Senin, 28 Mei 2012

TUHAN DAN MANUSIA (Ku)

Sejak hari pertama manusia muncul, Tuhan mulai bekerja di dalam manusia menuangkan semakin banyak dari dirinya kedalam setiap generasi penerus, mendesak mereka untuk mencapai kemajuan yang lebih besar dan kondisi-kondisi yang lebih baik, sosial, pemerintahan, dan domestik. Mereka yang menelan kembali sejarah purba, melihat kondisi-kondisi buruk yang ada, kebiadaban, pemberhalaan, dan penderitaan, dan membaca tentang Tuhan di dalam kaitannya dengan semua ini dan merasa bahwa dia kejam dan tidak adil terhadap manusia, haruslah berhenti sejenak. sejak manusia pertama hingga sekarang, ras manusia harus maju meningkat. dan hanya bisa di capai melalui penguatan yang berurutan dari berbagai daya dan kemungkinan yang tersimpan dalam otak manusia. Wajar bahwa bagian manusia yang lebih kasar berkembang penuh lebih dahulu, selama berabad-abad manusia itu kasar, lembaga-lembaga domestik mereka kasar, dan apa yang tampak sebagai sejumlah besar penderitaan muncul karena kekasaran ini. Tetapi Tuhan tidak pernah suka pada penderitaan, dan disetiap jaman Dia telah memberi kesan kepada manusia, pesan yang memberitahu cara menghindari penderitaan. Dan selama itu, dorongan kehidupan yang mendesak, penuh kekuatatan, membuat ras manusia terus maju kedepan. Semakin sedikit kekasaran dan semakin banyak Spiritualitas disetiap jaman. Dan Tuhan terus bekerja di dalam manusia. Disetiap tahap terdapat beberapa orang yang lebih maju daripada orang kebanyakan, dan yang lebih pandai mendengar dan mengerti Tuhan dibandingkan sesamanya. Kepada merekalah tangan ruh yang mengilhami diletakkan. Pada orang-orang inilah yang telah mendengar Tuhan, mengucapkan kata-katanya, dan menunjukkan kebenarannya didalam hidup mereka, semua kemajuan sungguh-sungguh terjadi.

Sekali lagi, pertimbangkan sebentar kehadiran apa yang disebut kejahatan didunia, kita melihat bahwa apa yang bagi kita tampak sebagai kejahatan sebenarnya hanya sesuatu yang belum berkembang. Dan apa yang belum berkembang itu sempurna baiknya untuk tahap dan tempatnya sendiri. karena segala sesuatu diperlukan untuk kepenuhan penguakan manusia segala sesuatu di dalam kehidupan manusia adalah karya Tuhan. Untuk menutup pandangan tentang evolusi ini mungkin kita bertanya mengapa semua ini di lakukan, untuk apa? pertanyaan ini seharusnya mudah di jawab oleh akal yang berpikir. Tuhan ingin mengekspresikan dirinya sendiri, untuk hidup didalam bentuk, dan bukan hanya itu, tetapu hidup di dalam suatu bentuk melalui dimana Ia dapat mengekspresikan dirinya dengan Tahap moral dan spiritual tertinggi. Tuhan ingin mengevolusi suatu bentuk dimana manusia dapat memanifestasikan dirinya sebagai mahluk yang sempurna ini adalah tujuan kekuatan evolusi. Dengan berlanjutnya waktu, jaman-jaman perang, pertumpahan darah, penderitaan, ketidakadilan, dan kekejaman telah di lunakkan oleh cinta dan keadilan. Dan ini mengembangkan otak manusia sampai ke titik dimana Ia mampu memberikan ekspresi penuh kepada cinta dan keadilan Tuhan. Akhir ini belum tiba; tujuan Tuhan bukanlah kesempurnaan pada beberapa contoh pilihan untuk pameran, seperti buah-buah berry terbesar yang disusun dibagian atas kotak kemasan, tetap pada kejayaan ras manusia. Saatnya akan tiba ketika terbentuk dunia yang tak mengenal laki-laki, tangisan, tidak ada penderita, karena semuanya sudah berlalu dan disaat itu tak ada lagi malam. 


https://www.facebook.com/notes/bli-tj-garing/tuhan-dan-manusia-ku/10151398656575246

