" Nrimo" dalam menjalaninya tidak semudah mengatakannya. Nrimo sering aku artikan sebagai kemampuan berserah pasrah pada Hyang Widi. namun kembali aku menelisik ditengah keramaian pasar dunia; apa sih nrimo ?" sepertinya kata ini mengandung suatu kekuatan magis yang sangat mudah diucapkan. Sering orang disekelilingku mengatakan bahwasanya manusia kudune nrimo; tapi atas dasar apa hal itu diucapkan ? Nrimo menjadi sangat seiring aku dengar disaat seseorang mengalami kesusahan, saat penderitaan tak habis-habis menghantuinya serta berbagai carapun telah dilakukan. bila hal tersebut dikatakan nrimo sungguhlah negatif arti nrimo karena hal ini membuat kita menjadi pasif- bukankah nrimo itu sebuah kesabaran? apabila nrimo menjadi kesabaran, maka yang ditunjukkan pada saat aku mampu menahan apa yang menjadi ketidak cocokanku, baik ketidak cocokan pada nasib-pada kebutuhan dan segalanya.
Nrimo menjadi suatu hal yang sungguh sulit untuk didiskripsikan-dibentuk dan hanya mampu dijalankan; entah menjalani dengan baik dan benar ataukah dengan baik dan salah. Nrimo sebagai suatu batas akhir manusia hidup, dan disini keterkaitan dengan laku dan langkah sangat erat; Nrimo bukan suatu konsep; bukan kondisi diam dan berserah. nrimo adalah suatu tantangan dalam menjalani keidupan yangsesungguhnya; nrimo lahir dari setiap langkah yang aku lakukan-nrimo menjadi barometer atas setiap petunjuk yang aku dapatkan. dan memang untuk saat ini semua sulit untuk di berikan diskripsi yang jelas. Tapi nrimo adalah bentuk aktual dari Krya Yoga, dia ada dan berada di dalam Krya Yoga, menghasilkan berbagai pemaknaan hidup dalam koridor Ikhlas Ing Pandum.Nrimo menghidupkan setiap langkah manusia dan dapat ku rasakan pada langkah yang semakin berat nrimo dapat meringankannya; dan aku ikhlas dalam melangkah menjadikan Nrimo sebagai wujud nyata.
; bersambung.. tj
Senin, 28 Mei 2012
Sabtu, 22 Oktober 2011
PELAYANAN TAK DI MULAI DI RUMAH
Karena, apa yang kita lakukan untuk keluarga kita, rumah kita – tak
bisa disebut pelayanan. Ini adalah kewajiban kita, tanggungjawab kita.
Dan, sehingga, pelayanan tak di mulai di rumah. Pelayanan harus di mulai
di luar rumah kita. Pelayanan lahir dari rasa welas asih pada mereka
yang jauh dari kita, yang merupakan orang asing, yang tak kita kenal
secara personal….Tapi, yang sedang menderita, yang tengah membutuhkan
pelayanan kita.’
Dengan melayani keluarga kita sendiri, kita tak membuktikan apapun.
Kita justru mengingkari ikatan yang kita ciptakan sendiri. Apa yang
kulakukan untuk mereka adalah bagian dari tugas keluarga – tak lebih
dari itu. Dan, akan tiba saatnya kewajiban semacam itu berakhir.
Misalnya saat kamu tak harus lagi membiayai kehidupan anak-anakmu.
Kewajiban pasti berakhir, Pelayanan tak bernah berakhir.
Pelayanan adalah sejenis Persembahan Kasih yang dilakukan tanpa beban
apapun. Saat kamu tak harus melakukan sesuatu, tapi kamu tetap memilih
melakukannya – maka, kamu menjadi Pelayan.
Sebuah sistem kepercayaan yang memaksamu melakukan pelayanan,
sejatinya justru kehilangan rasa pelayanan itu sendiri. Sesungguhnya tak
ada satu sistempun yang bisa melahirkan hati yang penuh pelayanan.
Pemilik hati yang penuh kasih tak butuh iming-iming untuk melakukan
tindak pelayanan. Ia tak butuh kapling di surga yang nyaman setelah
kematian. Ia tak butuh motivasi apapun, segala motif luaran, untuk
melakukan pelayanan.
Jika kamu merasa iba pada penderitaan rakyat Lebanon hanya karena
mereka pemeluk agama yang sama denganmu – maka kamu tak layak disebut
pelayan. Kamu harus merasakan bahwa penderitaan mereka karena memang
mereka sungguh menderita. Dan, ini sangat tidak manusiawi membuat orang
lain menderita. Di balik penderitaan rakyat Lebanon, bukan hanya Israel
yang bersalah. Kelompok Hisbullah juga sama salahnya. Mereka seperti
negara dalam negara. Dan, oleh karena itulah, Negara Lebanon bersalah
pula. Bagaimana bisa mereka membiarkan tumor ganas organisasi militan
semacam itu eksis di tubuh negara mereka?
Jika kamu mendukung agresi Israel hanya kerena kamu terlahir sebagai
seorang Yahudi, maka kamu menjadi agresif pula. Lantas, kamu juga
bersalah karena tindak kriminal dan kekerasan semacam ini. Apakah kamu
tak pernah berfikir bahwa kamu bukanlah pelayan dengan mendukung agresi
semacam itu?
Pelayanan tak bisa dilakukan dengan hanya mendukung sebuah ideoloi saja.
Pelayanan harus dilakukan untuk mendukung nilai-nilai universal.
Pelayanan macam apa yang terkandung dalam sebuah agresi?
Seorang pengacara atau tim pengacara yang membela teroris juga tak
layak disebut pelayan, walau mereka mengkalim demikian. Mereka mengkalim
bahwa mereka tak mendapat bayaran dari para teroris tersebut. Itu
membuat mereka tak lebih baik dari para teroris itu sendiri. Mereka
berjuang untuk sebuah ideologi kekerasan, sebuah ideologi yang tak bisa
disebut pelayanan. Kebajikan macam apa yang dilakukan dengan membunuh
orang-orang yang tak bersalah, mengebom area publik dan merusak citra
negara sendiri?
Sebuah kebajikan selalu membawa kebahagiaan bagi banyak orang, bagi
sebanyak mungkin orang, ya sebanyak mungkin. Dan, orang yang penuh
pelayanan ialah ia yang terlibat dalam hal semacam ini.
Orang yang penuh pelayanan, seseorang yang hatinya penuh kasih, tak
bisa dibatasi dengan empat tembok dalam rumahnya sendiri. Orang semacam
ini selalu mencoba keluar dari dalam rumahnya, untuk membebaskan dirinya
dari segala kewajiban, sehingga mereka bisa melayani semua.
Dengan mengatakan ini, tentu saja aku tak bermaksud bahwa mereka
harus melarikan diri dari tanggungjawab. Tidak. Justru mereka bekerja
super keras untuk memenuhi segala kebutuhan mereka, menyelesaikan
tanggungjawab atas keluarganya – sehingga dapat melakukan hal lain.
Sehingga mereka dapat bergerak dan bertindak demi nilai-nilai yang lebih
tinggi.
Donasi, cara ini, adalah hanya satu aspek dari pelayanan. Ini sama
sekali bukan aspek satu-satunya. Dalam realitasnya kamu tak dapat
mendonasikan apapun tanpa rasa pelayanan. Saat kamu mendonasikan secara
tak ikhlas, kamu tak bisa di sebut pelayan. Ini juga tak bisa di sebut
pelayanan saat kamu membagi unag supaya mendukung partai tertentu yang
memiliki agenda terselubung dalam pemilu. Setiap donasi yang diberikan,
setiap tindakan pelayanan yang dilakukan, segala sesuatu yang
dilaksanakan dengan ekspetasi tertentu – tak bisa disebut sebagai
pelayanan.
