Jumat, 08 Juni 2012

RENUNGAN ALAM

Suatu hari dalam kondisi yang putus asa seseorang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, bahkan berhenti dari hubungannya dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasnya. Maka dia pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. “Tuhan, berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti” katanya.

Tuhan memberi jawaban yang mengejutkannya. “Lihat ke sekelilingmu”, kataNya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada di hutan ini?” “Ya”, jawabnya.

Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, dan pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah, namun tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tapi Aku tidak berhenti merawatnya.”

“Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya.”

“Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. ”

“Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, yang kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani.”

“Tahukah engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu, Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu”.

Tuhan berkata, “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”
“Saatmu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadanya. “Engkau akan tumbuh sangat tinggi.”
“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyanya. “Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?” Tuhan balik bertanya. “Setinggi yang mereka mampu?” dia bertanya.
“Ya.” jawabNya “Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai.”

Lalu dia pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah menyerah terhadapnya dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.

Senin, 28 Mei 2012

TUHAN DAN MANUSIA (Ku)

Sejak hari pertama manusia muncul, Tuhan mulai bekerja di dalam manusia menuangkan semakin banyak dari dirinya kedalam setiap generasi penerus, mendesak mereka untuk mencapai kemajuan yang lebih besar dan kondisi-kondisi yang lebih baik, sosial, pemerintahan, dan domestik. Mereka yang menelan kembali sejarah purba, melihat kondisi-kondisi buruk yang ada, kebiadaban, pemberhalaan, dan penderitaan, dan membaca tentang Tuhan di dalam kaitannya dengan semua ini dan merasa bahwa dia kejam dan tidak adil terhadap manusia, haruslah berhenti sejenak. sejak manusia pertama hingga sekarang, ras manusia harus maju meningkat. dan hanya bisa di capai melalui penguatan yang berurutan dari berbagai daya dan kemungkinan yang tersimpan dalam otak manusia. Wajar bahwa bagian manusia yang lebih kasar berkembang penuh lebih dahulu, selama berabad-abad manusia itu kasar, lembaga-lembaga domestik mereka kasar, dan apa yang tampak sebagai sejumlah besar penderitaan muncul karena kekasaran ini. Tetapi Tuhan tidak pernah suka pada penderitaan, dan disetiap jaman Dia telah memberi kesan kepada manusia, pesan yang memberitahu cara menghindari penderitaan. Dan selama itu, dorongan kehidupan yang mendesak, penuh kekuatatan, membuat ras manusia terus maju kedepan. Semakin sedikit kekasaran dan semakin banyak Spiritualitas disetiap jaman. Dan Tuhan terus bekerja di dalam manusia. Disetiap tahap terdapat beberapa orang yang lebih maju daripada orang kebanyakan, dan yang lebih pandai mendengar dan mengerti Tuhan dibandingkan sesamanya. Kepada merekalah tangan ruh yang mengilhami diletakkan. Pada orang-orang inilah yang telah mendengar Tuhan, mengucapkan kata-katanya, dan menunjukkan kebenarannya didalam hidup mereka, semua kemajuan sungguh-sungguh terjadi.

Sekali lagi, pertimbangkan sebentar kehadiran apa yang disebut kejahatan didunia, kita melihat bahwa apa yang bagi kita tampak sebagai kejahatan sebenarnya hanya sesuatu yang belum berkembang. Dan apa yang belum berkembang itu sempurna baiknya untuk tahap dan tempatnya sendiri. karena segala sesuatu diperlukan untuk kepenuhan penguakan manusia segala sesuatu di dalam kehidupan manusia adalah karya Tuhan. Untuk menutup pandangan tentang evolusi ini mungkin kita bertanya mengapa semua ini di lakukan, untuk apa? pertanyaan ini seharusnya mudah di jawab oleh akal yang berpikir. Tuhan ingin mengekspresikan dirinya sendiri, untuk hidup didalam bentuk, dan bukan hanya itu, tetapu hidup di dalam suatu bentuk melalui dimana Ia dapat mengekspresikan dirinya dengan Tahap moral dan spiritual tertinggi. Tuhan ingin mengevolusi suatu bentuk dimana manusia dapat memanifestasikan dirinya sebagai mahluk yang sempurna ini adalah tujuan kekuatan evolusi. Dengan berlanjutnya waktu, jaman-jaman perang, pertumpahan darah, penderitaan, ketidakadilan, dan kekejaman telah di lunakkan oleh cinta dan keadilan. Dan ini mengembangkan otak manusia sampai ke titik dimana Ia mampu memberikan ekspresi penuh kepada cinta dan keadilan Tuhan. Akhir ini belum tiba; tujuan Tuhan bukanlah kesempurnaan pada beberapa contoh pilihan untuk pameran, seperti buah-buah berry terbesar yang disusun dibagian atas kotak kemasan, tetap pada kejayaan ras manusia. Saatnya akan tiba ketika terbentuk dunia yang tak mengenal laki-laki, tangisan, tidak ada penderita, karena semuanya sudah berlalu dan disaat itu tak ada lagi malam. 


