mereka merindukan sesuatu. Dan mereka menemukannya kemudian belajar dari orang timur. Sedangkan orang timur yang lupa jati dirinya, yang lebih melihat segi materinya, mereka menuju ke barat. Orang Timur ke Barat... Orang Barat ke Timur....Keseimbangan gerak energi alam, namun sangat disayangkan bagi orang Timur yang pastinya akan terlambat jika tidak memahami luhurnya budaya sendiri yang dikagumi orang Barat. Kata-kata yang sangat global bagi yang masih suka akan suatu harta dan kekayaan sebagai trandseter namun tiada salahnya untuk membuka jari dan menengadah keatas, sambil berseru, ya Tuhan inikah jari yang Kau berikan? Kearah atas atau samping atau bawahkah harus kuarahkan semua jari yang telah menengadah ini ? sudah kah aku akan bahagia dengan ini?, ….Namun disisi lain, Aku, Aku? kata Blossom Baby's Flower , Bagiku bahagia adlh dmna q mcapai keseimbangan..., keseimbangan? Bahagia? Dmana? Ditempat yang sangat seimbang? diantara atau ditengah? dimanapun sahabat!, serunya. Tapi,… Comex Agustine berbisik lirih, sahabat!, Jangan keliru membedakan kebahagiaan dengan kesenangan. Kesenangan berkaitan dengan indra dan bisa terlihat seperti kebahagiaan, namun tidak memiliki arti. Kebahagiaan, sebaliknya, memiliki arti dan sering kali dirasakan walaupun berada dalam kondisi eksternal yang negatif. Kebahagiaan bersifat stabil dan tetap. Kesenangan ibarat bonus dalam kehidupan, tetapi kebahagiaan adalah sebuah keharusan. Kata-kata yang indah dan mengingatkan ku, jika indra inipun punya waktu untuk menikmati semua yang aku anggap kebahagiaan dan ternyata itu hanya sebuah kebahagiaan semu. Aku merasakan ada yang belum aku mengerti, ya sesuatu, -ya- bagaimana kebahagiaanku dengan baju agama ku ? adakah yang menjabarkannya ? adakah ini semu ? senyuman Arby Yasa memunculkan identitas kebahagiaan, sahabat; KEBAHAGIAAN adalah kata sifat yang berkaitan dengan suasana hati.
baik kebahagiaan Matrial maupun kebahagiaan Spiritual. semua kebahagiaan bersifat semu, karena kita masih terikat dengan Karma phala dan Samshara. selagi kita belum dapat menghilangkan kemelekatan tersebut, maka belum akan menjumpai kebahagiaan sejati. Ini kah jawaban atas bungkusan agama atas kebahagiaan, sangat mudah namun sangat sulit dijalankan kataku .. kembali dia berkata ringan, Yaahh kebahagiaan semu juga lumayan, dari pada gak kebagian bahagia...!... Hehaahaaaa…. Akupun tertawa bahagia, ternyata kata yang tertera pendek mampu membuat kebahagiaan pada diriku lewat tawa aku merasakannya.

