Kamis, 29 Juli 2010

BAHAGIAKAH SAYA

Ada fenomena yang sangat menarik seperti melihat pelangi yang dipenuhi dengan warna-warni, fenomena ini dikatakan sangat indah karena mata mampu melihatnya. Saat mata menyaksikan dan telinga mendengarkan berita tentang selebriti yang dihujat karena memamerkan kelihaiannya bersenggama ataupun tentang seorang pemimpin yang lagi hilang kewarasannya menjadi pengumpul uang rakyat, barulah media akan langsung menyuguhkannya pada masyarakat dan kitapun menganggap ini suatu yang indah dan wajar. Namun tiap kali media kita memperlihatkan suatu nilai kebahagiaan kita sama sekali tidak memberikan respon, aneh.!

Hati mulai bertanya,masih pentingkah kebahagiaan bagi kita ? atau kita sudah lama melupakannya ?, atau jangan-jangan kita tidak mengetahui makna kebahagiaan, jangan-jangan yang kita kejar masih sebatas kenyamanan, mungkin kenyamanan itu kita anggap sudah cukup untuk membahagiakan atau barangkali kenyamanan itu kita anggap kebahagiaan.

Trend tingkat kebahagiaan yang diukur dari bertambahnya kekayaan,harta dan tabungan, ternyata menjadikan kita tenggelam dalam nuansa nikmat, skala ukur atas kebahagiaanpun berubah. Pemerintah pun mencoba melakukan sentuhan magic terhadap kebutuhan rakyatnya, berbagai subsidipun bertebaran,berbagai misipun dilakukan mengikuti trend masyarakat atas nilai kebahagiaan. Belum lagi aktifnya para calo Tuhan yang memberikan arti sebuah perkara kebahagiaan dengan menjanjikan pahala yang tidak tangung-tangung, kita pun menjadi sering memohon permintaan melalui calo itu, karena kita berpikir hal inipun merupakan pintu masuk menuju perkara kebahagiaan, dan kita percaya.sungguh aneh!.

Namun disisi lain di belahan barat dunia ini, mereka adalah masyarakat yg terlebih dahulu memasuki jaman Global, jaman sains dan teknologi, mereka telah lama mencari kebahagiaan yg hilang, mereka kembali berbenah diri dengan bertanya kembali pada diri sendiri akan arti sebuah kebahagiaan. Mereka jelas-jelas membukukan jika bertambahnya kekayaan,harta dan tabungan tidak menjamin kebahagiaan, Bahkan membuat manusia lebih sengsara. -mereka- Aneh,kah ?!

Mengutamakan "kebahagiaan" tidak berarti uang tidak penting. Uang tetap penting, tetapi uang bukanlah segalanya. Bila uang dapat membahagiakan, semestinya orang kaya tidak pernah menderita, Ternyata tidak demikian. Mereka tetap mengeluh.

Tren menilai kebahagiaan atas jumlah uang secara tidak langsung kita turunkan kepada anak-anak kita. Dengan kecerdasan yang hebat mereka berkata,"aku nanti kalo besar mau jadi dokter." cita-cita yg cemerlang, coba tanya lagi untuk apa jadi dokter, mereka dengan riang akan berkata, agar punya uang banyak dan bisa beli mobil bagus, mereka pun meng idolakan bintang sinetron di TV, atau mengidolakan sosok pejabat, sosok politikus, bukan karena mereka seorang abdi Tuhan dan masyarakat tapi karena mereka punya banyak uang...adakah yang salah dengan Kita?

Bahkan sistem pendidikan kitapun membentuk mereka untuk mengikuti tren kebahagiaan Dimana kedudukan harta kekayaan diatas segala-galanya, itu yg diterima pada pendidikan yang masih reguler, namun pendidikan yang ekslusif apakah sama?, oh...tentu beda!, pendidikan ekslusif kami hanya mengajarkan agar anak-anak bertakwa, khan kami sudah mengacu pada orientasi yang tepat, "katanya". Ya, bertakwa,... Tetapi dikaitkan dengan mendapatkan pahala di sorga....bahkan sorga yang lagi-lagi dipenuhi dengan berbagai kenikmatan "mirip" di dunia, bahkan dilipatgandakan sekian kali hebatnya. Inilah letak persoalannya!, kita belum mampu mengartikan kata aananda yg diambil dari bahasa jawa kuno dimana mempertegas perbedaan antara kebahagian sejati dengan kenyamanan jasmani.

Kenikmati indrawi membutuhkan pemicu di luar telinga. Telinga membutuhkan suara yang disenanginya. Hidung membutuhkan aroma pilihan. Mata ingin melihat tayangan yang mengasyikkan. Lidah ingin mencecap sesuatu yang enak. Dan kulit kita ingin diraba,dieluslelus. Dan, untuk semuanya itu materi memang dibutuhkan. Kenyamanan jasmani pun membutuhkan materi.

Lalu, kenikmatan idra dan kenyaman jasmani penting juga,khan!, iya penting - namun kita perlu menyadari semua itu tidak selama dapat membahagiakan. Silahkan memanjakan diri dengan semua itu, namun ingat itu bukan hal nyata yg di cari, sifatnya tidak langgeng-tidak abadi !.

Bila tidak cepat disadari, semua ikatan ini semakin menggiring kita lebih jauh lagi, kita terjebak untuk mencari kebahagiaan dari benda-benda dan sarana-sarana di luar diri. Kita pun mulai mengumpulkan segala kekuatan untuk kenikmatan dan kenyamanan tubuh sebagai kebahagiaan. Namun setelah semua indra tak lagi mampu menikmati, ketika tubuh tidak lagi merasakan nyaman, seluruh sarana dan benda yang terkumpul kehilangan arti. Saat itu lingkaran frustasi dan depresi menjerat kita, kita bingung kita tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi....

Mulailah memikirkan apa orientasi kita akan arti kebahagiaan, apakah kenikmatan dan kenyaman sesaat yang diperoleh dari materi ? ataukah kita mulai menjadikan koreksi atas dunia barat sebagai cermin ? Ataukah dunia timur telah kehilangan spiritual karena bisa diperoleh lewat materi, dan menjadikan spiritual sebagai kenikmatan sesaat?
.......... Bahagiakah saya ??.

Tidak ada komentar: