Selasa, 28 Desember 2010

Dimanakah Sorga ?

Disebuah perkampungan kecil hidup pemuda yang sangat lugu dan jujur.
Dia hanya mengerjakan ladang dan bertani, setiap hari dikerjakan dengan tekun, tanpa pernah mengeluh. Ketekunan ini menjadikannya luar biasa, dan suatu ketika datanglah sang maha resi bijak untuk sekedar menyapanya.

Hai, pemuda..lihatlah padimu, telah tumbuh dengan subur, tidakkah kau ingin melakukan hal lain selain mengolah tanah ? Tanya Maha Rsi.

Sejauh itu membantu semua mahluk, saya pasti ingin melakukannya, maha rsi, sahut pemuda.

Tertegun atas jawaban sang pemuda,

Maha rsi pun melanjutkan bertanya, maukah kau mendengar sebuah ramalan ku tentang Dunia?

Dengan raut muka yang serius pemuda pun menganggukkan kepalanya, sambil duduk diatas rumput, untuk mendengarkan wejangan Sang Maha Rsi.
Dengarlah, hai pemuda, saat ini dunia yang kau tempati sangatlah indah, bersahaja, dan penuh dengan cerita kasih, namun sayang ini tidak akan bertahan lama, semua akan hilang, dengan ditandai turunnya hujan yang berwarna merah dan ingatlah jangan pernah kau meminum air hujan itu, karena kesadaranmu akan hilang jika kau meminumnya, jika kau akan minum, ambillah air yang tepat berada didalam sumur yang berada ditengah sawah mu, karena hanya itulah mata air yang bisa membuatmu tetap sadar ajaklah semua umatmu untuk meminum air itu.

Ingatlah pesanku dan mulailah siarkan hal ini kepada seluruh umat manusia sebagai laku dharma mu.

Setelah apa yang menjadi awal pertemuan tersebut, sang pemudapun tiap hari menyiarkan berita ramalan kepada penduduk, dan atas tekat yang bulat demi kemanusiaan sampai akhirnya pemuda meninggalkan seluruh pekerjaannya di ladang.
Pemuda yang lugu tersebut dari hari kehari berbicara hal yang sama dan akhirnya penduduk mengatakan jika ia tidak waras lagi... 
Pemuda gila!!, hardik mereka, kau sudah hilang kesadaranmu teriak para sanak familinya.

Namun hal itu tidaklah membuat tekadnya mengendor. Dia pun terus menyiarkan hal tersebut hingga bertahun-tahun.

Disaat pemuda lelah atas apa yang menjadi keyakinannya, saat itulah dunia dilanda kekeringan panjang dan hanya sumur pemuda itu saja yang masih mengeluarkan air. Kembali tumbuh keyakinan sang pemuda untuk mengajak masyarakat meminum air yang ada di tengah sawahnya tersebut.

Kembali cemooh yang di dapat, masyarakat dengan lantang berkata "hey, bukankah ini yang kau inginkan, jika kau telah meracuni sumurmu dan membiarkan kami mati, dan kau yang telah gelandangan akan mengambil seluruh harta kami!! Pemuda kami tidak akan terkena tipu muslihatmu!".

Suatu ketika dunia menjadi sangat gelap, mendung di langit dan juga angin sangat kencangpun menderu bumi, dengan sontak penduduk pun bersorak, lihatlah... Langit akan menurunkan hujan, dan semua cerita itu hanya bohong, teriak masyarakat...

Benar, sesaat kemudian, hujan pun turun, namun hujan itu berwarna merah. Melihat kejadian tersebut sang pemuda pun berteriak, Jangan!.. jangan kau minum air hujan itu, ini lah awal bencana kita, Jangan!!!.... Namun sayang seorang yang dianggap tidak waras, tidak akan pernah dipercaya, seorang miskin dan terlunta tidak akan didengar, akhirnya penduduk pun mulai meminum air hujan yang tampak sangat segar bagi mereka.

Selang beberapa saat setelah meminum air tersebut, pendudukpun mulai memperlihatkan tabiat yang sangat berbeda, mereka sering bertengkar, mereka memainkan peran Tuhan, ada yang mengambil hak orang lain, mengucapkan kebohongan adalah keharusan, berzinah, tidak ada etika moral, semua berubah...tidak ada lagi dunia dengan keindahan yang ada adalah dunia dengan kerumunan pendosa.

Namun, pemuda masih tetap berusaha mengajak mereka untuk minum air sumur milikNya, meminum air kesadaran...

Sia,sia, semua tetap seperti semula, malah mereka semakin bengis terhadap pemuda itu, mereka ingin mengarak dan memancungnya, karena ketidak warasannya.

Hingga suatu saat, pemuda itupun lelah...
Dia sangat lelah...

Dia pun mulai goyah, tidak mampu berteriak lantang....

Dalam hati yang terdalam dia berkata, mereka memang benar,

ya akulah yang tidak waras, dan sumur kesadaran itu hanyalah dongeng Sang Maha Resi...

Dengan langkah yang gontai, pemuda itupun ikut meminum air hujan, untuk dapt kembali diterima oleh masyarakatnya.

KETERGESAAN DAN KEBIASAAN

Tidak diragukan anda mempunyai banyak masalah, masalah rumah tangga, sosial, fisik, dan keuangan, yang sepertinya mendesak meminta jalan keluar yang segera. Mungkin anda memiliki utang yang harus di bayar, atau kewajiban lain yang harus dipenuhi; anda berada di tempat yang tidak membahagiakan atau tidak harmonis, dan merasa sesuatu harus dilakukan dengan segera dan sekaligus. Jangan tergesa-gesa dan bertindak atas dorongan-dorongan superfisial. Anda bisa mempercayai Tuhan untuk jalan keluar dari semua masalah pribadi anda. Tidak perlu tergesa-gesa. Hanya ada Tuhan dan semuanya baik-baik saja.

Ada kekuatan yang tidak terhingga didalam anda, dan kekuatan yang sama berada di dalam hal-hal yang anda inginkan kepada anda dan membawa anda kepada hal-hal yang anda inginkan. Inilah pemikiran yang harus anda tangkap, dan terus pelihara bahwa kecerdasan yang sama dengan yang ada dalam diri anda juga ada didalam hal-hal yang anda inginkan. Mereka terdorong kearah anda dengan sama kuatnya dan pastinya seperti hasrat anda mendorong anda kearah mereka. Oleh karena itu, kecendrungannya adalah : sebuah pemikiran yang terus ditahan di dalam benak pasti akan mendatangkan hal-hal yang anda inginkan kepada anda dan mengelompokkan mereka kesekitar anda. Sejauh anda menahan pikiran dan keyakinan anda dengan benar, semua akan berjalan dengan baik. Tidak ada yang bisa salah kecuali sikap pribadi anda, dan sikap pribadi anda tidak akan salah jika anda percaya dan tidak takut. Ketergesaan adalah ungkapan perasaan takut; mereka yang tidak takut akan memiliki banyak waktu. Jika anda bertindak dengan keyakinan yang sempurna terhadap persepsi kebenaran anda sendiri, anda tidak akan pernah terlalu cepat atau terlalu lambat; dan tidak akan ada yang salah. Jika segalanya tampak salah, jangan terganggu didalam benak; itu hanya tampilan luar. Tidak ada yang bisa salah dengan dunia ini kecuali diri ANDA SENDIRI; dan anda hanya bisa salah jika memasuki sikap mental yang keliru. Manakala anda menemukan diri merasa bersemangat, khawatir atau memasuki sikap mental tergesa-gesa, duduklah dan berpikirlah kembali; lakukan permainan apa saja, atau berliburlah. Pergilah melakukan perjalanan, dan semuanya akan baik ketika anda kembali. Begitu anda memasuki sikap mental tergesa-gesa, anda keluar dari sikap mental kehebatan. Ketergesaan dan takut akan segera memutuskan hubungananda dengan akal universal; anda tidak akan mendapatkan daya, kebijaksanaan, dan informasi sampai anda tenang. Dan jatuh kedalam sikap tergesa akan melenyapkan tindakan Prinsip kekuatan di dalam anda. Takut mengubah kekuatan menjadi kelemahan.