Pelayanan dilakukan tanpa mempedulikan hasil.
Pelayanan dilakukan semata karena kamu penuh kasih. Ini adalah bagian dari fitrahmu. Segala sesuatu yang tak alamiah – bukanlah pelayanan.
Pelayanan dilakukan semata karena kamu penuh kasih. Ini adalah bagian dari fitrahmu. Segala sesuatu yang tak alamiah – bukanlah pelayanan.
Belajarlan menjadi pelayan dari alam sekitarmu.
Matahari memberimu cahaya tanpa ekspektasi apapun. Bulan bersinar tanpa berharap balasan. Angin berhembus karena memang berhembus adalah perannya dalam alam ini. Air mengalir atas iramanya sendiri. Dan, kita menerima rahmah, manfaat dari mereka semua. Kita mengambil manfaat dari mereka karena semata menjalankan peran dalam alam ini. Mereka tak menginginkan hal yang lain.
Matahari memberimu cahaya tanpa ekspektasi apapun. Bulan bersinar tanpa berharap balasan. Angin berhembus karena memang berhembus adalah perannya dalam alam ini. Air mengalir atas iramanya sendiri. Dan, kita menerima rahmah, manfaat dari mereka semua. Kita mengambil manfaat dari mereka karena semata menjalankan peran dalam alam ini. Mereka tak menginginkan hal yang lain.
Dengan menjadi pelayan, kita menjadi diri kita sendiri.
Dengan menjadi arogan dan tak melayani, kita melawan takdir kita sendiri. Sebagai akibatnya kita menciptakan masalah bagi diri kita sendiri.
Dengan menjadi arogan dan tak melayani, kita melawan takdir kita sendiri. Sebagai akibatnya kita menciptakan masalah bagi diri kita sendiri.
Dengan menjadi pelayan, kita tak melakukan apapun demi kebaikan orang lain.
Sesungguhnya, sebuah tindakan pelayanan bermanfaat bagi diri kita sendiri – karena ia menghubungkan kita dengan takdir kita! Jadilah seorang pelayan, sehingga, ini demi kebaikan diri kita sendiri.
Sesungguhnya, sebuah tindakan pelayanan bermanfaat bagi diri kita sendiri – karena ia menghubungkan kita dengan takdir kita! Jadilah seorang pelayan, sehingga, ini demi kebaikan diri kita sendiri.
Keluar, tinggalkan cangkangmu, dan terjunlah ditengah-tengah mereka
yang miskin, rapuh, tak berdaya…Rasakan penderitaan mereka, rasa lapar
dan kehauasan mereka….rasakan itu semua sampai air mata menetes dari
kelopak matamu dan hatimu berdarah…Dan, kamu akan secara otomatis sekali
bergerak untuk melayani mereka. Pelayanan macam ini menjangkau mereka
yang paling diabaikan, menurut pendapatku, ini adalah pelayanan yang
sesungguhnya.
Kamu tak harus menunggu pers datang dan meliput aksi pelayananmu ini.
Pelayanan tak ada kaitannya dengan liputan media. Hari ini koran masih
berharga untuk dibaca besok hanya menjadi limbah kertas saja. Jadi,
jangan terlalu menghiraukan liputan media!
Jangan kamu bertindak seperti para politisi malang dan partai politik
yang menghamburkan uang untuk iklan dan kampanye tentang pelayanan
ketimbang melakukan tindakan pelayanan itu sendiri!
Hal lain yang amat penting. : Menjadi pelayan berarti juga menjadi
amat cerdas. Pelayanan adalah sebuah tindakan yang berasal dari pikiran
yang tajam. Otak yang tumpul hanya bisa mendonor uang dan mereka tak
bisa melayani. Dan kita, kita telah melihat perbedaan antara keduanya.
Orang yang tumpul pemahamannya tak bisa melakukan pelayanan – paling
banter mereka bisa membantu. Dan, hal ini menggelembungkan ego mereka.
Bantuan semacam ini tak meningkatkan kesadaran mereka sama sekali.
Beberapa waktu lalu ketika rangkaian gempa bumi meluluh–lantakkan
kota Jogjakarta, banyak orang, organisasi, bahkan pejabat datang untuk
membantu. Saat ini mereka tak begitu lagi membutuhkan pangan, obat dan
pakaian. Teman kita yang mengikuti perkembangan situasi ini dari dekat
dan intens memutuskan untuk melayani dalam satu hal yang amat spesifik
yang tak seorangpun sama sekali memikirkannya, yakni membantu mereka
mengatasi stres dan trauma. Untuk mengangkat kembali semangat mereka dan
energi kehidupan sehingga mereka dapat kembali bekerja tak hanya
mengantri di depan dapur umum gratisan yang banyak tersebar di daerah
tersebut. Mereka berhasil, dan Pemerintah daerah mengetahui hal ini dan
mengunjungi posko mereka, bahkan bernyanyi dengan mereka. Ini adalah
cara yang cerdas untuk melakukan pelayanan. Ini menjadi sebuah pelayanan
dalam arti yang sesungguhnya.
Curahkan waktumu; berikan energimu. Pada hal yang penting. Banyak
orang bisa memberi uang, tapi hanya sedikit yang benar-benar bisa
memberikan waktu dan energinya. Jangan kamu menjadi bagian dari banyak
sukarelawan yang sering kamu lihat, tak satupun dari mereka yang
benar-benar sukarelawan. Sebagian besar dari mereka dibayar, entah oleh
pemerintah atau oleh institusi yang mereka wakili. Banyak dari mereka
yang disewa oleh apa yang di sebut LSM, mereka menuntut bayaran lebih
banyak ketimbang gajimu dan gajiku. Mereka adalah pekerja biasa, mereka
bekerja untuk hidup. Mereka mendapat bayaran untuk pekerjaan mereka. Dan
tak pantas disebut pelayan.
Aku tak mengatakan bahwa mereka tak dibutuhkan. Mereka dibutuhkan
juga. Tapi mereka bukanlah sukarelawan dalam arti kata yang sebenarnya.
Mereka pekerja bayaran. Mungkin instrtusi yang mereka wakili menyebut
sebagai pelayan. “Mungkin”, karena walau tetap ada pengecualian. Banyak
institusi yang memiliki agenda terselubung yakni mempromosikan ideologi
tertentu lewat karya pelayanan mereka.
Sepenuhnya pilihan ada ditanganmu, sekarang – kamu mau menjadi
pelayan atau pekerja bayaran. Jika kamu memilih menjadi pelayan, maka
persiapkan dirimu untuk waktu-waktu yang penuh kerja keras di masa
depan. Karena pelayanan menuntut pengorbanan. Pelayanan sinonim dengan
pengorbanan. Hanya meluangkan sejumlah waktu dan energi untuk cita-cita
ini mungkin tak bakal cukup. Kamu harus menyerahkan kepalamu untuk ini.
Dan itulah Puncak Tindakan Pelayanan.
MENJADI BERANI VERSUS MELAWAN RASA TAKUT
Seorang teman kita, seorang “pakar” Zen, menasehati kawan lain untuk
menaklukan rasa takutnya. Ia dengan bangganya berkata, “Aku menolak
untuk diperbudak oleh rasa takut.”
Sekarang, “menolak” untuk diperbudak oleh rasa takut, tidak
membebaskanmu dari rasa takut itu sendiri. Sebaliknya, penolakan semacam
itu hanya membawamu pada sebuah pertempuran tiada akhir. Kamu
menyatakan perang terhadap ketakutan. Dalam hal ini maka kamu akan
menjadi amat keras, seperti batu. Kamu berjuang melawan ketakutan, dan
sebaliknya ketakutanpun bereaksi terhadapmu. Ini perang yang tak
berkesudahan, melelahkan. Tak akan ada yang mampu menang melawan
ketakutan dengan cara semacam itu. Justru kamu akan kehilangan
kemanusiaanmu, kerendahan hatimu, kelembutanmu dan segala sesuatu yang
berharga dalam dirimu.