NERIMO

" Nrimo" dalam menjalaninya tidak semudah mengatakannya. Nrimo sering aku artikan sebagai kemampuan berserah pasrah pada Hyang Widi. namun kembali aku menelisik ditengah keramaian pasar dunia; apa sih nrimo ?" sepertinya kata ini mengandung suatu kekuatan magis yang sangat mudah diucapkan. Sering orang disekelilingku mengatakan bahwasanya manusia kudune nrimo; tapi atas dasar apa hal itu diucapkan ? Nrimo menjadi sangat seiring aku dengar disaat seseorang mengalami kesusahan, saat penderitaan tak habis-habis menghantuinya serta berbagai carapun telah dilakukan. bila hal tersebut dikatakan nrimo sungguhlah negatif arti nrimo karena hal ini membuat kita menjadi pasif- bukankah nrimo itu sebuah kesabaran? apabila nrimo menjadi kesabaran, maka yang ditunjukkan pada saat aku mampu menahan apa yang menjadi ketidak cocokanku, baik ketidak cocokan pada nasib-pada kebutuhan dan segalanya.

Nrimo menjadi suatu hal yang sungguh sulit untuk didiskripsikan-dibentuk dan hanya mampu dijalankan; entah menjalani dengan baik dan benar ataukah dengan baik dan salah. Nrimo sebagai suatu batas akhir manusia hidup, dan disini keterkaitan dengan laku dan langkah sangat erat; Nrimo bukan suatu konsep; bukan kondisi diam dan berserah. nrimo adalah suatu tantangan dalam menjalani keidupan yangsesungguhnya; nrimo lahir dari setiap langkah yang aku lakukan-nrimo menjadi barometer atas setiap petunjuk yang aku dapatkan. dan memang untuk saat ini semua sulit untuk di berikan diskripsi yang jelas. Tapi nrimo adalah bentuk aktual dari Krya Yoga, dia ada dan berada di dalam Krya Yoga, menghasilkan berbagai pemaknaan hidup dalam koridor Ikhlas Ing Pandum.Nrimo menghidupkan setiap langkah manusia dan dapat ku rasakan pada langkah yang semakin berat nrimo dapat meringankannya; dan aku ikhlas dalam melangkah menjadikan Nrimo sebagai wujud nyata. 

; bersambung.. tj

Sabtu, 22 Oktober 2011

PELAYANAN TAK DI MULAI DI RUMAH

Karena, apa yang kita lakukan untuk keluarga kita, rumah kita – tak bisa disebut pelayanan. Ini adalah kewajiban kita, tanggungjawab kita. Dan, sehingga, pelayanan tak di mulai di rumah. Pelayanan harus di mulai di luar rumah kita. Pelayanan lahir dari rasa welas asih pada mereka yang jauh dari kita, yang merupakan orang asing, yang tak kita kenal secara personal….Tapi, yang sedang menderita, yang tengah membutuhkan pelayanan kita.’ 

Dengan melayani keluarga kita sendiri, kita tak membuktikan apapun. Kita justru mengingkari ikatan yang kita ciptakan sendiri. Apa yang kulakukan untuk mereka adalah bagian dari tugas keluarga – tak lebih dari itu. Dan, akan tiba saatnya kewajiban semacam itu berakhir. Misalnya saat kamu tak harus lagi membiayai kehidupan anak-anakmu.

Kewajiban pasti berakhir, Pelayanan tak bernah berakhir.

Pelayanan adalah sejenis Persembahan Kasih yang dilakukan tanpa beban apapun. Saat kamu tak harus melakukan sesuatu, tapi kamu tetap memilih melakukannya – maka, kamu menjadi Pelayan.
Sebuah sistem kepercayaan yang memaksamu melakukan pelayanan, sejatinya justru kehilangan rasa pelayanan itu sendiri. Sesungguhnya tak ada satu sistempun yang bisa melahirkan hati yang penuh pelayanan. Pemilik hati yang penuh kasih tak butuh iming-iming untuk melakukan tindak pelayanan. Ia tak butuh kapling di surga yang nyaman setelah kematian. Ia tak butuh motivasi apapun, segala motif luaran, untuk melakukan pelayanan.