Sahabat, kata Agung Pambudi katentreman lan kebahagiaan iku dumunung ono ing ROSO lan ROSO iku duwekepribadine atine dewe dewe.KATENTREMAN iku ora wujud hananging keno di RASAk ake,tegese(ONO NANGING ORA ONO/ORA ONO NANGING ONO). Aku lama merenung akan kata-kata ini, yang aku dapatkan Roso Ing Sepi, menep kah ? diam dan rasakan seperti aliran Sungai Bengawan solo, -ya- aku mulai bisa merasakan jika arti tentrem dan sentausa itulah kuncinya. Namun sudah kah semua ini membuat ku diam tak lagi merenung? Satu kehidupan mengidamkan kasih seperti layaknya kebahagiaan dikala embun tersapu oleh hangatnya sang mentari, itukah yang namanya cinta ? itukah yang namanya kasih ? lalu aku yang belum mencintai dan dicintai bahagiakah ?
Segusar itukah kau sahabat? kataHarry Partono, dengarkan Kebahagiaan unsurnya adalah; cinta kasih. Kesejahteraan unsurnya : bahagia, aman, nyaman, tentram. Jaman dulu, hidup masih mengandalkan alam langsung. Sehingga hidup jauh dari matrialis.Jaman kini, alam sudah tidak bersabat lagi, karena ulah serakah manusia sendiri. Sehingga hidup tdk lagi bergantung dengan alam, tapi hidup bergantung pd nilai-nilai materi yg diciptakan oleh manusia sendiri. Disitulah akal lebih berkuasa dari pada hati. Mas Garing, itulah yg jadi keprihatinan kita. Bila keseimbangan tetap tidak tercapai, apa yg akan terjadi ? Kayaknya kita butuh hening, unt menyerap alam keseimbangan.
Hey jangan berhenti sampai disitu sahabatku, Aku; Ida Bagus Adnyana, Kebahagiaan, khan ? Mungkin perlu di tambahin lagi satu mata pelajarannya dan juga guru-guru khusus di siapkan untuk mendidik bagaimana kita menjadi bahagia. Kalau kita mau jujur mengakui dan mau membuka hati dgn melihat fakta2 bahwa yang membahagiakan di negara kita adlh Uang/materi walau di tutupi dgn kata Tuhan namun kebanyakan menyembahNya hanya utk memperoleh lbh bnyk uang/materi. Kebetulan saya sering berinteraksi dgn orang2 barat, maaf bukannya saya kebarat-baratan..tp saya jg tdk bisa menipu diri saya sendiri dan membanggakan konsep2 yg blm bisa di wujudnyatakan dlm realita konkret. kalau di bidang relationship sy kalah ama mrk, hubungan/persahabatan adlh hal yg membahagiakan Bagi mrk stlh kesehatan. Mrk sedikit punya tmn tp kualitas persahabatannya luar biasa. Dan ada bnyk fakta/laku nyata mrk yg mau sy ungkapkan lg tp itu sj cukup. Konon kebahagiaan itu ada di dalam diri dan erat sekali hubungannya dengan sikap mental dan suasana pikiran meresponse kondisi di luar diri. Ada bnyk attitude yg bisa di praktekkan utk mengalami kebahagiaan. Ada bnyk konsep2 yg di bagi oleh... para bijaksana yg sdh memiliki kebagiaan itu. Namun kalau kita lihat pitutur2 yg ada di bumi nusantara ini saya bisa mengatakan terlalu bnyk jumlahnya dan mungkin krn saking banyaknya jd bingung pake yang mana ya?..dan blm sempat memilih salah satunya sdh keburu tertarik dgn konsep2 import dan terbawa arus semakin jauh dgn sumber kebahagiaan itu sendiri. Mungkin secara teori kita hebat namun K0 dalam medan laga shg kita, bertekuk lutut dan pasrah di bawah mitos tentang kebahagiaan itu sendiri. Kenapakah itu terjadi?...mari kita tanya pd rumput yg bergoyang kata Ebiet. Logikanya kita hanya bisa memberi atau membagi apa yang sudah kita miliki. Mari kita mulat sarira/interospeksi diri, buka mata, pikiran dan hati kita, menanyakan apa yg sdh dpt kita/komunitas/bangsa ini bagi/beri?...kebahagiaan?...kedamaian?....kesejahteraan?...keadilan?....kebebasan atau lain-lain?....setiap penyakit ada sebabnya, dari input keluar output. Maaf ini penyakit yg tersimpan di bawah sadar yg bicara. Dan bagi yang sudah memiliki kebahagiaan. May the joy be with you always. Pengalaman yang ditawarkan inipun kembali membuatku terdiam, pengalaman yang sangat indah, pengalaman yang diceritakan menjadi sebuah suara “kesadaran” dan mampu mengambil hikmah dari setiap ayat yang tersirat, Tj Garing semoga lah kita tidak menemukan mitos akan kebahagiaan, Krn yg aku punya adalah "hati sbagai hamba"..jd aku bahagia klo bs hdp sprti yg DIA 'mau' dlm hdpku. Dan bs mjd berkat bg orang lain. Sahut Maria Pertiwi, menyadarkan lamunan ku. Belum beranjak segala ingatanku sebuah suara lembut milik Ayu Ida Rachmawati berkata ;suksma bli....bukan sekedar pencerahan tapi sebuah sentilan,bukan sekedar sentilan tapi cambukan...luar biasaaa.....semoga bisa menjadi lbh baik utk diriku... Aku pun kembali tersenyum, inilah dia sebuah pola kata ku dalam hati iya Tawa, Senyum semua tanpa beban sudah sampaikah aku akan arti bahagia ?