https://www.facebook.com/notes/bli-tj-garing/tuhan-dan-manusia-ku/10151398656575246

NERIMO

" Nrimo" dalam menjalaninya tidak semudah mengatakannya. Nrimo sering aku artikan sebagai kemampuan berserah pasrah pada Hyang Widi. namun kembali aku menelisik ditengah keramaian pasar dunia; apa sih nrimo ?" sepertinya kata ini mengandung suatu kekuatan magis yang sangat mudah diucapkan. Sering orang disekelilingku mengatakan bahwasanya manusia kudune nrimo; tapi atas dasar apa hal itu diucapkan ? Nrimo menjadi sangat seiring aku dengar disaat seseorang mengalami kesusahan, saat penderitaan tak habis-habis menghantuinya serta berbagai carapun telah dilakukan. bila hal tersebut dikatakan nrimo sungguhlah negatif arti nrimo karena hal ini membuat kita menjadi pasif- bukankah nrimo itu sebuah kesabaran? apabila nrimo menjadi kesabaran, maka yang ditunjukkan pada saat aku mampu menahan apa yang menjadi ketidak cocokanku, baik ketidak cocokan pada nasib-pada kebutuhan dan segalanya.

Nrimo menjadi suatu hal yang sungguh sulit untuk didiskripsikan-dibentuk dan hanya mampu dijalankan; entah menjalani dengan baik dan benar ataukah dengan baik dan salah. Nrimo sebagai suatu batas akhir manusia hidup, dan disini keterkaitan dengan laku dan langkah sangat erat; Nrimo bukan suatu konsep; bukan kondisi diam dan berserah. nrimo adalah suatu tantangan dalam menjalani keidupan yangsesungguhnya; nrimo lahir dari setiap langkah yang aku lakukan-nrimo menjadi barometer atas setiap petunjuk yang aku dapatkan. dan memang untuk saat ini semua sulit untuk di berikan diskripsi yang jelas. Tapi nrimo adalah bentuk aktual dari Krya Yoga, dia ada dan berada di dalam Krya Yoga, menghasilkan berbagai pemaknaan hidup dalam koridor Ikhlas Ing Pandum.Nrimo menghidupkan setiap langkah manusia dan dapat ku rasakan pada langkah yang semakin berat nrimo dapat meringankannya; dan aku ikhlas dalam melangkah menjadikan Nrimo sebagai wujud nyata. 

; bersambung.. tj

Sabtu, 22 Oktober 2011

PELAYANAN TAK DI MULAI DI RUMAH

Karena, apa yang kita lakukan untuk keluarga kita, rumah kita – tak bisa disebut pelayanan. Ini adalah kewajiban kita, tanggungjawab kita. Dan, sehingga, pelayanan tak di mulai di rumah. Pelayanan harus di mulai di luar rumah kita. Pelayanan lahir dari rasa welas asih pada mereka yang jauh dari kita, yang merupakan orang asing, yang tak kita kenal secara personal….Tapi, yang sedang menderita, yang tengah membutuhkan pelayanan kita.’ 

Dengan melayani keluarga kita sendiri, kita tak membuktikan apapun. Kita justru mengingkari ikatan yang kita ciptakan sendiri. Apa yang kulakukan untuk mereka adalah bagian dari tugas keluarga – tak lebih dari itu. Dan, akan tiba saatnya kewajiban semacam itu berakhir. Misalnya saat kamu tak harus lagi membiayai kehidupan anak-anakmu.

Kewajiban pasti berakhir, Pelayanan tak bernah berakhir.

Pelayanan adalah sejenis Persembahan Kasih yang dilakukan tanpa beban apapun. Saat kamu tak harus melakukan sesuatu, tapi kamu tetap memilih melakukannya – maka, kamu menjadi Pelayan.
Sebuah sistem kepercayaan yang memaksamu melakukan pelayanan, sejatinya justru kehilangan rasa pelayanan itu sendiri. Sesungguhnya tak ada satu sistempun yang bisa melahirkan hati yang penuh pelayanan. Pemilik hati yang penuh kasih tak butuh iming-iming untuk melakukan tindak pelayanan. Ia tak butuh kapling di surga yang nyaman setelah kematian. Ia tak butuh motivasi apapun, segala motif luaran, untuk melakukan pelayanan.