Ingatlah bahwa sikap yang tenang dan kekuatan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Akal yang tenang dan seimbang adalah akal yang kuat dan hebat; akal yang tergesa dan gelisah adalah akal yang lemah. Manakala anda jatuh ke dalam sikap mental tergesa, Anda perlu tahu bahwa anda telah kehilangan sudut pandang yang benar; anda mulai memandang dunia, atau sebagian dunia, sebagai tidak beres. Pertimbangan kenyataan bahwa saat ini juga, dunia beserta segala isinya adalah sempurna. Tidak ada yang tidak beres; tidak ada yang bisa salah; tenanaglah, gembiralah; memiliki keyakinan pada Tuhan.

Selanjutnya, adalah kebiasaan. Mungkin kesulitan terbesar anda adalah mengatasi kebiasaan pikir yang lama, dan membentuk kebiasaan pikir yang baru. Dunia dikuasai oleh kebiasaan. Para raja, tiran, tuan, dan plutokrat hanya mempertahankan posisinya karena orang-orang telah terbiasa menerima mereka. Segala sesuatu seperti apa adanya hanya karena orang-orang telah membentuk kebiasaan menerimanya sebagaimana adanya. Ketika orang mengubah kebiasaan pikir mereka tentang memutuskan lembaga-lembaga pemerintahan, sosial, dan industri, mereka akan mengubah lembaga-lembaga itu. Kebiasaan menguasai kita semua.

Mungkin anda telah membentuk kebiasaan memikirkan diri anda sebagai orang biasa, sebagai seseorang yang kemampuannya terbatas, atau sedikit-banyak orang yang gagal. Apa pun kebiasaan pikiran anda terhadap diri sendiri, seperti itulah diri anda. Sekarang anda harus membentuk kebiasaan yang lebih baik dan hebat; anda harus membentuk konsepsi diri sebagai orang yang memiliki kekuatan tanpa batas, dan membiasakan diri berpikir seperti itu. Adalah kebiasaan, bukan pikiran berkala, nasib anda. Tidak ada manfaatnya bagi anda setiap hari duduk sendiri selama beberapa saat untuk mengukuhkan anda hebat, sepanjang hari – ketika anda melakukan pekerjaan sehari-hari ; anda tidak menganggap diri anda hebat. Tidak ada jumlah doa dan peneguhan yang akan membuat anda hebat, jika anda masih terbiasa menganggap diri sebagai kecil. Penggunaan doa dan peneguhan adalah mengubah kebiasaan berpikir anda. Setiap tindakan fisik, mental, yang sering diulang-ulang akan menjadi kebiasaan.

Tujuan latihan mental adalah mengulang-ulang pikiran tertentu sampai pikiran itu terus menerus dan terbiasa. Pikiran terus menerus yang berulang-ulang akan menjadi keyakinan. Yang harus anda lakukan adalah mengulang pikiran baru tentang diri anda sampai itu menjadi satu-satunya cara anda menganggap diri anda.

(The Science of Being Great)

Senin, 27 Desember 2010

BIJA MANTRA

Mantra berasal dr suku kata 'man' yg berarti berpikir dan suku kata 'tra', berasal dari 'trai' yg artinya melindungi atau bebas dari belenggu samsara atau penampakan duniawi. Dari kombinasi 'man' dan 'tra', jadilah mantra, yg menimbulkan 4 tujuan manusia; dharma, artha, kama dan moksa.

"Mananat trayate iti mantrah"-dengan manana (pemikiran yg tetap atau pengumpulan kembali) dgn mana seseorang dilindungi atau dilepaskan dr perputaran kelahiran dan kematian, itulah mantra. Mantra bersifat illahi. Ia merupakan daya2 Illahi atau Daiwi Sakti yg diwujudkan dlm satu badan yang sehat. Mantra itu sdr adalah Dewata. Setiap orang yg mengucapkan sebuah mantra hendaknya mencoba nilainya yang terbaik utk mewujudkan kesatuannya dgn Mantra yg kita ucapkan, tentu ini tergantung diri sejauh mana usaha yang kita lakukan, sehingga daya dr mantra dpt memenuhi, melengkapi pemujanya. Spt nyala api yg diperkuat oleh angin, demikian pula daya sakti dr pribadi sadhaka, diperkuat olh mantra yg diucapkannya, shg sakti pr ibadu bergabung dgn mantra sakti, shg membuatnya mjd lebih kuat.