Karena, dengan menolak diperbudak oleh ketakutan, kamu sebenarnya
mengakui kekuasaannya. Kamu sendiri yang menciptakan ketertindasan dan
kamu sendiri pula yang menolaknya. Ini permainan pikiran semata. Dalam
kenyataannya, kamu menciptakan konflik dalam pikiranmu sendiri. Kamu
membangkitkan satu bagian dalam benakmu guna memerangi bagian yang lain.
Ini langkah awal menuju kegilaan, schizophrenia.
“Keahlian” nya dalam Zen telah mendaratkan dirinya dalam sebuah
“abyss” ketersesatan-sungguh ironis! Dan, hal semacam ini telah
berlangsung selama ribuan tahun bahkan lebih. Lihat saja yang terjadi di
Jepang, negara yang selalu menghubungkan segala sesuatunya dengan Zen.
Setelah 1000 tahun berlatih mempraktekkan Zen, negara ini menjadi begitu
keras dan ganas bahkan hampir saja membinasakan seluruh dunia. Ia menjadi begitu ambisius, haus kekuasaan. Kenapa?
Karna rasa takut.
Orang yang sungguh berani tak pernah menyerang orang lain. Ia akan
selalu mencoba untuk tak bereaksi ataupun membalas, kecuali jika memang
diperlukan. Jepang tak memiliki alasan yang masuk akal guna melibatkan
dirinya dalam perang yang terjadi di Eropa. Tapi, ia tetap saja ngotot.
Dan, ia melakukan ini karena ia merasa takut bahwa posisinya dalam
kompetisi global guna meraup kekuasaan dan pengakuan akan tergusur. Ini
terjadi karena ambisi dan kelaparan pada yang namanya kekuasaan.
Sayangnya kita tak mau belajar dari sejarah ini. Kita kerap membuat kesalahan yang sama, jatuh ke lubang yang sama.
Tapi, kita harus meninggalkan Jepang dan kekonyolannya dalam Perang
Dunia II, dan teman kita – yang mengaku seorang “pakar” Zen. Ia adalah
korban kesalahpemahaman definisi Zen sebagai “Jalan para Ksatria”.
Pilihan phrase “Jalan para Ksatria” itu sendiripun sudah tak tepat, tak
sesuai dengan makna yang hendak di sampaikan.
Bodhidarma,
yang memperkenalkan Dhyaan, meditasi di China, menyebutnya Raja-Yoga.
Ia menggunakan istilah umum yang berarti. Jalan para Raja. Atau lebih
tepat diterjemahkan menjadi
“Jalan Kesetiaan”.
Dhyaan dalam bahasa China menjadi Chang, di Jepang disebut Zen…Dan
Raja Yoga diterjemahkan menjadi Jalan para Ksatria. Seribu tahun lalu,
Jepang dibagi menjadi “prefectures’ yang kecil-kecil – sebuah istilah
yang menarik dan masih valid dan umum di Jepang hingga kini.
Prefectures bahkan bukan sebuah kerajaan kecil.
Mereka adalah distrik-distrik kecil ataupun besar, yang berkuasa bisa
silih berganti sewaktu-waktu dalam hitungan bulan. Para Samurai yang
haus kekuasaan dan ambisius selalu saling menggorok leher satu sama
lain. Zen, sama sekali bukan seperti itu. Lantas, Para Master Zen pada saat itu berupaya mengubah para ksatria
tadi dengan ajaran non-vilence, tanpa kekerasan. Mereka mencoba
menjelaskan begini, “Hey…lihat, ini adalah Jalan kesetiaan, Jalan untuk
menjadi Ksatria Sejati adalah saat kamu menguasai dirimu sendiri.”
Kemudian, ekspresi dan pemahaman mendalam semacam ini hanya menjadi
bagian yang terlupakan dari Zen sendiri. Justru Archery, Kung Fu, dan
pelbagai bentuk seni bela diri kini diajarkan atas nama Zen. Dan, Zen
menjadi kehilangan esensinya, makna dan misi sejatinya.
Sayangnya, Zen yang tanpa makna ini sekarang populer diajarkan,
dipelajari dan dipraktekkan hampir di seluruh dunia. Teman kita tadi
adalah korban dari mal-praktek dalam proses pengajaran dan pembelajaran
Zen. Akibatnya, ia menjadi begitu keras – jenis kekerasan yang kaku. Ia
seolah menjadi pembawa nilai-nilai “positif” namun dengan cara yang
“negatif”, ini merupakan negatifitas yang sama sekali tak bermanfaat
bagi peradaban kita saat ini
Rasa takut tak perlu diperangi, dilawan.
Ini hanya perlu dipahami.
Dengan secara tepat memahaminya, kamu seketika itu juga
mengatasi/melampauinya. Tak ada upaya yang harus dilakukan. Tak ada
energi yang harus diboroskan untuk memeranginya. Tak ada setitikpun
ruang dan waktupun untuk memeranginya.
Ketakutan exist karena kelemahan kita, karena kita merasa tidak mampu
menghadapi situasi hidup tertentu. Satu-satunya solusinya adalah
Pemberdayaan-Diri. Berdayakan Dirimu Sendiri!
Saat kamu tak mampu membereskan pekerjaanmu, kamu terus takut ketemu
bossmu. Bagaimana mengatasi/melampaui ketakuatan semacam ini? yakni
dengan mengembangkan keahlian yang dibutuhkan, dengan meningkatkan
kemampuanmu, dengan Memberdayakan Dirimu.
Ini sama sekali tak tepat, melenceng dari Zen, jika kemudian kamu
menemui bosmu dengan muka tegang, menantangnya dan berkata,”Ok, itulah
aku. Aku tak tak mampu melakukan lebih dari itu. Dan kemudian, kamu
memberi label pada kegilaan semacam itu sebagai “kejantanan”.
Tapi, itulah yang seseorang lakukan setelah berguru dengan “pakar” Zen kita. Hasilnya : kehilangan pekerjaan.
Ketakutan hanya bisa diatasi dengan memahami sebab awalnya, dan
membuat perubahan/koreksi yang sesuai. Ketakutan adalah akibat. Akibat
dari ketidakmampuan, kelemahan, dan di atas segalanya ketololan kita.
Untuk mengatasi rasa takut, sederhana saja, kita harus membuat diri kita
berdaya, kuat, dan cerdas. Kamu tak akan pernah bisa mengatasi rasa
takut dengan memerangi atau menolaknya. Menolak rasa takut berarti
menolak perubahan itu sendiri.
Jadilah berani, tapi jangan memerangi rasa takut….
Mengatasinya dengan pemahaman yang tepat tentang sebabnya. Jika kau
tak tahu apa sebabnya maka kamu tak akan pernah bisa mengatasinya. Kamu
akan tetap penakut selamanya, tak peduli berapa keras dan tegangnya
wajahmu. Sebaliknya, kekerasan semacam ini akan membuatmu semakin takut,
karena kamu kehilangan keluwesanmu, kemampuanmu beradaptasi dan
mengikuti irama kehidupan. Dan, Hidup menjadi tiada bermakna bagi para
penakut.
Sebuah pesan untuk kawan kita, yang mengaku Pakar Zen, “Lebih baik
kamu mengurusi dirimu sendiri. Tak perlu menasehati orang lain dan
sok-sok menjadi jagoan/juru selamat, karena kamu hanya akan membahayakan
mereka.”