Jika kamu merasa iba pada penderitaan rakyat Lebanon hanya karena mereka pemeluk agama yang sama denganmu – maka kamu tak layak disebut pelayan. Kamu harus merasakan bahwa penderitaan mereka karena memang mereka sungguh menderita. Dan, ini sangat tidak manusiawi membuat orang lain menderita. Di balik penderitaan rakyat Lebanon, bukan hanya Israel yang bersalah. Kelompok Hisbullah juga sama salahnya. Mereka seperti negara dalam negara. Dan, oleh karena itulah, Negara Lebanon bersalah pula. Bagaimana bisa mereka membiarkan tumor ganas organisasi militan semacam itu eksis di tubuh negara mereka?

Jika kamu mendukung agresi Israel hanya kerena kamu terlahir sebagai seorang Yahudi, maka kamu menjadi agresif pula. Lantas, kamu juga bersalah karena tindak kriminal dan kekerasan semacam ini. Apakah kamu tak pernah berfikir bahwa kamu bukanlah pelayan dengan mendukung agresi semacam itu?

Pelayanan tak bisa dilakukan dengan hanya mendukung sebuah ideoloi saja.

Pelayanan harus dilakukan untuk mendukung nilai-nilai universal.

Pelayanan macam apa yang terkandung dalam sebuah agresi?

Seorang pengacara atau tim pengacara yang membela teroris juga tak layak disebut pelayan, walau mereka mengkalim demikian. Mereka mengkalim bahwa mereka tak mendapat bayaran dari para teroris tersebut. Itu membuat mereka tak lebih baik dari para teroris itu sendiri. Mereka berjuang untuk sebuah ideologi kekerasan, sebuah ideologi yang tak bisa disebut pelayanan. Kebajikan macam apa yang dilakukan dengan membunuh orang-orang yang tak bersalah, mengebom area publik dan merusak citra negara sendiri?
Sebuah kebajikan selalu membawa kebahagiaan bagi banyak orang, bagi sebanyak mungkin orang, ya sebanyak mungkin. Dan, orang yang penuh pelayanan ialah ia yang terlibat dalam hal semacam ini.
Orang yang penuh pelayanan, seseorang yang hatinya penuh kasih, tak bisa dibatasi dengan empat tembok dalam rumahnya sendiri. Orang semacam ini selalu mencoba keluar dari dalam rumahnya, untuk membebaskan dirinya dari segala kewajiban, sehingga mereka bisa melayani semua.
Dengan mengatakan ini, tentu saja aku tak bermaksud bahwa mereka harus melarikan diri dari tanggungjawab. Tidak. Justru mereka bekerja super keras untuk memenuhi segala kebutuhan mereka, menyelesaikan tanggungjawab atas keluarganya – sehingga dapat melakukan hal lain. Sehingga mereka dapat bergerak dan bertindak demi nilai-nilai yang lebih tinggi.
Donasi, cara ini, adalah hanya satu aspek dari pelayanan. Ini sama sekali bukan aspek satu-satunya. Dalam realitasnya kamu tak dapat mendonasikan apapun tanpa rasa pelayanan. Saat kamu mendonasikan secara tak ikhlas, kamu tak bisa di sebut pelayan. Ini juga tak bisa di sebut pelayanan saat kamu membagi unag supaya mendukung partai tertentu yang memiliki agenda terselubung dalam pemilu. Setiap donasi yang diberikan, setiap tindakan pelayanan yang dilakukan, segala sesuatu yang dilaksanakan dengan ekspetasi tertentu – tak bisa disebut sebagai pelayanan.
Pelayanan dilakukan tanpa mempedulikan hasil.
Pelayanan dilakukan semata karena kamu penuh kasih. Ini adalah bagian dari fitrahmu. Segala sesuatu yang tak alamiah – bukanlah pelayanan.
Belajarlan menjadi pelayan dari alam sekitarmu.
Matahari memberimu cahaya tanpa ekspektasi apapun. Bulan bersinar tanpa berharap balasan. Angin berhembus karena memang berhembus adalah perannya dalam alam ini. Air mengalir atas iramanya sendiri. Dan, kita menerima rahmah, manfaat dari mereka semua. Kita mengambil manfaat dari mereka karena semata menjalankan peran dalam alam ini. Mereka tak menginginkan hal yang lain.
Dengan menjadi pelayan, kita menjadi diri kita sendiri.
Dengan menjadi arogan dan tak melayani, kita melawan takdir kita sendiri. Sebagai akibatnya kita menciptakan masalah bagi diri kita sendiri.
Dengan menjadi pelayan, kita tak melakukan apapun demi kebaikan orang lain.
Sesungguhnya, sebuah tindakan pelayanan bermanfaat bagi diri kita sendiri – karena ia menghubungkan kita dengan takdir kita! Jadilah seorang pelayan, sehingga, ini demi kebaikan diri kita sendiri.
Keluar, tinggalkan cangkangmu, dan terjunlah ditengah-tengah mereka yang miskin, rapuh, tak berdaya…Rasakan penderitaan mereka, rasa lapar dan kehauasan mereka….rasakan itu semua sampai air mata menetes dari kelopak matamu dan hatimu berdarah…Dan, kamu akan secara otomatis sekali bergerak untuk melayani mereka. Pelayanan macam ini menjangkau mereka yang paling diabaikan, menurut pendapatku, ini adalah pelayanan yang sesungguhnya.