Tj Sahabat Ku, masih kah semua berlanjut dan menjadi perkara bagimu kata Budianto Hendry, dengan senyum yang kas dia berkata; Bahagia.....bahagia.....bahagiakah saya??????????
Kebahagiaan umum yg diminati oleh kebanyakan orang , meliputi pemuasan hasrat atau keinginan. Ini adalah pengertian khas dari kebahagiaan. Ada 4 mcm kebahagiaan yg dpt dimiliki oleh orang biasa [ bukan selibat ] yg menikmati kegembiraan setiap saat dan bila ada kesempatan.
Ke 4 hal ini adalah;1. KEBAHAGIAAN karena MEMILIKI, 2. KEBAHAGIAAN karena KEKAYAAN,3. KEBAHAGIAAN karena TIDAK BERHUTANG, 4. KEBAHAGIAAN karena TIDAK BERBUAT SALAH‎ Bagaikan sebuah pencerahan kembali Budianto Hendry menjelaskan Bak seorang Taghata dengan muka bersinar, karena ingin agar aku tidak terbelunggu dengan perkara akan arti bahagia. Dia melanjutkan kembali …-Nah-,… Yg di mksd KEBAHAGIAAN karena MEMILIKI adalah, bila seseorang memiliki kekayaan yg diperoleh dgn kerja keras dan cerdas, dgn kekuatan tangan dan cucuran keringat serta secara halal. Klu ia berpikir hal ini, ia akan merasa PUAS dan BAHAGIA.. 2. Yg di mksd KEBAHAGIAAN karena KEKAYAAN adalah; apabila seseorang yg memiliki kekayaan yg didapatkannya secara halal, dan dgn kekayaannya itu, ia banyak melakukan kebaikan dgn bijaksana. Dan klu ia berpikir tentang hal ini, ia akan merasa PUAS dan BAHAGIA…3. Yg di mksd KEBAHAGIAAN karena TIDAK BERHUTANG adalah; mengenai hal ini, apabila seseorang tdk mempunyai hutang , besar ataupun kecil kpd siapa pun. Klu ia berpikir tentang hal ini, ia akan merasa PUAS dan BAHAGIA, 4. Yg di mksd KEBAHAGIAAN karena TIDAK BERBUAT SALAH adalh; mengenai hal ini seseorang akan diberkahi karena perbuatan Benar serta Bijaksana yg dilakukannya dgn badan jasmani, ucapan dan pikiran. Dan bila ia berpikir tentang hal ini, ia akan merasa PUAS dan BAHAGIA. Sambil menepuk pundakku dia pun berkata pahamilah sahabat, sumua ini aku paparkan agar kau tidak lagi bingung atas arti sebuah kebahagiaan, … Tapi- sahut ku, tidak kah itu sangat mudah bagimu dan sangat susah bagi ku ? atau aku yang sangat terhimpit oleh permainan pikiranku ? Bung Nekad yang memang selalu aja tanpa permisi dengan gayanyanya yang khas berkata saya hanya tahu satu hal dan ini adalah prinsop hidup saya, "bukanlah kita hidup untuk menelusuri kebahagiaan, tetapi adalah sebaliknya ; adalah kita harus bahagia menelusuri kehidupan" Apakah saat ini saya bahagia? 99% ya... –wah- hanya 1 % yang tidak bahagia, sungguh jujur, ketidak sempurnaan itulah hal yang alami dalam diri manusia, 1 % pun bias merubah 99%, mungkinkah ? ada kah kenyataan seperti itu ? Hey…. Arjun Surya Visvadeva Kuntiya, berikanlah tanggapan mu, kau yang biasanya selalu bicara tapi saat ini tiada pernah ku dengar lagi kata-kata mu , Baiklah sahabat menurut –Ku- Hidup intinya adalah mencari kebahagiaan, namun selalu saja kita dihadapan antara dua realitas, kebahagiaan dan kesedihan selalu menghampiri, kala kita mencapai suatu kebahagiaan pun kita musti memilih antara 2, kebahagiaan rohani dan kebahagiaan duniawi atau indriawi namun 90% dari kita lebih memilih duniawi atau indriawi, dan berharap itu akan abadi nanti.. Ho…Ho… Tj,mengapa kau rangkai semua kata-kata koment ini ? kata Ping Setiadi Yap, lihatlah aku, kamu bisa simpan kata-kata ku ini, Hidupku adalah untuk mencari makna.. Hidup yg bermaknalah yg membahagiakan.. Apakah aku sudah mendapatkannya?..;)