JIWA, RAGA, SUKMA, NYAWA
Sejenak kita akan membahas (lagi) ilmu tentang jiwa, tetapi mungkin para pembaca yang budiman masih bertanya tanya apa perbedaan antara jiwa, jasad, dan sukma. Sebelum saya menjabarkan ketiganya, kiranya perlu saya tampilkan beberapa cuplikan pemahaman orang lain tentang jiwa sebagai upaya mencari komparasi dan menambah khasanah ilmu kejiwaan.
KERANCUAN MEMAKNAI JIWA, SUKMA, NYAWA, PSIKHIS
JIWA, di dalam Oxford Dictionary tertulis soul (roh), mind dan spirit. Sementara dalam bahasa Indonesia cukup dengan padanan yaitu jiwa. Yunani PsychĂȘ yang berarti jiwa dan logos yang berarti nalar, logika atau ilmu. Tubuh adalah bagian yang fenomenal, dapat ditangkap oleh pancaindera dan bersifat fana sedangkan jiwa menurut Plato (500 SM) merupakan bagian yang memiliki substansi tersendiri (terpisah dari jasad) dan bersifat abadi. Plato berargumen, bahwa jiwa menempati tempat yang lebih tinggi daripada tubuh, lebih jauh ia mengatakan bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa karena tubuh menghambat kebebasan jiwa. Bagi seorang murid Plato, yakni Aristoteles (400 SM), semua yang hidup mempunyai jiwa seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan tentu saja manusia. Bagi Plato jika seseorang mati, maka jiwanya akan tetap ada dan kembali kedunia Idea di mana di sana terdapat segala hal yang ideal (sempurna) untuk kemudian jiwa akan mereinkarnasi diri dan menubuh kembali pada saatnya. Di sisi lain Aristoteles muridnya, memiliki pandangan berbeda, ia tidak setuju keduaan ala gurunya. Bagi Aristoteles tubuh dan jiwa itu bukan keduaan melainkan kesatuan. Olehkarenanya jika seseorang mati, maka konsekuensinya jiwapun turut mati bersama tubuh. Mana yang benar, Plato atau Aristoteles ? Saya kira kedua-duanya konsep Plato dan Aristoteles tetap mengandung kelemahan-kelemahan. Bahkan jika ditelaah lebih dalam, banyak ilmuwan kesulitan memetakan letak di mana jiwa (nafs, hawa, nafas, soul), roh (spirit) dan raga (body). Hal ini bukan berarti para filsuf pendahulu kita gegabah dalam memaknai tentang jiwa. Dapat dimaklumi sebab mempelajari tentang seluk beluk kejiwaan kita, musti menggunakan jiwa kita sendiri. Golek latu adadamar, atau mencari bara api dengan menggunakan obor sebagai penerang jalan. Sangatlah bisa dimaklumi sebab pembahasan jiwa sudah bersinggungan dengan ranah gaib yang tak tampak oleh mata wadag.
JIWA MENURUT KI AGENG SURYO MENTARAM
Sejenak para pembaca yang budiman saya ajak mampir ke padepokan seorang filsuf Jawa dan kondang sebagai seorang yang linuwih dan sakti mandraguna. Beliau adalah Ki Ageng Suryo Mentaram (kebetulan dulu tinggalnya di belakang rumah kami). Ki Ageng Suryo Mentaram membahas ilmu jiwa yang dikemukakan seorang filsuf Jawa sekaligus penghayat kejawen yang pada waktu hidupnya beliau terkenal sebagai seseorang yang memiliki ilmu linuwih dan sakti mandraguna.Baca selanjutnya !
Ilmu jiwa sebagaimana diungkapkan Ki Ageng Suryo Mentaram dikenal dengan dua macam jiwa. Yakni jiwa KRAMADANGSA, dan jiwa BUKAN KRAMADANGSA. Apa yang disinyalir sebagai jiwa kramadangsa adalah jiwa yang tidak abadi disebut pula sebagai rasa “Aku Kramadangsa”. Aku kramadangsa termasuk di dalamnya adalah “rasa nama” atau ke-aku-an, misalnya aku bernama Siti Ba’ilah. Aku adalah seorang musafir, aku seorang satrio piningit, aku adalah seorang kaya raya. Ki Ageng Suryo Mentaram mensinyalir adanya “rasa jiwa” yang bersifat abadi. Dimaknai sebagai Aku bukan kramadangsa. Menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, rasa aku kramadangsa adalah ke-aku-an (naari atau “unsur api”) yakni aku yang masih terlena, terlelap dalam berbagai rasa aku yang terdapat di dalam lautan kramadangsa. Sebaliknya aku bukan kramadangsa adalah aku yang telah otonom yang sudah memiliki KESADARAN memilih mana yang BENAR dan mana yang SALAH sehingga ia dapat dinamai “Aku kang jumeneng pribadi”.
Menurut Ki Ageng Suryomentaram alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga bagian yakni pancaindera, rasa hati dan pengertian. Pertama, pancaindera, seperti yang telah kita ketahui yaitu alat penglihatan (mata), alat pendengaran (telinga), alat penciuman (hidung), alat pencecap (lidah) dan alat peraba (kulit, misalnya: jari- jari tangan merasa panas kena api, kulit merasa gatal terkena bulu ulat, dll). Kedua, rasa hati, adalah suatu kesadaran diri tentang keberadaan aku di mana aku dapat merasa senang, susah dan lain-lain. Ketiga, adalah pengertian, kegunaan pengertian dapat menentukan tentang hal-hal yang berasal dari pancaindera dan juga dari rasa hati. Pengertian di sebut pula sebagai persepsi, yang pada gilirannya akan menentukan mind-set atau pola pikir. Dengan demikian alat pengertian ini dapat dikatakan sebagai alat yang tertinggi tingkatan otonominya bagi manusia karena ia sudah melampaui pengetahuan yang didapat dari alat pertama dan kedua. Ia sudah merupakan suatu refleksi kritis, kontemplasi, endapan yang didapat dengan cara menyeleksi hal-hal yang tidak diperlukan kemudian hanya memilih yang berguna atau bermanfaat saja. Sedangkan alat di luar ketiga tersebut tak diketahui karena di dalamnya terdapat banyak hal yang masih mysteré sulit terjangkau oleh kemampuan alat manusia.
JIWA YANG MERDEKA (KAREPING RAHSA)
Jiwa adalah nafas, nafs, hawa atau nafsu. Jiwa yang telah merdeka barangkali artinya sepadan dengan apa yang dimaksud jiwa yang mutmainah (an-nafsul mutmainah). Rasanya sepadan dengan apa yang dimaksud dalam konsep Ki Ageng Suryo Mentaram sebagai aku bukan kramadangsa. Aku bukan kramadangsa selanjutnya saya lebih suka menyebutnya sebagai JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA, lebih mudah dipahami bila saya analogikan sebagai JIWA yang TUNDUK KEPADA SUKMA SEJATI. Sebaliknya apa yang disebut sebagai jiwa kramadangsa, aku kramadangsa, tidak lain adalah jiwa yang NURUTI RAHSANING KAREP. Lebih tegas lagi saya sebut sebagai JIWA yang DITAKLUKKAN OLEH JASAD.
Barangkali perlu dipahami bahwa jiwa kramadangsa (rasa nama) kesadarannya lebih dari jiwa yang berhasil diidentifikasi oleh Aristoteles sebagai jiwa yang ikut mati. Saya kira Aristoteles hanya menangkap jiwa-jiwa sebagaimana jiwa binatang dan tumbuhan yang ikut mati. Dan Sementara itu jiwa kramadangsa di sini adalah jiwa dengan kesadaran rendah, yang dimiliki manusia. Jiwa kramadangsa hanya terdiri dari kumpulan seluruh catatatan di dalam memori jasad manusia yang berisi semua tentang dirinya dan semua yang pernah dialaminya. Tidak seluruh memori itu bersifat abadi karena banyak catatan-catatan in memorial dapat terlupakan bahkan lenyap bersama jasad yang mati. Berbeda dengan “aku bukan kramadangsa”, berarti yang dimaksudkan adalah “aku yang dapat mengatasi kramadangsa” karena itu “aku” adalah aku yang dapat mengatur dengan baik kramadangsa-ku.