Kamu tak harus menunggu pers datang dan meliput aksi pelayananmu ini. Pelayanan tak ada kaitannya dengan liputan media. Hari ini koran masih berharga untuk dibaca besok hanya menjadi limbah kertas saja. Jadi, jangan terlalu menghiraukan liputan media!

Jangan kamu bertindak seperti para politisi malang dan partai politik yang menghamburkan uang untuk iklan dan kampanye tentang pelayanan ketimbang melakukan tindakan pelayanan itu sendiri!

Hal lain yang amat penting. : Menjadi pelayan berarti juga menjadi amat cerdas. Pelayanan adalah sebuah tindakan yang berasal dari pikiran yang tajam. Otak yang tumpul hanya bisa mendonor uang dan mereka tak bisa melayani. Dan kita, kita telah melihat perbedaan antara keduanya. Orang yang tumpul pemahamannya tak bisa melakukan pelayanan – paling banter mereka bisa membantu. Dan, hal ini menggelembungkan ego mereka. Bantuan semacam ini tak meningkatkan kesadaran mereka sama sekali.

Beberapa waktu lalu ketika rangkaian gempa bumi meluluh–lantakkan kota Jogjakarta, banyak orang, organisasi, bahkan pejabat datang untuk membantu. Saat ini mereka tak begitu lagi membutuhkan pangan, obat dan pakaian. Teman kita yang mengikuti perkembangan situasi ini dari dekat dan intens memutuskan untuk melayani dalam satu hal yang amat spesifik yang tak seorangpun sama sekali memikirkannya, yakni membantu mereka mengatasi stres dan trauma. Untuk mengangkat kembali semangat mereka dan energi kehidupan sehingga mereka dapat kembali bekerja tak hanya mengantri di depan dapur umum gratisan yang banyak tersebar di daerah tersebut. Mereka berhasil, dan Pemerintah daerah mengetahui hal ini dan mengunjungi posko mereka, bahkan bernyanyi dengan mereka. Ini adalah cara yang cerdas untuk melakukan pelayanan. Ini menjadi sebuah pelayanan dalam arti yang sesungguhnya.

Curahkan waktumu; berikan energimu. Pada hal yang penting. Banyak orang bisa memberi uang, tapi hanya sedikit yang benar-benar bisa memberikan waktu dan energinya. Jangan kamu menjadi bagian dari banyak sukarelawan yang sering kamu lihat, tak satupun dari mereka yang benar-benar sukarelawan. Sebagian besar dari mereka dibayar, entah oleh pemerintah atau oleh institusi yang mereka wakili. Banyak dari mereka yang disewa oleh apa yang di sebut LSM, mereka menuntut bayaran lebih banyak ketimbang gajimu dan gajiku. Mereka adalah pekerja biasa, mereka bekerja untuk hidup. Mereka mendapat bayaran untuk pekerjaan mereka. Dan tak pantas disebut pelayan.

Aku tak mengatakan bahwa mereka tak dibutuhkan. Mereka dibutuhkan juga. Tapi mereka bukanlah sukarelawan dalam arti kata yang sebenarnya. Mereka pekerja bayaran. Mungkin instrtusi yang mereka wakili menyebut sebagai pelayan. “Mungkin”, karena walau tetap ada pengecualian. Banyak institusi yang memiliki agenda terselubung yakni mempromosikan ideologi tertentu lewat karya pelayanan mereka.

Sepenuhnya pilihan ada ditanganmu, sekarang – kamu mau menjadi pelayan atau pekerja bayaran. Jika kamu memilih menjadi pelayan, maka persiapkan dirimu untuk waktu-waktu yang penuh kerja keras di masa depan. Karena pelayanan menuntut pengorbanan. Pelayanan sinonim dengan pengorbanan. Hanya meluangkan sejumlah waktu dan energi untuk cita-cita ini mungkin tak bakal cukup. Kamu harus menyerahkan kepalamu untuk ini. Dan itulah Puncak Tindakan Pelayanan.