Mantra Dewata, adalah aksara atau kombinasi aksara yg mewujudkan Dewata tsb pd kesadaran sadhaka, yg telah memanggilnya dgn sadhana. Mantra merupakan suatu massa (kelompok besar) dr cahaya/teja/energi. Mantra membangkitkan daya2 super alami. Mantra; mempercepat, dan menghasilkan kekuatan daya cipta, mantra menghasilkan keselarasan. Sebuah mantra memiliki daya melepaskan kesadaran kosmos dan super kosmos. Ia memberikan pencerahan, kemerdekaan, kedamaian tertinggi, kebahagiaan abadi dan kekekalan, pada sadhaka. Sebuah mantra apabila diulang2 scr tetap dan terus menerus, akan membangkitkan kesadaran. (Cit atau Caitanya), krn kesadaran itu terpendam dlm sebuah mantra. Sebuah mantra memiliki 4 keadaan mendasar jk dilihat dr gelombang suara: waikari; padat, suara mantra yg dpt didengar, suara dlm kelainan yg maksimum, Madhyama; atau suara mantra dalam, halus, lebih halus keadaannya dimana tak dpt didengar olh telinga phisik.
Pasyanti; suara mantra yg lbh tinggi lg, lbh dalam, keadannya lbh halus lagi. Para; yg mewakili Iswara-Sakti dan merupakan keadaan suara potensial/Karana yg adalah Awyakta/tak terbedakan, krn merupakan sumber alam semesta.

Jadi setiap mantra yg diucapkan merupakan sebuah sabun pembersih spiritual, yg membersihkan pikiran. Bahkan, pensitiran sedikit saja dr sebuah mantra, dgn Sraddha, Bhawa, dan konsentrasi pd maknanya, dgn pikiran terpusat, akan menghancurkan sgl kekotoran pikiran.

Pengulangan mantra pancaksara 'Om Namah Sivaya' akan menhasilkan wujud Siwa. Pengulangan dari 'Om Namo Narayana', yaitu Astaksara mantra dr Wisnu, akan menghasilkan wujud Wisnu, dsb. Oleh karenanya dikatakan bahwa Mantra dr Dewa, adalah Dewa itu sendiri. Pranava adalah yang memberikan daya hidup terhadap sebuah suku kata, kata, rangkaian kata2, kalimat; dalam hal ini Pranava tak lain adalah OM.

Om adalah nama atau simbol dr Tuhan, Iswara atau Brahman. Om merupakan Nama kita yg sesungguhnya, OM meliputi atau menyelimuti keseluruhan dr ketiga tahapan pengalaman manusia. OM berarti sgl penampakan dunia ini. Dari Pranava Om alam semesta indriyani diproyekasikan-dunia ini ada dlm OM dan diserap dlam OM. 'A' dimaksudkan dgn dasar phisik. 'U' dimaksudkan dgn dasar mental atau astral, yg merupakan dunia dr jiwa yg cerdas atau sgl surga. 'M', dimaksudkan dgn seluruh keadaan tidur nyenyak tanpa mimpi, yaitu sgl yg mengatasi pencapaian kesadaran. Intinya Om adalah suara Mula dr semua Suara, Om adalah Ibu dari semua Aksara.

Bija Mantra/Aksara Satu Bija mantra merupakan sebuah benih huruf. Ia merupakan sebuah mantra yg amat ampuh. Setiap Dewata memiliki Bija-Aksaranya sendiri2. Yang terhebat dr semua Bija Mantra adalah OM atau Pranava, krn Ia merupakan simbol dr Para Brahman atau Paramatman sendiri. Biasanya sebuah Bija Mantra mengandung sebuah aksara tunggal. Kadang2 tersusun atas beberapa suku kata. Umpanya , Bija Mantra "KAM", memiliki huruf tunggal dgn anuswara atau candrabindu, yg membentuk pangakhiran dr semua Bija Mantra. Dalam Candrabindu, Nada dan Bindu bercampur jd satu bersama2. Beberapa Bija Mantra tersusun atas gabungan huruf2, spt mantra"HRIM", Bija Mantra memiliki suatu makna dalam yg berarti dan sering tidak membawa suatu arti pd permukaannya. Artinya sangat halus, dan bersifat mistis.