JIWA, ROH, JASAD
Tulisan saya di sini mencoba untuk membantu menjabarkan apa sejatinya di antara ke tiga unsur inti manusia yakni jiwa, roh dan jasad. Tentu kami yang miskin referensi buku hanya bisa menyampaikan berdasarkan pengalaman pribadi sebagai data mentah untuk kemudian saya rangkum kembali dalam bentuk kesimpulan sejauh yang bisa diketahui. Pengalaman demi pengalaman batin, memang bersifat subyektif, artinya tak mudah dibuktikann secara obyektif oleh banyak orang, namun saya yakin banyak di antara para pembaca pernah merasakan, paling tidak dapat meraba apa sesungguhnya hubungan di antara jiwa, roh, dan jasad. Walaupun jiwa dan roh berkaitan dengan gaib, namun bukankah entitas gaib itu berada dalam diri kita. Diri yang terdiri dari unsur gaib dan unsur wadag (fisik), tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa merasakan dan menyaksikan “obyektivitas” kegaiban. Mencegah diri kita dari unsur dan wahana yang gaib sama saja artinya kita mengalienasi (mengasingkan) dan membatasi diri kita dari “diri sejati” yang sungguh dekat dan melekat di dalam badan raga kita.
Sukma-Raga
Hubungan antara roh/sukma dengan raga bagaikan rangkaian perangkat internet. Sukma atau roh dapat diumpamakan IP atau internet protocol, yang mengirimkan fakta-fakta dan data-data “gaib” dalam bentuk “bahasa mesin” yang akan diterima oleh perangkat keras atau hardware. Adapun hardware di sini berupa otak (brain) kanan dan otak kiri manusia. Sedangkan tubuh manusia secara keseluruhan dapat diumpamakan sebagai seperangkat alat elektronik bernama PC atau personal komputer, note book, laptop dst yang terdiri dari rangkaian beberapa hardware. Hardware otak tak akan bisa beroperasional dengan sendirinya menerima fakta dan data gaib yang dikirim oleh sukma. Hardware otak terlebih dulu harus diisi (instalation) dengan perangkat lunak atau sofware berupa “program” yang bernama spiritual mind atau pemikiran tentang ketuhanan, atau pemikiran tentang yang gaib.
Sukma-Jiwa
Namun demikian, hardware otak tidak akan mampu memahami fakta-fakta gaib tanpa adanya jembatan penghubung bernama jiwa. Jiwa merupakan jembatan penghubung antara sukma dengan raga. Aktivitas sukma antara lain mengirimkan bahasa universal kepada raga. Bahasa universal tersebut dapat berupa sinyal-sinyal gaib, pralampita, perlambang, simbol-simbol, dalam hal ini saya umpamakan layaknya bahasa mesin, di mana jiwa harus menterjemahkannya ke dalam berbagai bahasa verbal agar mudah dimengerti oleh otak manusia. Tugas jiwa tak ubahnya modem untuk menterjemahkan “bahasa mesin” atau bahasa universal yang dimiliki oleh sukma menjadi bahasa verbal manusia.
Namun demikian, masing-masing jiwa memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menterjemahkan bahasa universal atau sinyal yang dikirim oleh sukma kepada raga, tergantung program atau perangkat lunak (software) jenis apa yang diinstal di dalamnya. Misalnya kita memiliki program canggih bernama Java script, yang bisa merubah bahasa mesin ke dalam bentuk huruf latin atau bahasa verbal, dan bisa dibaca oleh mata wadag.
Jiwa-Raga
Setelah jiwa berhasil menterjemahkan “bahasa mesin”, atau bahasa universal sukma ke dalam bahasa verbal, selanjutnya menjadi tugas otak bagian kanan manusia untuk mengolah dan menilainya melalui spiritual mind atau pemikiran spiritual. Semakin besar kapasitas random acces memory (RAM) yang dimiliki otak bagian kanan, seseorang akan lebih mampu memahami “kabar dari langit” yang dibawa oleh sukma, dan diterjemahkan oleh jiwa. Itulah alasan perlunya kita meng upgrade kapasitas “RAM” otak bagian kanan kita agar supaya lebih mudah memahami fakta gaib secara logic. Sebab sejauh yang bisa saya saksikan, kenyataan gaib itu tak ada yang tidak masuk akal. Jika dirasakan ada yang tak masuk akal, letak “kesalahan” bukan pada kenyataan gaibnya, tetapi karena otak kita belum cukup menerima informasi dan “data-data gaib”. Dimensi gaib memiliki rumus-rumus, dan hukum yang jauh lebih luas daan rumit daripada rumus-rumus yang ada di dalam dimensi wadag bumi. Contoh yang paling mudah, misalnya segala sesuatu yang ada di dalam dimensi wadag bumi, mengalami rumus atau prinsip terjadi kerusakan (mercapadha). Merca berarti panas atau rusak, padha adalah papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat di mana segala sesuatunya pasti akan mengalami kerusakan. Sementara itu di dalam dimensi gaib, rumus kerusakan tak berlaku. Sehingga disebutnya sebagai dimensi keabadian, atau alam kehidupan sejati, alam kelanggengan, papan kang langgeng tan owah gingsir. Sekalipun organ tubuh manusia, apabila dibawa ke dalam dimensi kelanggengan, pastilah tak akan rusak atau busuk sebagaimana pernah saya ungkapkan dalam kisah terdahulu, silahkan para pembaca yang budiman membuka posting berjudul KUNCI MERUBAH KODRAT. Sebaliknya, sukma yang hadir ke dalam dimensi bumi, pastilah terkena rumus atau prinsip mercapadha, yakni mengalami rasa cape, sakit, rasa lapar, ingin menikmati makanan dan minuman yang ia sukai sewaktu tinggal di dimensi bumi bersama raga. Hanya saja, sukmanya merupakan unsur gaib, maka tak akan terkena rumus atau prinsip mengalami kematian sebagaimana raga.
RUMUS-RUMUS KEHIDUPAN WADAG DAN GAIB
Jiwa yang terlahir ke dalam jasad manusia merupakan software yang merdeka dan bebas menentukan pilihan. Apakah akan menjadi jiwa yang mempunyai prinsip keseimbangan, yakni seimbang berdiri di antara sukma dan raga, menjadi pribadi yang seimbang lahir dan batinnya. Ataukah akan menjadi jiwa yang berat sebelah, yakni tunduk kepada sukma, ataukah jiwa yang menghamba kepada raga saja. Untuk menjadi pribadi yang dapat meraih keseimbangan lahir dan batin, jiwanya harus memperhatikan dan menghayati apa saran sang sukma (nuruti kareping rahsa). Tak perlu meragukan kemampuan sang sukma sebab ia tak akan salah jalan dalam menuntun seseorang menggapai keseimbangan lahir dan batin. Pribadi yang seimbang lahir dan batinnya akan mudah menggapai kemuliaan hidup di dunia dan kehidupan sejati setelah raganya ajal. Sementara itu bagi jiwa yang mau diperbudak oleh raga berarti menjadi pribadi yang hidup dalam penguasaan lymbic section, atau insting dasar hewani, selalu mengumbar hawa nafsu (nuruti rahsaning karep). Tentu saja kehidupannya akan jauh dari kemuliaan sejak hidup di mercapadha maupun kelak dalam kehidupan sejati.