Jika kamu merasa iba pada penderitaan rakyat Lebanon hanya karena mereka pemeluk agama yang sama denganmu – maka kamu tak layak disebut pelayan. Kamu harus merasakan bahwa penderitaan mereka karena memang mereka sungguh menderita. Dan, ini sangat tidak manusiawi membuat orang lain menderita. Di balik penderitaan rakyat Lebanon, bukan hanya Israel yang bersalah. Kelompok Hisbullah juga sama salahnya. Mereka seperti negara dalam negara. Dan, oleh karena itulah, Negara Lebanon bersalah pula. Bagaimana bisa mereka membiarkan tumor ganas organisasi militan semacam itu eksis di tubuh negara mereka?

Jika kamu mendukung agresi Israel hanya kerena kamu terlahir sebagai seorang Yahudi, maka kamu menjadi agresif pula. Lantas, kamu juga bersalah karena tindak kriminal dan kekerasan semacam ini. Apakah kamu tak pernah berfikir bahwa kamu bukanlah pelayan dengan mendukung agresi semacam itu?

Pelayanan tak bisa dilakukan dengan hanya mendukung sebuah ideoloi saja.

Pelayanan harus dilakukan untuk mendukung nilai-nilai universal.

Pelayanan macam apa yang terkandung dalam sebuah agresi?

Seorang pengacara atau tim pengacara yang membela teroris juga tak layak disebut pelayan, walau mereka mengkalim demikian. Mereka mengkalim bahwa mereka tak mendapat bayaran dari para teroris tersebut. Itu membuat mereka tak lebih baik dari para teroris itu sendiri. Mereka berjuang untuk sebuah ideologi kekerasan, sebuah ideologi yang tak bisa disebut pelayanan. Kebajikan macam apa yang dilakukan dengan membunuh orang-orang yang tak bersalah, mengebom area publik dan merusak citra negara sendiri?
Sebuah kebajikan selalu membawa kebahagiaan bagi banyak orang, bagi sebanyak mungkin orang, ya sebanyak mungkin. Dan, orang yang penuh pelayanan ialah ia yang terlibat dalam hal semacam ini.
Orang yang penuh pelayanan, seseorang yang hatinya penuh kasih, tak bisa dibatasi dengan empat tembok dalam rumahnya sendiri. Orang semacam ini selalu mencoba keluar dari dalam rumahnya, untuk membebaskan dirinya dari segala kewajiban, sehingga mereka bisa melayani semua.
Dengan mengatakan ini, tentu saja aku tak bermaksud bahwa mereka harus melarikan diri dari tanggungjawab. Tidak. Justru mereka bekerja super keras untuk memenuhi segala kebutuhan mereka, menyelesaikan tanggungjawab atas keluarganya – sehingga dapat melakukan hal lain. Sehingga mereka dapat bergerak dan bertindak demi nilai-nilai yang lebih tinggi.
Donasi, cara ini, adalah hanya satu aspek dari pelayanan. Ini sama sekali bukan aspek satu-satunya. Dalam realitasnya kamu tak dapat mendonasikan apapun tanpa rasa pelayanan. Saat kamu mendonasikan secara tak ikhlas, kamu tak bisa di sebut pelayan. Ini juga tak bisa di sebut pelayanan saat kamu membagi unag supaya mendukung partai tertentu yang memiliki agenda terselubung dalam pemilu. Setiap donasi yang diberikan, setiap tindakan pelayanan yang dilakukan, segala sesuatu yang dilaksanakan dengan ekspetasi tertentu – tak bisa disebut sebagai pelayanan.
Pelayanan dilakukan tanpa mempedulikan hasil.
Pelayanan dilakukan semata karena kamu penuh kasih. Ini adalah bagian dari fitrahmu. Segala sesuatu yang tak alamiah – bukanlah pelayanan.
Belajarlan menjadi pelayan dari alam sekitarmu.
Matahari memberimu cahaya tanpa ekspektasi apapun. Bulan bersinar tanpa berharap balasan. Angin berhembus karena memang berhembus adalah perannya dalam alam ini. Air mengalir atas iramanya sendiri. Dan, kita menerima rahmah, manfaat dari mereka semua. Kita mengambil manfaat dari mereka karena semata menjalankan peran dalam alam ini. Mereka tak menginginkan hal yang lain.
Dengan menjadi pelayan, kita menjadi diri kita sendiri.
Dengan menjadi arogan dan tak melayani, kita melawan takdir kita sendiri. Sebagai akibatnya kita menciptakan masalah bagi diri kita sendiri.
Dengan menjadi pelayan, kita tak melakukan apapun demi kebaikan orang lain.
Sesungguhnya, sebuah tindakan pelayanan bermanfaat bagi diri kita sendiri – karena ia menghubungkan kita dengan takdir kita! Jadilah seorang pelayan, sehingga, ini demi kebaikan diri kita sendiri.
Keluar, tinggalkan cangkangmu, dan terjunlah ditengah-tengah mereka yang miskin, rapuh, tak berdaya…Rasakan penderitaan mereka, rasa lapar dan kehauasan mereka….rasakan itu semua sampai air mata menetes dari kelopak matamu dan hatimu berdarah…Dan, kamu akan secara otomatis sekali bergerak untuk melayani mereka. Pelayanan macam ini menjangkau mereka yang paling diabaikan, menurut pendapatku, ini adalah pelayanan yang sesungguhnya.