Aku pun kembali tersenyum, iya hanya dengan inilah aku bisa merasakan bahagia, ya aku bahagia karena Tempat untuk berbahagia itu ada disini. Waktu untuk berbahagia itu kini.
Cara untuk berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia.



================================ ****===================================
To All Of My Friend, Tengkiyu yang terdalam, tiada lagi yang bisa saya ucapkan hanya sebuah tulisan inilah yang dapat saya persembahkan, semoga dapat memjadikan kalian bahagia.

Akhir kata, Inilah Bahagia….

Kamis, 29 Juli 2010

BAHAGIAKAH SAYA

Ada fenomena yang sangat menarik seperti melihat pelangi yang dipenuhi dengan warna-warni, fenomena ini dikatakan sangat indah karena mata mampu melihatnya. Saat mata menyaksikan dan telinga mendengarkan berita tentang selebriti yang dihujat karena memamerkan kelihaiannya bersenggama ataupun tentang seorang pemimpin yang lagi hilang kewarasannya menjadi pengumpul uang rakyat, barulah media akan langsung menyuguhkannya pada masyarakat dan kitapun menganggap ini suatu yang indah dan wajar. Namun tiap kali media kita memperlihatkan suatu nilai kebahagiaan kita sama sekali tidak memberikan respon, aneh.!

Hati mulai bertanya,masih pentingkah kebahagiaan bagi kita ? atau kita sudah lama melupakannya ?, atau jangan-jangan kita tidak mengetahui makna kebahagiaan, jangan-jangan yang kita kejar masih sebatas kenyamanan, mungkin kenyamanan itu kita anggap sudah cukup untuk membahagiakan atau barangkali kenyamanan itu kita anggap kebahagiaan.

Trend tingkat kebahagiaan yang diukur dari bertambahnya kekayaan,harta dan tabungan, ternyata menjadikan kita tenggelam dalam nuansa nikmat, skala ukur atas kebahagiaanpun berubah. Pemerintah pun mencoba melakukan sentuhan magic terhadap kebutuhan rakyatnya, berbagai subsidipun bertebaran,berbagai misipun dilakukan mengikuti trend masyarakat atas nilai kebahagiaan. Belum lagi aktifnya para calo Tuhan yang memberikan arti sebuah perkara kebahagiaan dengan menjanjikan pahala yang tidak tangung-tangung, kita pun menjadi sering memohon permintaan melalui calo itu, karena kita berpikir hal inipun merupakan pintu masuk menuju perkara kebahagiaan, dan kita percaya.sungguh aneh!.

Namun disisi lain di belahan barat dunia ini, mereka adalah masyarakat yg terlebih dahulu memasuki jaman Global, jaman sains dan teknologi, mereka telah lama mencari kebahagiaan yg hilang, mereka kembali berbenah diri dengan bertanya kembali pada diri sendiri akan arti sebuah kebahagiaan. Mereka jelas-jelas membukukan jika bertambahnya kekayaan,harta dan tabungan tidak menjamin kebahagiaan, Bahkan membuat manusia lebih sengsara. -mereka- Aneh,kah ?!

Mengutamakan "kebahagiaan" tidak berarti uang tidak penting. Uang tetap penting, tetapi uang bukanlah segalanya. Bila uang dapat membahagiakan, semestinya orang kaya tidak pernah menderita, Ternyata tidak demikian. Mereka tetap mengeluh.

Tren menilai kebahagiaan atas jumlah uang secara tidak langsung kita turunkan kepada anak-anak kita. Dengan kecerdasan yang hebat mereka berkata,"aku nanti kalo besar mau jadi dokter." cita-cita yg cemerlang, coba tanya lagi untuk apa jadi dokter, mereka dengan riang akan berkata, agar punya uang banyak dan bisa beli mobil bagus, mereka pun meng idolakan bintang sinetron di TV, atau mengidolakan sosok pejabat, sosok politikus, bukan karena mereka seorang abdi Tuhan dan masyarakat tapi karena mereka punya banyak uang...adakah yang salah dengan Kita?

Bahkan sistem pendidikan kitapun membentuk mereka untuk mengikuti tren kebahagiaan Dimana kedudukan harta kekayaan diatas segala-galanya, itu yg diterima pada pendidikan yang masih reguler, namun pendidikan yang ekslusif apakah sama?, oh...tentu beda!, pendidikan ekslusif kami hanya mengajarkan agar anak-anak bertakwa, khan kami sudah mengacu pada orientasi yang tepat, "katanya". Ya, bertakwa,... Tetapi dikaitkan dengan mendapatkan pahala di sorga....bahkan sorga yang lagi-lagi dipenuhi dengan berbagai kenikmatan "mirip" di dunia, bahkan dilipatgandakan sekian kali hebatnya. Inilah letak persoalannya!, kita belum mampu mengartikan kata aananda yg diambil dari bahasa jawa kuno dimana mempertegas perbedaan antara kebahagian sejati dengan kenyamanan jasmani.

Kenikmati indrawi membutuhkan pemicu di luar telinga. Telinga membutuhkan suara yang disenanginya. Hidung membutuhkan aroma pilihan. Mata ingin melihat tayangan yang mengasyikkan. Lidah ingin mencecap sesuatu yang enak. Dan kulit kita ingin diraba,dieluslelus. Dan, untuk semuanya itu materi memang dibutuhkan. Kenyamanan jasmani pun membutuhkan materi.

Lalu, kenikmatan idra dan kenyaman jasmani penting juga,khan!, iya penting - namun kita perlu menyadari semua itu tidak selama dapat membahagiakan. Silahkan memanjakan diri dengan semua itu, namun ingat itu bukan hal nyata yg di cari, sifatnya tidak langgeng-tidak abadi !.

Bila tidak cepat disadari, semua ikatan ini semakin menggiring kita lebih jauh lagi, kita terjebak untuk mencari kebahagiaan dari benda-benda dan sarana-sarana di luar diri. Kita pun mulai mengumpulkan segala kekuatan untuk kenikmatan dan kenyamanan tubuh sebagai kebahagiaan. Namun setelah semua indra tak lagi mampu menikmati, ketika tubuh tidak lagi merasakan nyaman, seluruh sarana dan benda yang terkumpul kehilangan arti. Saat itu lingkaran frustasi dan depresi menjerat kita, kita bingung kita tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi....

Mulailah memikirkan apa orientasi kita akan arti kebahagiaan, apakah kenikmatan dan kenyaman sesaat yang diperoleh dari materi ? ataukah kita mulai menjadikan koreksi atas dunia barat sebagai cermin ? Ataukah dunia timur telah kehilangan spiritual karena bisa diperoleh lewat materi, dan menjadikan spiritual sebagai kenikmatan sesaat?
.......... Bahagiakah saya ??.

Rabu, 28 Juli 2010

Semangkuk Bakmi

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?”, tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
 
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”


Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yg baru kukenal, aku begitu

berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.


Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain dis ekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan

kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

 
 
 
RENUNGAN: 
BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.
SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH SAYANG DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?