Sebaliknya, bagi jiwa yang terlalu condong kepada sukma, ia akan menjadi pribadi yang fatalis, tak ada lagi kemauan, inisiatif, dan semangat menjalani kehidupan di dimensi wadag planet bumi ini. Seseorang akan terjebak ke dalam pola hidup yang mengabaikan kehidupan duniawi. Hal ini sangatlah timpang, sebab kehidupan duniawi ini akan sangat menentukan bagimana kehidupan kita kelak di alam keabadian. Apakah seseorang akan menggapai kemuliaan bahkan kemuliaan Hidup di dunia merupakan bekal di akhirat. Sebagaimana para murid Syeh Siti Jenar yang gagal dalam memahami apa yang diajarkan oleh gurunya. Para murid menyangka kehidupan di planet bumi ini tak ada gunanya, bagaikan mayat bergentayangan penuh dosa. Kehidupan dunia bagaikan penghalang dan penjara bagi roh menuju ke alam keabadian. Jalan satu-satunya melepaskan diri dari penjara kehidupan dunia ini adalah jalan kematian. Sehingga banyak di antara muridnya melakukan tindakan keonaran agar supaya menemui kematian.
NYAWA, KEMATIAN, DAN MERAGA SUKMA Banyak orang, melalui berbagai referensi, menganggap nyawa sama dengan jiwa. Bahkan dipahami secara rancu dengan menyamakannya dengan roh atau sukma. Nyawa, jiwa, roh, sukma, diartikan sama. Tetapi manakala kita menyaksikan peristiwa meraga sukma, perjalanan astral, lantas timbul tanda tanya besar. Bukankah saat terjadi peristiwa kematian, sukma seseorang keluar dari jasadnya ?! Kenapa orang yang meraga sukma tidak mengalami kematian ?! Sejak lama saya bertanya-tanya dalam hati saya sendiri. Apa gerangan yang terjadi dan bagimana duduk persoalannya. Bagaimanakah sebenarnya rumus-rumus tuhan yang berlaku di dalamnya ?
Butuh waktu puluhan tahun hingga saya menemukan jawaban logis, paling tidak nalar saya bisa menerimanya. Nyawa ibarat “lem perekat” yang menghubungkan antara sukma dengan raga manusia. Pada peristiwa kematian seseorang, nyawa sebagai lem perekat tidak lagi berfungsi alias lenyap. Jika lem perekatnya sudah tak berfungsi lagi maka lepaslah sukma dari jasad. Lain halnya dengan meraga sukma, lem perekat masih berfungsi dengan baik, sehingga kemanapun sukma berkelana, jasadnya yang ditinggalkan tidak akan mati. Hanya saja lem perekat bernama nyawa ini sistem bekerjanya berbeda dengan lem perekat pada umunya yang benar-benar menyambung merekatkan antara dua benda padat. Nyawa merekatkan antara jasad dan sukma secara fleksibel, bagaikan dua peralatan yang dihubungkan oleh teknologi nir kabel. Namun demikian nyawa tentu saja jauh lebih canggih ketimbang teknologi bluetooth yang bisa menghubungkan dua peralatan dalam jarak dekat maupun jauh. Dalam khasanah spiritual Jawa, para leluhur di zaman dulu menemukan adanya keterkaitan masing-masing unsur gaib dan wadag manusia. Raga supaya hidup harus dihidupkan oleh sukma, sukma diikat oleh rasa. Ikatan rasa akan pudar dan lama-kelamaan akan habis apabila rasa tidak kuat lagi menahan penderitaan dan trauma yang dialami oleh raga. Bila seseorang tak kuat lagi menahan rasa sakit, kesadaran jasadnya akan hilang atau mengalami pingsan, dan bahkan kesadaran jasadnya akan sirna samasekali alias mengalami kematian. Di sini peristiwa kematian adalah padamnya “alat nirkabel” atau semacam “bluetooth” bikinan tuhan sehingga terputuslah hubungan antara jasad dan sukma. Lain halnya dengan aksi meraga sukma, sejauh manapun sukma berkelana ia tetap terhubung dengan raga melalui “teknologi” bluetooth bikinan tuhan bernama nyawa.
sumber : http://sabdalangit.wordpress.com
KERANCUAN MEMAKNAI JIWA, SUKMA, NYAWA, PSIKHIS
JIWA, di dalam Oxford Dictionary tertulis soul (roh), mind dan spirit. Sementara dalam bahasa Indonesia cukup dengan padanan yaitu jiwa. Yunani PsychĂȘ yang berarti jiwa dan logos yang berarti nalar, logika atau ilmu. Tubuh adalah bagian yang fenomenal, dapat ditangkap oleh pancaindera dan bersifat fana sedangkan jiwa menurut Plato (500 SM) merupakan bagian yang memiliki substansi tersendiri (terpisah dari jasad) dan bersifat abadi. Plato berargumen, bahwa jiwa menempati tempat yang lebih tinggi daripada tubuh, lebih jauh ia mengatakan bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa karena tubuh menghambat kebebasan jiwa. Bagi seorang murid Plato, yakni Aristoteles (400 SM), semua yang hidup mempunyai jiwa seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan tentu saja manusia. Bagi Plato jika seseorang mati, maka jiwanya akan tetap ada dan kembali kedunia Idea di mana di sana terdapat segala hal yang ideal (sempurna) untuk kemudian jiwa akan mereinkarnasi diri dan menubuh kembali pada saatnya. Di sisi lain Aristoteles muridnya, memiliki pandangan berbeda, ia tidak setuju keduaan ala gurunya. Bagi Aristoteles tubuh dan jiwa itu bukan keduaan melainkan kesatuan. Olehkarenanya jika seseorang mati, maka konsekuensinya jiwapun turut mati bersama tubuh. Mana yang benar, Plato atau Aristoteles ? Saya kira kedua-duanya konsep Plato dan Aristoteles tetap mengandung kelemahan-kelemahan. Bahkan jika ditelaah lebih dalam, banyak ilmuwan kesulitan memetakan letak di mana jiwa (nafs, hawa, nafas, soul), roh (spirit) dan raga (body). Hal ini bukan berarti para filsuf pendahulu kita gegabah dalam memaknai tentang jiwa. Dapat dimaklumi sebab mempelajari tentang seluk beluk kejiwaan kita, musti menggunakan jiwa kita sendiri. Golek latu adadamar, atau mencari bara api dengan menggunakan obor sebagai penerang jalan. Sangatlah bisa dimaklumi sebab pembahasan jiwa sudah bersinggungan dengan ranah gaib yang tak tampak oleh mata wadag.
JIWA MENURUT KI AGENG SURYO MENTARAM
Sejenak para pembaca yang budiman saya ajak mampir ke padepokan seorang filsuf Jawa dan kondang sebagai seorang yang linuwih dan sakti mandraguna. Beliau adalah Ki Ageng Suryo Mentaram (kebetulan dulu tinggalnya di belakang rumah kami). Ki Ageng Suryo Mentaram membahas ilmu jiwa yang dikemukakan seorang filsuf Jawa sekaligus penghayat kejawen yang pada waktu hidupnya beliau terkenal sebagai seseorang yang memiliki ilmu linuwih dan sakti mandraguna.Baca selanjutnya !
Ilmu jiwa sebagaimana diungkapkan Ki Ageng Suryo Mentaram dikenal dengan dua macam jiwa. Yakni jiwa KRAMADANGSA, dan jiwa BUKAN KRAMADANGSA. Apa yang disinyalir sebagai jiwa kramadangsa adalah jiwa yang tidak abadi disebut pula sebagai rasa “Aku Kramadangsa”. Aku kramadangsa termasuk di dalamnya adalah “rasa nama” atau ke-aku-an, misalnya aku bernama Siti Ba’ilah. Aku adalah seorang musafir, aku seorang satrio piningit, aku adalah seorang kaya raya. Ki Ageng Suryo Mentaram mensinyalir adanya “rasa jiwa” yang bersifat abadi. Dimaknai sebagai Aku bukan kramadangsa. Menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, rasa aku kramadangsa adalah ke-aku-an (naari atau “unsur api”) yakni aku yang masih terlena, terlelap dalam berbagai rasa aku yang terdapat di dalam lautan kramadangsa. Sebaliknya aku bukan kramadangsa adalah aku yang telah otonom yang sudah memiliki KESADARAN memilih mana yang BENAR dan mana yang SALAH sehingga ia dapat dinamai “Aku kang jumeneng pribadi”.