Kamu tak harus menunggu pers datang dan meliput aksi pelayananmu ini. Pelayanan tak ada kaitannya dengan liputan media. Hari ini koran masih berharga untuk dibaca besok hanya menjadi limbah kertas saja. Jadi, jangan terlalu menghiraukan liputan media!

Jangan kamu bertindak seperti para politisi malang dan partai politik yang menghamburkan uang untuk iklan dan kampanye tentang pelayanan ketimbang melakukan tindakan pelayanan itu sendiri!

Hal lain yang amat penting. : Menjadi pelayan berarti juga menjadi amat cerdas. Pelayanan adalah sebuah tindakan yang berasal dari pikiran yang tajam. Otak yang tumpul hanya bisa mendonor uang dan mereka tak bisa melayani. Dan kita, kita telah melihat perbedaan antara keduanya. Orang yang tumpul pemahamannya tak bisa melakukan pelayanan – paling banter mereka bisa membantu. Dan, hal ini menggelembungkan ego mereka. Bantuan semacam ini tak meningkatkan kesadaran mereka sama sekali.

Beberapa waktu lalu ketika rangkaian gempa bumi meluluh–lantakkan kota Jogjakarta, banyak orang, organisasi, bahkan pejabat datang untuk membantu. Saat ini mereka tak begitu lagi membutuhkan pangan, obat dan pakaian. Teman kita yang mengikuti perkembangan situasi ini dari dekat dan intens memutuskan untuk melayani dalam satu hal yang amat spesifik yang tak seorangpun sama sekali memikirkannya, yakni membantu mereka mengatasi stres dan trauma. Untuk mengangkat kembali semangat mereka dan energi kehidupan sehingga mereka dapat kembali bekerja tak hanya mengantri di depan dapur umum gratisan yang banyak tersebar di daerah tersebut. Mereka berhasil, dan Pemerintah daerah mengetahui hal ini dan mengunjungi posko mereka, bahkan bernyanyi dengan mereka. Ini adalah cara yang cerdas untuk melakukan pelayanan. Ini menjadi sebuah pelayanan dalam arti yang sesungguhnya.

Curahkan waktumu; berikan energimu. Pada hal yang penting. Banyak orang bisa memberi uang, tapi hanya sedikit yang benar-benar bisa memberikan waktu dan energinya. Jangan kamu menjadi bagian dari banyak sukarelawan yang sering kamu lihat, tak satupun dari mereka yang benar-benar sukarelawan. Sebagian besar dari mereka dibayar, entah oleh pemerintah atau oleh institusi yang mereka wakili. Banyak dari mereka yang disewa oleh apa yang di sebut LSM, mereka menuntut bayaran lebih banyak ketimbang gajimu dan gajiku. Mereka adalah pekerja biasa, mereka bekerja untuk hidup. Mereka mendapat bayaran untuk pekerjaan mereka. Dan tak pantas disebut pelayan.

Aku tak mengatakan bahwa mereka tak dibutuhkan. Mereka dibutuhkan juga. Tapi mereka bukanlah sukarelawan dalam arti kata yang sebenarnya. Mereka pekerja bayaran. Mungkin instrtusi yang mereka wakili menyebut sebagai pelayan. “Mungkin”, karena walau tetap ada pengecualian. Banyak institusi yang memiliki agenda terselubung yakni mempromosikan ideologi tertentu lewat karya pelayanan mereka.

Sepenuhnya pilihan ada ditanganmu, sekarang – kamu mau menjadi pelayan atau pekerja bayaran. Jika kamu memilih menjadi pelayan, maka persiapkan dirimu untuk waktu-waktu yang penuh kerja keras di masa depan. Karena pelayanan menuntut pengorbanan. Pelayanan sinonim dengan pengorbanan. Hanya meluangkan sejumlah waktu dan energi untuk cita-cita ini mungkin tak bakal cukup. Kamu harus menyerahkan kepalamu untuk ini. Dan itulah Puncak Tindakan Pelayanan.

MENJADI BERANI VERSUS MELAWAN RASA TAKUT


Seorang teman kita, seorang “pakar” Zen, menasehati kawan lain untuk menaklukan rasa takutnya. Ia dengan bangganya berkata, “Aku menolak untuk diperbudak oleh rasa takut.”

Sekarang, “menolak” untuk diperbudak oleh rasa takut, tidak membebaskanmu dari rasa takut itu sendiri. Sebaliknya, penolakan semacam itu hanya membawamu pada sebuah pertempuran tiada akhir. Kamu menyatakan perang terhadap ketakutan. Dalam hal ini maka kamu akan menjadi amat keras, seperti batu. Kamu berjuang melawan ketakutan, dan sebaliknya ketakutanpun bereaksi terhadapmu. Ini perang yang tak berkesudahan, melelahkan. Tak akan ada yang mampu menang melawan ketakutan dengan cara semacam itu. Justru kamu akan kehilangan kemanusiaanmu, kerendahan hatimu, kelembutanmu dan segala sesuatu yang berharga dalam dirimu.

Kenapa bisa begitchu?
Karena, dengan menolak diperbudak oleh ketakutan, kamu sebenarnya mengakui kekuasaannya. Kamu sendiri yang menciptakan ketertindasan dan kamu sendiri pula yang menolaknya. Ini permainan pikiran semata. Dalam kenyataannya, kamu menciptakan konflik dalam pikiranmu sendiri. Kamu membangkitkan satu bagian dalam benakmu guna memerangi bagian yang lain. Ini langkah awal menuju kegilaan, schizophrenia. 

“Keahlian” nya dalam Zen telah mendaratkan dirinya dalam sebuah “abyss” ketersesatan-sungguh ironis! Dan, hal semacam ini telah berlangsung selama ribuan tahun bahkan lebih. Lihat saja yang terjadi di Jepang, negara yang selalu menghubungkan segala sesuatunya dengan Zen. Setelah 1000 tahun berlatih mempraktekkan Zen, negara ini menjadi begitu keras dan ganas bahkan hampir saja membinasakan seluruh dunia. Ia menjadi begitu ambisius, haus kekuasaan. Kenapa? 

Karna rasa takut.
Orang yang sungguh berani tak pernah menyerang orang lain. Ia akan selalu mencoba untuk tak bereaksi ataupun membalas, kecuali jika memang diperlukan. Jepang tak memiliki alasan yang masuk akal guna melibatkan dirinya dalam perang yang terjadi di Eropa. Tapi, ia tetap saja ngotot. Dan, ia melakukan ini karena ia merasa takut bahwa posisinya dalam kompetisi global guna meraup kekuasaan dan pengakuan akan tergusur. Ini terjadi karena ambisi dan kelaparan pada yang namanya kekuasaan.

Sayangnya kita tak mau belajar dari sejarah ini. Kita kerap membuat kesalahan yang sama, jatuh ke lubang yang sama.

Tapi, kita harus meninggalkan Jepang dan kekonyolannya dalam Perang Dunia II, dan teman kita – yang mengaku seorang “pakar” Zen. Ia adalah korban kesalahpemahaman definisi Zen sebagai “Jalan para Ksatria”. Pilihan phrase “Jalan para Ksatria” itu sendiripun sudah tak tepat, tak sesuai dengan makna yang hendak di sampaikan.
Bodhidarma, yang memperkenalkan Dhyaan, meditasi di China, menyebutnya Raja-Yoga. Ia menggunakan istilah umum yang berarti. Jalan para Raja. Atau lebih tepat diterjemahkan menjadi 
 “Jalan Kesetiaan”.

Dhyaan dalam bahasa China menjadi Chang, di Jepang disebut Zen…Dan Raja Yoga diterjemahkan menjadi Jalan para Ksatria. Seribu tahun lalu, Jepang dibagi menjadi “prefectures’ yang kecil-kecil – sebuah istilah yang menarik dan masih valid dan umum di Jepang hingga kini.