Bentuk dari Bija Mantra, merupakan bentuk dr Dewata yg dimaksudkan dgn Mantra tsb. Beberapa contoh Bija Mantra: Bija Mantra utk Panca Maha Bhuta; Akasa-HAM, udara-YAM, api-RAM, air-WAM, dan tanah-LAM Bija mantra HAUM- dlm mantra ini, HA adalah Siwa. AU adalah Sadasiwa. Nada dan Bindu, maksudnya yg mengusir kesedihan. Dgn Bija Mantra ini Tuhan Siwalah yg hendak dipuja. Bija Mantra DUM- berasalh dr suku kata DA yg artinya Durga. U artinya melindungi. Nada berarti Ibu alam semesta. Bindu-kegiatan (pemujaan atau doa). Ini merupakan Bija Mantra utk Durga. Bija Mantra KRIM-dgn mantra ini KALIKA yg hendak dipuja, KA- adalah Kali, RA adalah Brahman, I adlah Mahamaya, Nada adlah Ibu alam semesta, dan Bindu adalah pengusr kesedihan. Bija Mantra HRIM-ini adalah mantra Mahamaya atau Bhuwaneswari. HA- artinya Siwa, RA- adlh Prakrti, I- artinya Mahamaya. Nada-ibu alam semesta. Bindu- pengusir kesedihan. Bija Mantra SRIM- ini merupakan Bija Mantra dr Mahalaksmi. SA-Mahalaksmi, RA-kekayaan, I- kepuasan/pemenuhan, Nada- Apara/Brahman yg terwujudkan atw Iswara, Bindu- pengusir kesedihan. Bija Mantra AIM-ini merupakan Bija Mantra dr Saraswati. AI-Saraswati, Bindi- pengusir kesedihan. Bija Mantra KLIM-merupakan Kamabija. KA- penguasa keinginan/ Kamadewa. KA- juga dpt diartikan Krshna. LA- artinya Indera, I- pemenuhan /kepuasan, Nada dan Bindu- yg memberikan kebahagiaan dan kesedihan. Bija Mantra HUM- dlam bija ini HA-Siwa, U-Bhairawa, Nada-yg tertinggi, Bindu- pengusir kesedihan. Bija Mantra GAM-ini adalah Ganesa, GA-ganesa, Bindu-pengusir kesedihan. Bija Mantra GLAUM- ini jg bija mantra Ganesa. GA-ganesa, LA-meresapi, AU- semarak atau cemerlang, Bindu- pengusir kesedihan. Bija Mantra KSRAUM-merupakan bija mantra Narasimha. KSA-Narasihma, RA- Brahma, AU- dengan gigi yg mengarah ke atas, Bindu-pengusir kesedihan. Bija Mantra HRAM HRIM SAH- Hram-ayah illahi, Hrim-Ibu Illahi, Sah-Tuhan; hormat kepada ayah akasa-ibu pertiwi dan Tuhan/Surya.


Tri Logi MAHABARATA

Dalam episode Bharatayuda, didalamnya terdapat kisah Bhagawatgita yaitu kisah awal dari Bharatayuda ketika Arjuna merasa sangat tidak bersemangat untuk berperang melawan Kurawa dikarenakan musuh yang dihadapi masih saudara sendiri bahkan diantara musuh yang harus dihadapi adalah para sesepuh yang sangat dihormati yaitu Resi Bisma, Pendita Durna dll. Arjuna merasa kenapa harus berperang untuk memperebutkan kerajaan, kalau perlu biarlah Kurawa menguasai kerajaan. Sri Kresna memberikan nasihat kepada Arjuna bahkan terpaksa memperlihatkan wujud Wisnu yang sebenarnya untuk meyakinkan Arjuna bahwa : Peperangan Bharatayuda bukan sekedar perang melawan saudara sendiri tapi adalah peperangan suci yang harus dilaksanakan oleh Ksatria Utama sebagai dharmanya / kewajibannya untuk melenyapkan keangkaramurkaan dan kebatilan dimuka bumi. Sri Kresna kemudian juga mengajarkan kepada Arjuna makna hidup, asal kehidupan, dan akhir kehidupan yang mengalir dalam perwujudan Wisnu yang sebenarnya yang dituliskan dalam kisah Bhagawatgita (yang juga menjadi salah satu kitab suci pemeluk agama Hindu). Dalam interpretasi perang Bharatayuda dalam kisah wayang purwo/kulit banyak versi sesuai dengan peresapan masing-masing penggemar ataupun pengamat wayang purwo / kulit yang pada hakekatnya bisa dikatagorikan dalam simbolik berupa perubahan yang bersifat micro (dalam diri manusia sendiri) dan perubahan yang bersikap macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara).

Arti simbolik yang bersifat micro (dalam diri manusia secara individu) Pengertian simbolik perang Bharatayuda dalam diri manusia adalah peperangan dalam diri manusia dalam rangka mengatasi dirinya antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Adalah peperangan yang tiada henti selama hidup dari seseorang sebagai individu untuk mencari nilai budi luhur dan melaksanakan dalam tindakan nyata sehari-hari yang melawan pengaruh buruk yang bersifat kesenangan yang bisa merusak diri dan lingkungannya.


A. Bharatayuda sebagai simbol pertarungan / pergulatan etika baik dan buruk dalam diri manusia: Peperangan dalam diri manusia adalah hakekatnya perang saudara, karena apabila manusia menginginkan sifat baik yang terpancar dalam kehidupannya dia harus berani membunuh sifat buruk dalam dirinya yang berarti membunuh sebahagian dari dirinya.

Betapa sakitnya seseorang yang harus membunuh sifat dalam dirinya yang bersifat kesenangan yang merusak seperti ma-lima (lima M) yaitu (madon, madat, maling, main, mabuk yang artinya madon berarti - kesenangan dengan wanita/ sex diluar pernikahan, madat - kesenangan dengan candu / ganja / ecstacy / heroin / ataupun sejenisnya, maling - kesenangan memiliki hak / kepunyaan orang lain, main - kesenangan berjudi, mabuk - kesenangan minum minuman keras). Kalau seseorang sudah terlanjur mempunyai kesenangan seperti tadi yang merupakan sifat buruk dalam dirinya, seseorang memerlukan sikap sebagai Arjuna yang harus berani melakukan perang Bharatayuda, untuk membunuh sebahagian dari dirinya yang bersifat buruk, betapa hal itu sangat berat dan terasa menyakitkan. Dan apabila sifat Ksatria Utama yang memenangkan peperangan dalam diri seseorang,dia mampu mengatasi dirinya untuk tidak berbuat yang kurang terpuji dan berbudi luhur dalam perbuatan nyata untuk dirinya maupun untuk masyarakat sekelilingnya. Kemenangan dalam peperangan ini sebetulnya perubahan yang nyata dari sifat manusia tersebut dari manusia yang kurang terpuji sifat2-nya menjadi manusia yang terpuji sifat2-nya.

B. Bharatayuda sebagai simbol cara kematian seseorang sesuai dengan karma/ akibat perbuatannya: Dalam kehidupan seseorang selalu diuji keberpihakan-nya terhadap nilai-nilai budi luhur atau kecenderungannya terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya pengaruh2 berbagai budaya dari luar kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara perbuatan etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya yang kadang agak sulit bagi kita menarik garis hitam putih. Tapi kalau kita mengkaji lebih lanjut kisah / lakon dalam wayang purwo/kulit hal tersebut bukan sesuatu yang tidak terdeteksi dalam kisah tokoh2-nya yang selalu bergulat dalam perbuatan yang terpuji maupun kurang terpuji bahkan terhadap tokoh2 yang di-ideal-kan seperti tokoh Pendawa Lima dan Sri Kresna. Hal ini adalah suatu indikasi alamiah ketidak sempurnaan manusia. Wayang purwo / kulit mengajarkan suatu budaya yang sangat bijaksana berkaitan dengan ketidak sempurnaan manusia dengan menciptakan tokoh punokawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, Bagong yang selalu memberikan peringatan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para raja dan ksatria. Kalau punokawan ini secara simbolik diartikan sebagai rakyat dan inilah secara nyata sistem demokrasi dimana kelemahan dan ketidaksempurnaan manusia dicoba diatasi dengan melaksanakan sistem yang saling mengingatkan (check and balance ataupun social control) antara pihak pimpinan / raja, para ksatria, sistim peradilan, dan rakyatnya. Sistem ini menuntut semua pihak rela menerima koreksi / kritik dari pihak yang lain, dan budaya wayang purwo/kulit memberi contoh yang gamblang bahwa Semar maupun punokawan selalu mengingatkan raja / ksatria yang peringatannya / kritiknya diterima dan diperhatikan oleh raja dan para ksatria.

Beberapa contoh kisah pewayangan yang menggambarkan ketidak sempurna-an sifat2 dari tokoh yang dianggap sebagai tauladan :
1. Yudistira/Puntodewo yang terkenal kejujurannya dan kebijaksanaannya sebagai seorang raja ternyata dia mempunyai kelemahan
yang sangat fatal yaitu kesenangannya dengan judi yang kelemahan tersebut dimanfaatkan oleh Kurawa dengan arsiteknya Patih Sengkuni sehingga membawa kesengsaraan keluarganya bahkan sampai dengan negaranya, saudara2-nya, bahkan istrinya - Dewi Drupadi - dipakai sebagai barang taruhan dan sempat sangat dipermalukan didepan umum oleh Dursasono - salah satu dari Kurawa, dan akhirnya membawa Pendawa Lima harus menjalani hukuman dibuang ditengah hutan selama duabelas tahun dan melakukan penyamaran selama satu tahun.
2. Arjuna yang sangat pandai dan sakti ternyata punya kelemahan terhadap wanita yang membawanya dia terkenal kalau dengan istilah sekarang sebagai Don Yuan (biarpun beberapa pakar pewayangan hal ini diartikan sebagai simbol kegandrungan Arjuna akan ilmu pengetahuan sehingga dia selalu berguru kepada Bhegawan dan mengawini anak perempuannya yang diartikan / disimbolkan sebagai menguasai ilmu dari sang Bhegawan).
3. Sri Kresna yang terkenal bijaksana dan dikatakan sebagai titisan Wisnu ternyata kurang mampu mendidik anaknya dan terlalu
memanjakan anaknya yang akhirnya membawa pada karma kematiannya melalui seorang pemburu yang tanpa sengaja memanah kakinya - yang anak panahnya berasal dari perbuatan / kesombongan anaknya Samba (Mohon ber-hati-hati bagi yang merasa menjadi raja - dan saya tidak yakin kalau beliau membaca Internet, dan saya yakin bahwa pembantu2 dekatnya pasti ada yang membaca Internet dan pasti tidak berani mengingatkan sang raja - dan yang memanjakan anak2-nya menjadi orang yang serakah dan angkara murka bahkan Sri Kresna yang titisan dewa tidak bisa lepas dari karma akibatnya).
Contoh2 diatas masih bisa diperpanjang dengan tokoh2 seperti Abimanyu (anak Arjuna) yang membohongi istrinya, Gatutkaca (anak Werkudoro) yang memunuh pamannya sendiri, Resi Bisma yang membunuh wanita yang mencintainya, Prabu Salyo yang membunuh mertuanya, dan yang lain2-nya yang pada suatu saat dalam kehidupannya pernah melakukan perbuatan yang kurang terpuji yang balasan karma dari perbuatan buruknya terjadi pada perang Bharatayuda dan ini menjadi suatu interpretasi simbolik lainnya dari makna perang Bharatayuda secara micro (pada individu) yaitu : peperangan terakhir dari manusia menghadapi karma hidupnya, yaitu cara kematiannya adalah cermin dari seluruh cara dan perilaku seluruh kehidupannya baik ataupun buruk. Arti simbolik yang bersifat macro (dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara)

Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara manusia sebagai individu juga selalu diuji keberpihakan seseorang terhadap kelompok yang punya nilai2 luhur dan kelompok yang cenderung terpengaruh oleh perbuatan buruk. Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya suatu negara dari pengaruh-pengaruh berbagai budaya dari luar sebagai suatu dampak globalisasi kadang2 agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antara kelompok2 yang memperjuangkan suatu etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannya. Kalau melihat contoh2 seperti Yudistira /Puntodewo, Arjuna, dan Sri Kresna seperti tersebut diatas jelas bahwa sebagai manusia mereka tetap mempunyai sifat alamiah tentang ketidak-sempurna-an manusia. Walaupun secara umum atau bisa juga dikatakan bahwa sebagian besar perilaku yang diperbuat bisa dijadikan contoh walaupun tidak lepas dari cacat dan cela. Dengan segala cacat dan cela sebagai individu, secara kelompok mereka mempunyai suatu ciri utama yaitu mengemban tugas Pemimpin maupun Ksatria Utama yang harus selalu menegakkan kebenaran dan memerangi kelompok yang angkaramurka. Dan dari zaman ke zaman selalu saja akan muncul seorang Pemimpin yang memimpin kelompoknya untuk memerangi kezaliman yang merugikan masyarakat/rakyat banyak ataupun pihak2 yang lemah dan tak berdaya. Dan nyata2 bahwa setiap Pemimpin akan mengalami dilema seperti Arjuna yang ragu2 untuk menjalankan perannya untuk menegakkan kebenaran apabila yang dihadapi adalah para Pimpinan bangsanya sendiri, bahkan diantaranya adalah para tokoh yang dihormati seperti Resi Bisma, Adipati Karno yang oleh keterikatan historis (walaupun sebetulnya mereka tidak sependapat dengan kelakuan Duryudono sebagai raja kelompok Kurawa) ataupun dengan sejuta alasan lainnya berpihak kepada yang tidak benar. Dan perang Bharatayuda adalah simbol peperangan yang mungkin bisa timbul didalam masyarakat apabila muncul kelompok yang menjunjung tinggi etika berbudi luhur yang melaksanakan perang suci menghadapi kelompok yang zalim dan angkaramurka agar terjadi perubahan yang nyata menuju suatu tata masyarakat yang lebih baik. Bahwa pada akhirnya Pendawa Lima memutuskan untuk melaksanakan suatu perang Bharatayuda bukanlah suatu proses atau keputusan yang mudah, Pendawa Lima secara nyata telah menjalankan usaha mencegah agar perang Bharatayuda jangan terjadi dengan misi perdamaian - yang terakhir adalah lakon / cerita Kresno Duto yang mengutus Sri Kresna untuk menyelesaikan masalah secara damai yang akhirnya malah menimbulkan kemarahan yang sangat dari Sri Kresna yang hampir saja menghancur-luluhkan seluruh kerajaan Hastinapura. Secara simbolik bisa diartikan bahwa kezaliman dan keangkara-murkaan itu semacam candu/ecstacy, sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya, harus ada pihak2 yang berani memerangi dan menghancurkannya.


Diceritakan bahwa perang Bharatayuda adalah perang yang gegirisi atau sangat menakutkan -tidak ada satupun perang yang tidak menakutkan yang akan meminta banyak korban-dimana akhirnya semua seratus Kurawa dan segala Ksatria yang membantunya habis terbunuh, juga dari sisi Pendawa Lima tidak ada anak2 Pendawa Lima yang bisa lolos dari maut. Kemenangan dari Pendawa Lima harus dibayar sangat mahal walaupun akhirnya Hastinapura bisa menjadi negara yang adil makmur setelah segala keangkamurkaan Kurawa bisa dimusnahkan. Jer basuki mawa bea adalah suatu pepatah Jawa yang artinya - untuk mencapai suatu tujuan selalu ada beayanya.


Kesimpulan


Indikasi masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan yaitu suatu kondisi yang apabila tidak dicermati ataupun disadari terutama oleh pendukung Orde Baru - dikarenakan posisinya yang memegang kekuasaan dan kekuasaan apabila berciri angkaramurka sama dengan ketagihan candu / ecstacy yang punya ciri: sekali kita didalamnya sulit kita bisa dengan mudah menjadi sadar dengan sendirinya - yang bisa menimbulkan suatu situasi radikal para kelompok yang merasa terpanggil untuk melaksanakan pembaharuan yang bisa mengidentifikasikan ebagai kelompok moralis / kelompok pro-demokrasi menghadapi pemerintahan yang zalim yang telah menjalankan Pemilu yang tidak adil, pemerintahan yang penuh korupsi dan kolusi, yang tentaranya menembaki rakyatnya sendiri, melakukan manipulasi undang2 dan peraturan yang menguntungkan kelompoknya, yang anak-anak sang pemimpin ikut campur dalam urusan berusaha dan bernegara seperti layaknya pangeran2 kerajaan dsb. Lambat atau cepat apabila tidak diatasi secara bijaksana bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi perang Bharatayuda dibumi kita tercinta, walaupun kita semua tidak menginginkan, dan adalah sangat alami barangkali juga sebagai hukum alam bahwa selalu akan muncul kelompok moralis yang dengan segala resikonya untuk memerangi pihak yang dianggap menyimpang dari tindakan yang jujur dan terpuji dari waktu ke waktu.


Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan (siapapun yang melaksanakan) yang berorientasi sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.