Menurut Ki Ageng Suryomentaram alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga bagian yakni pancaindera, rasa hati dan pengertian. Pertama, pancaindera, seperti yang telah kita ketahui yaitu alat penglihatan (mata), alat pendengaran (telinga), alat penciuman (hidung), alat pencecap (lidah) dan alat peraba (kulit, misalnya: jari- jari tangan merasa panas kena api, kulit merasa gatal terkena bulu ulat, dll). Kedua, rasa hati, adalah suatu kesadaran diri tentang keberadaan aku di mana aku dapat merasa senang, susah dan lain-lain. Ketiga, adalah pengertian, kegunaan pengertian dapat menentukan tentang hal-hal yang berasal dari pancaindera dan juga dari rasa hati. Pengertian di sebut pula sebagai persepsi, yang pada gilirannya akan menentukan mind-set atau pola pikir. Dengan demikian alat pengertian ini dapat dikatakan sebagai alat yang tertinggi tingkatan otonominya bagi manusia karena ia sudah melampaui pengetahuan yang didapat dari alat pertama dan kedua. Ia sudah merupakan suatu refleksi kritis, kontemplasi, endapan yang didapat dengan cara menyeleksi hal-hal yang tidak diperlukan kemudian hanya memilih yang berguna atau bermanfaat saja. Sedangkan alat di luar ketiga tersebut tak diketahui karena di dalamnya terdapat banyak hal yang masih mysteré sulit terjangkau oleh kemampuan alat manusia.
JIWA YANG MERDEKA (KAREPING RAHSA)
Jiwa adalah nafas, nafs, hawa atau nafsu. Jiwa yang telah merdeka barangkali artinya sepadan dengan apa yang dimaksud jiwa yang mutmainah (an-nafsul mutmainah). Rasanya sepadan dengan apa yang dimaksud dalam konsep Ki Ageng Suryo Mentaram sebagai aku bukan kramadangsa. Aku bukan kramadangsa selanjutnya saya lebih suka menyebutnya sebagai JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA, lebih mudah dipahami bila saya analogikan sebagai JIWA yang TUNDUK KEPADA SUKMA SEJATI. Sebaliknya apa yang disebut sebagai jiwa kramadangsa, aku kramadangsa, tidak lain adalah jiwa yang NURUTI RAHSANING KAREP. Lebih tegas lagi saya sebut sebagai JIWA yang DITAKLUKKAN OLEH JASAD.
Barangkali perlu dipahami bahwa jiwa kramadangsa (rasa nama) kesadarannya lebih dari jiwa yang berhasil diidentifikasi oleh Aristoteles sebagai jiwa yang ikut mati. Saya kira Aristoteles hanya menangkap jiwa-jiwa sebagaimana jiwa binatang dan tumbuhan yang ikut mati. Dan Sementara itu jiwa kramadangsa di sini adalah jiwa dengan kesadaran rendah, yang dimiliki manusia. Jiwa kramadangsa hanya terdiri dari kumpulan seluruh catatatan di dalam memori jasad manusia yang berisi semua tentang dirinya dan semua yang pernah dialaminya. Tidak seluruh memori itu bersifat abadi karena banyak catatan-catatan in memorial dapat terlupakan bahkan lenyap bersama jasad yang mati. Berbeda dengan “aku bukan kramadangsa”, berarti yang dimaksudkan adalah “aku yang dapat mengatasi kramadangsa” karena itu “aku” adalah aku yang dapat mengatur dengan baik kramadangsa-ku.
JIWA, ROH, JASAD
Tulisan saya di sini mencoba untuk membantu menjabarkan apa sejatinya di antara ke tiga unsur inti manusia yakni jiwa, roh dan jasad. Tentu kami yang miskin referensi buku hanya bisa menyampaikan berdasarkan pengalaman pribadi sebagai data mentah untuk kemudian saya rangkum kembali dalam bentuk kesimpulan sejauh yang bisa diketahui. Pengalaman demi pengalaman batin, memang bersifat subyektif, artinya tak mudah dibuktikann secara obyektif oleh banyak orang, namun saya yakin banyak di antara para pembaca pernah merasakan, paling tidak dapat meraba apa sesungguhnya hubungan di antara jiwa, roh, dan jasad. Walaupun jiwa dan roh berkaitan dengan gaib, namun bukankah entitas gaib itu berada dalam diri kita. Diri yang terdiri dari unsur gaib dan unsur wadag (fisik), tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa merasakan dan menyaksikan “obyektivitas” kegaiban. Mencegah diri kita dari unsur dan wahana yang gaib sama saja artinya kita mengalienasi (mengasingkan) dan membatasi diri kita dari “diri sejati” yang sungguh dekat dan melekat di dalam badan raga kita.
Sukma-Raga
Hubungan antara roh/sukma dengan raga bagaikan rangkaian perangkat internet. Sukma atau roh dapat diumpamakan IP atau internet protocol, yang mengirimkan fakta-fakta dan data-data “gaib” dalam bentuk “bahasa mesin” yang akan diterima oleh perangkat keras atau hardware. Adapun hardware di sini berupa otak (brain) kanan dan otak kiri manusia. Sedangkan tubuh manusia secara keseluruhan dapat diumpamakan sebagai seperangkat alat elektronik bernama PC atau personal komputer, note book, laptop dst yang terdiri dari rangkaian beberapa hardware. Hardware otak tak akan bisa beroperasional dengan sendirinya menerima fakta dan data gaib yang dikirim oleh sukma. Hardware otak terlebih dulu harus diisi (instalation) dengan perangkat lunak atau sofware berupa “program” yang bernama spiritual mind atau pemikiran tentang ketuhanan, atau pemikiran tentang yang gaib.
Sukma-Jiwa
Namun demikian, hardware otak tidak akan mampu memahami fakta-fakta gaib tanpa adanya jembatan penghubung bernama jiwa. Jiwa merupakan jembatan penghubung antara sukma dengan raga. Aktivitas sukma antara lain mengirimkan bahasa universal kepada raga. Bahasa universal tersebut dapat berupa sinyal-sinyal gaib, pralampita, perlambang, simbol-simbol, dalam hal ini saya umpamakan layaknya bahasa mesin, di mana jiwa harus menterjemahkannya ke dalam berbagai bahasa verbal agar mudah dimengerti oleh otak manusia. Tugas jiwa tak ubahnya modem untuk menterjemahkan “bahasa mesin” atau bahasa universal yang dimiliki oleh sukma menjadi bahasa verbal manusia.
Namun demikian, masing-masing jiwa memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menterjemahkan bahasa universal atau sinyal yang dikirim oleh sukma kepada raga, tergantung program atau perangkat lunak (software) jenis apa yang diinstal di dalamnya. Misalnya kita memiliki program canggih bernama Java script, yang bisa merubah bahasa mesin ke dalam bentuk huruf latin atau bahasa verbal, dan bisa dibaca oleh mata wadag.
Jiwa-Raga
Setelah jiwa berhasil menterjemahkan “bahasa mesin”, atau bahasa universal sukma ke dalam bahasa verbal, selanjutnya menjadi tugas otak bagian kanan manusia untuk mengolah dan menilainya melalui spiritual mind atau pemikiran spiritual. Semakin besar kapasitas random acces memory (RAM) yang dimiliki otak bagian kanan, seseorang akan lebih mampu memahami “kabar dari langit” yang dibawa oleh sukma, dan diterjemahkan oleh jiwa. Itulah alasan perlunya kita meng upgrade kapasitas “RAM” otak bagian kanan kita agar supaya lebih mudah memahami fakta gaib secara logic. Sebab sejauh yang bisa saya saksikan, kenyataan gaib itu tak ada yang tidak masuk akal. Jika dirasakan ada yang tak masuk akal, letak “kesalahan” bukan pada kenyataan gaibnya, tetapi karena otak kita belum cukup menerima informasi dan “data-data gaib”. Dimensi gaib memiliki rumus-rumus, dan hukum yang jauh lebih luas daan rumit daripada rumus-rumus yang ada di dalam dimensi wadag bumi. Contoh yang paling mudah, misalnya segala sesuatu yang ada di dalam dimensi wadag bumi, mengalami rumus atau prinsip terjadi kerusakan (mercapadha). Merca berarti panas atau rusak, padha adalah papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat di mana segala sesuatunya pasti akan mengalami kerusakan. Sementara itu di dalam dimensi gaib, rumus kerusakan tak berlaku. Sehingga disebutnya sebagai dimensi keabadian, atau alam kehidupan sejati, alam kelanggengan, papan kang langgeng tan owah gingsir. Sekalipun organ tubuh manusia, apabila dibawa ke dalam dimensi kelanggengan, pastilah tak akan rusak atau busuk sebagaimana pernah saya ungkapkan dalam kisah terdahulu, silahkan para pembaca yang budiman membuka posting berjudul KUNCI MERUBAH KODRAT. Sebaliknya, sukma yang hadir ke dalam dimensi bumi, pastilah terkena rumus atau prinsip mercapadha, yakni mengalami rasa cape, sakit, rasa lapar, ingin menikmati makanan dan minuman yang ia sukai sewaktu tinggal di dimensi bumi bersama raga. Hanya saja, sukmanya merupakan unsur gaib, maka tak akan terkena rumus atau prinsip mengalami kematian sebagaimana raga.
RUMUS-RUMUS KEHIDUPAN WADAG DAN GAIB
Jiwa yang terlahir ke dalam jasad manusia merupakan software yang merdeka dan bebas menentukan pilihan. Apakah akan menjadi jiwa yang mempunyai prinsip keseimbangan, yakni seimbang berdiri di antara sukma dan raga, menjadi pribadi yang seimbang lahir dan batinnya. Ataukah akan menjadi jiwa yang berat sebelah, yakni tunduk kepada sukma, ataukah jiwa yang menghamba kepada raga saja. Untuk menjadi pribadi yang dapat meraih keseimbangan lahir dan batin, jiwanya harus memperhatikan dan menghayati apa saran sang sukma (nuruti kareping rahsa). Tak perlu meragukan kemampuan sang sukma sebab ia tak akan salah jalan dalam menuntun seseorang menggapai keseimbangan lahir dan batin. Pribadi yang seimbang lahir dan batinnya akan mudah menggapai kemuliaan hidup di dunia dan kehidupan sejati setelah raganya ajal. Sementara itu bagi jiwa yang mau diperbudak oleh raga berarti menjadi pribadi yang hidup dalam penguasaan lymbic section, atau insting dasar hewani, selalu mengumbar hawa nafsu (nuruti rahsaning karep). Tentu saja kehidupannya akan jauh dari kemuliaan sejak hidup di mercapadha maupun kelak dalam kehidupan sejati.
Sebaliknya, bagi jiwa yang terlalu condong kepada sukma, ia akan menjadi pribadi yang fatalis, tak ada lagi kemauan, inisiatif, dan semangat menjalani kehidupan di dimensi wadag planet bumi ini. Seseorang akan terjebak ke dalam pola hidup yang mengabaikan kehidupan duniawi. Hal ini sangatlah timpang, sebab kehidupan duniawi ini akan sangat menentukan bagimana kehidupan kita kelak di alam keabadian. Apakah seseorang akan menggapai kemuliaan bahkan kemuliaan Hidup di dunia merupakan bekal di akhirat. Sebagaimana para murid Syeh Siti Jenar yang gagal dalam memahami apa yang diajarkan oleh gurunya. Para murid menyangka kehidupan di planet bumi ini tak ada gunanya, bagaikan mayat bergentayangan penuh dosa. Kehidupan dunia bagaikan penghalang dan penjara bagi roh menuju ke alam keabadian. Jalan satu-satunya melepaskan diri dari penjara kehidupan dunia ini adalah jalan kematian. Sehingga banyak di antara muridnya melakukan tindakan keonaran agar supaya menemui kematian.
NYAWA, KEMATIAN, DAN MERAGA SUKMA Banyak orang, melalui berbagai referensi, menganggap nyawa sama dengan jiwa. Bahkan dipahami secara rancu dengan menyamakannya dengan roh atau sukma. Nyawa, jiwa, roh, sukma, diartikan sama. Tetapi manakala kita menyaksikan peristiwa meraga sukma, perjalanan astral, lantas timbul tanda tanya besar. Bukankah saat terjadi peristiwa kematian, sukma seseorang keluar dari jasadnya ?! Kenapa orang yang meraga sukma tidak mengalami kematian ?! Sejak lama saya bertanya-tanya dalam hati saya sendiri. Apa gerangan yang terjadi dan bagimana duduk persoalannya. Bagaimanakah sebenarnya rumus-rumus tuhan yang berlaku di dalamnya ?
Butuh waktu puluhan tahun hingga saya menemukan jawaban logis, paling tidak nalar saya bisa menerimanya. Nyawa ibarat “lem perekat” yang menghubungkan antara sukma dengan raga manusia. Pada peristiwa kematian seseorang, nyawa sebagai lem perekat tidak lagi berfungsi alias lenyap. Jika lem perekatnya sudah tak berfungsi lagi maka lepaslah sukma dari jasad. Lain halnya dengan meraga sukma, lem perekat masih berfungsi dengan baik, sehingga kemanapun sukma berkelana, jasadnya yang ditinggalkan tidak akan mati. Hanya saja lem perekat bernama nyawa ini sistem bekerjanya berbeda dengan lem perekat pada umunya yang benar-benar menyambung merekatkan antara dua benda padat. Nyawa merekatkan antara jasad dan sukma secara fleksibel, bagaikan dua peralatan yang dihubungkan oleh teknologi nir kabel. Namun demikian nyawa tentu saja jauh lebih canggih ketimbang teknologi bluetooth yang bisa menghubungkan dua peralatan dalam jarak dekat maupun jauh. Dalam khasanah spiritual Jawa, para leluhur di zaman dulu menemukan adanya keterkaitan masing-masing unsur gaib dan wadag manusia. Raga supaya hidup harus dihidupkan oleh sukma, sukma diikat oleh rasa. Ikatan rasa akan pudar dan lama-kelamaan akan habis apabila rasa tidak kuat lagi menahan penderitaan dan trauma yang dialami oleh raga. Bila seseorang tak kuat lagi menahan rasa sakit, kesadaran jasadnya akan hilang atau mengalami pingsan, dan bahkan kesadaran jasadnya akan sirna samasekali alias mengalami kematian. Di sini peristiwa kematian adalah padamnya “alat nirkabel” atau semacam “bluetooth” bikinan tuhan sehingga terputuslah hubungan antara jasad dan sukma. Lain halnya dengan aksi meraga sukma, sejauh manapun sukma berkelana ia tetap terhubung dengan raga melalui “teknologi” bluetooth bikinan tuhan bernama nyawa.
sumber : http://sabdalangit.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)