Prefectures bahkan bukan sebuah kerajaan kecil.
Mereka adalah distrik-distrik kecil ataupun besar, yang berkuasa bisa silih berganti sewaktu-waktu dalam hitungan bulan. Para Samurai yang haus kekuasaan dan ambisius selalu saling menggorok leher satu sama lain. Zen, sama sekali bukan seperti itu. Lantas, Para Master Zen pada saat itu berupaya mengubah para ksatria tadi dengan ajaran non-vilence, tanpa kekerasan. Mereka mencoba menjelaskan begini, “Hey…lihat, ini adalah Jalan kesetiaan, Jalan untuk menjadi Ksatria Sejati adalah saat kamu menguasai dirimu sendiri.”

Kemudian, ekspresi dan pemahaman mendalam semacam ini hanya menjadi bagian yang terlupakan dari Zen sendiri. Justru Archery, Kung Fu, dan pelbagai bentuk seni bela diri kini diajarkan atas nama Zen. Dan, Zen menjadi kehilangan esensinya, makna dan misi sejatinya.
Sayangnya, Zen yang tanpa makna ini sekarang populer diajarkan, dipelajari dan dipraktekkan hampir di seluruh dunia. Teman kita tadi adalah korban dari mal-praktek dalam proses pengajaran dan pembelajaran Zen. Akibatnya, ia menjadi begitu keras – jenis kekerasan yang kaku. Ia seolah menjadi pembawa nilai-nilai “positif” namun dengan cara yang “negatif”, ini merupakan negatifitas yang sama sekali tak bermanfaat bagi peradaban kita saat ini

Rasa takut tak perlu diperangi, dilawan.

Ini hanya perlu dipahami.

Dengan secara tepat memahaminya, kamu seketika itu juga mengatasi/melampauinya. Tak ada upaya yang harus dilakukan. Tak ada energi yang harus diboroskan untuk memeranginya. Tak ada setitikpun ruang dan waktupun untuk memeranginya.

Ketakutan exist karena kelemahan kita, karena kita merasa tidak mampu menghadapi situasi hidup tertentu. Satu-satunya solusinya adalah Pemberdayaan-Diri. Berdayakan Dirimu Sendiri!

Saat kamu tak mampu membereskan pekerjaanmu, kamu terus takut ketemu bossmu. Bagaimana mengatasi/melampaui ketakuatan semacam ini? yakni dengan mengembangkan keahlian yang dibutuhkan, dengan meningkatkan kemampuanmu, dengan Memberdayakan Dirimu.

Ini sama sekali tak tepat, melenceng dari Zen, jika kemudian kamu menemui bosmu dengan muka tegang, menantangnya dan berkata,”Ok, itulah aku. Aku tak tak mampu melakukan lebih dari itu. Dan kemudian, kamu memberi label pada kegilaan semacam itu sebagai “kejantanan”.

Tapi, itulah yang seseorang lakukan setelah berguru dengan “pakar” Zen kita. Hasilnya : kehilangan pekerjaan.

Ketakutan hanya bisa diatasi dengan memahami sebab awalnya, dan membuat perubahan/koreksi yang sesuai. Ketakutan adalah akibat. Akibat dari ketidakmampuan, kelemahan, dan di atas segalanya ketololan kita. Untuk mengatasi rasa takut, sederhana saja, kita harus membuat diri kita berdaya, kuat, dan cerdas. Kamu tak akan pernah bisa mengatasi rasa takut dengan memerangi atau menolaknya. Menolak rasa takut berarti menolak perubahan itu sendiri.

Jadilah berani, tapi jangan memerangi rasa takut….

Mengatasinya dengan pemahaman yang tepat tentang sebabnya. Jika kau tak tahu apa sebabnya maka kamu tak akan pernah bisa mengatasinya. Kamu akan tetap penakut selamanya, tak peduli berapa keras dan tegangnya wajahmu. Sebaliknya, kekerasan semacam ini akan membuatmu semakin takut, karena kamu kehilangan keluwesanmu, kemampuanmu beradaptasi dan mengikuti irama kehidupan. Dan, Hidup menjadi tiada bermakna bagi para penakut.

Sebuah pesan untuk kawan kita, yang mengaku Pakar Zen, “Lebih baik kamu mengurusi dirimu sendiri. Tak perlu menasehati orang lain dan sok-sok menjadi jagoan/juru selamat, karena kamu hanya akan membahayakan mereka.”