Minggu, 25 September 2011

BELAJAR TANPA AIR MATA

Keberhasilan dan kegagalan. keduanya bagaikan sisi yang tak terpisahkan dari satu mata uang logam yang sama. Kita tidak dapat memilih satu sisi saja. bayangkan satu coin hanya dengan satu sisi. Apa nilainya ? Mungkin daya tarik bagi para kolektor, tetapi tetap tidak memiliki nilai nominal. Orang awam tidak akan menghargainya. kolektor yang tidak tertarik dengan koleksi mata uang, tidak akan menghargainya pula. Misalnya kolektor prangko. Dia tidak akan tertarik sama sekali. Apabila pengalaman kita terbatas pada satu sisi kehidupan, kita miskin sekali. Kita bagaikan uang logam dengan satu sisi. Ya, kita akan dihargai oleh kolektor, oleh suatu kelompok yang terbatas. Kita bisa saja menjadi selebriti, tetapi kita tidak dapat merakyat. kita terjebak ke dalam suatu perangkap. Gerak-gerik kita akan terbatas dalam satu lingkungan saja kita akan menjadi seorang penakut. Kita akan takut kehilangan lingkungan tertentu, karena hanya lingkungan itulah yang menghargai kita. Dunia kita menjadi begitu sempit, begitu terbatas. 

Hal inilah yang terjadi pada mereka yang hidupnya dipenuhi oleh satu macam pengalaman saja. Hidupnya menjadi hambar, tanpa rasa; tidak ada warna dalam kehidupannya. Kita menjadi tumpul tidak ada lagi kepercayaan diri. Kita kehilangan kepercayaan diri. Kita akan percaya pada keberhasilan kita saja. hanya pada harta yang kita peroleh berkat keberhasilan kita; dan suatu saat dimana kita sangat membutuhkan keberhasilan, yang mengunjungi kita ternyata kegagalan. kita akan kecewa, gelisah, putus asa, mungkin menjadi gila. kita jatuh dan sulit sekali untuk bangkit kembali. 

Nikmatilah keberhasilan kita, tetapi jangan mempercayainya. keberhasilan kita bersifat sementara, begitu pula kegagalan kita. Terimalah kegagalan kita, sebagaimana kita telah menerima keberhasilan kita. 

Ingat akan satu hal, hanya lewat stress yang berat, kita akan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi. hanya saat-saat penderitaan, kita akan mulai menghargai kebahagiaan. Hanya pada saat lapar kita akan benar-benar menikmati makanan. Sebelum lapar benar, ya apabila dipaksa, kita bisa saja makan, tetapi kita akan merasa mual dan muak. Makanan yang berlebihan tidak dapat dicerna, bahkan akan mengganggu kesehatan kita, kita sebenarnya hanya menjejali perut kita, tidak ada lagi rasa nikmat. ini sangat membahayakan kesehatan kita. Tapi saat kita lapar, sistem kita betul-betul siap menerima makanan. Pada saat itu, jika kita makan kita akan mampu menikmatinya, mencernanya, menyukainya. Cobala eksperimen ini!

Penderitaan ibarat pengalaman kita pergi kesekolah untuk pertama kalinya. Mungkin diantara kita ini banyak yang akan masih ingat, betapa tidak enaknya pergi kesekolah, sewaktu kita masih kecil. Kita berusaha untuk menjauhinya. Satu hari alasannya sakit perut, hari lain sakit kepala. Kita akan berusaha mendapatkan alasan-alasan baru, sehingga kita tidak perlu masuk sekolah, bolos hari ini bolos hari itu, sekarang, baru kita menyadari bahwa tanpa sekolah tanpa pendidikan, kita tidak akan pernah mencapai tingkat sosial dimana saat ini kita berada. kita tidak dapat meraih gelar, mendapatkan pekerjaan-hidup kita akan tersia-sia.

Kebahagiaan ibarat liburan sekolah. Nikmatilah liburan kita, lepaskan ketegangan, kecemasan dan segala macam jadwal pelajaran-rileks! namun jangan lupa, begitu selesai liburan, kita harus kembali masuk sekolah. Pahamilah hal ini dengan baik, dan kita akan mampu belajar tanpa air mata. Kita akan mampu menikmati sekolah kita, kita akan mampu membebaskan diri kita dari rasa sakit, rasa takut dan lain sebagainya. Yang dibutuhkan hanya sedikit pengalaman, tentang sekolah kehidupan ini.           

Bekal Yang Tidak Akan Basi

Begitu agungnya kehidupan ini! perjalanan hidup yang sedang kita tempuh ini tak pernah berakhir. kita membutuhkan koper perjalanan yang kuat, awet dan tidak aus karena waktu. "Kasih" adalah satu-satunya merek yang dapat diandalkan. Jangan memilih sesuatu yang lebih rendah mutu dan nilainya. Jangan menawar. Berapa pun harganya, belilah ! Berapa pun yang kita harus bayar, tetap masih murah. Kasih akan mewarnai perjalanan hidup kita dengan kepercayaan diri. Dengan kasih, perjalanan hidup kita akan lebih nyaman. 

Dengan kasih, kini kita dapat menikmati dan merayakan kehidupan kita sambil menari, menyanyi dan bergembira ria !


  
 

Lembayung Derita


Desiran kehidupan yang menyakitkan membawa seorang bidadari jelita terjatuh ditengah padang kehidupan yang sangat luas; menebak langkah kakinya dan menghitung hingga tidak mampu lagi bersuara. Dalam pekatnya pikiran dan malam mencoba mengartikan seluruh derita yang dimiliki dengan kemampuannya yang saat ini terbatas. 

Kembali wajah tertunduk dengan dalam- seakan wajah tidak lagi memiliki keberanian menantang sang rembulan, wajah itu penuh garis-garis kenistaan. Dengan lembut sang kalbu menggenggam pikiran sambil berucap rendah, dapatkah kau saat ini terdiam sejenak, pikiran, selama ini kau telah memberikan nikmat yang membara- nikmat yang tidak pernah habis hingga ketika semua ku sadari itu hanya menjauhkanku dari kebahagiaan. Pikiran diamlah sejenak-biarkan aku ibumu sang kabu memberikan sedikit kekuatan untuk tubuh ini-kau rasakan bagaimana menggigilnya kulit halus terkena goresan angin ? kau telah tahu betapa perihnya telapak kaki menginjak bara dan onak duri sampai semua tidak mungkin dirasakan ? 

Bunda kalbu; aku pikiran hanya membawamu pada keinginan; aku mengertikan semua yang ada di dunia ini sebagai aku melihatnya. Sebaik apapun harap yang telah kau utaran aku hanya bisa mengabaikannya, bukan untukku semua ini. Lihatlah saat ini tubuh kulihat tanpa busana indah-penuh robekkan dan sebagaian kulitnya telah memerah karena sang mentari merabanya. Kulihat sebagian tubuh itu masih mengharapkan dirimu kabu-sebagian lagi telah aku hancurkan dengan segala tipu muslihatku; namun kini aku mengerti semua ini satu adanya-ragamu oh sang bidadari tidaklah secantik kelahiranmu- namun tidaklah sia-sia semua yang telah kau lakukan karena aku telah memberikan dirimu pengetahuan untuk lepas dari semua ini, bidadariku sayang kembalilah bangkit-dan bunda kalbu aku akan berteriak lantang pada rasa malu yang telah lama tertidur dan akupun akan berkata keras pada kepedihan untuk tidak lagi menyaksikan kembang nafsu yang tertidur lama di atas tubuh ini. Kalbu harapmu akan menjadi pelta bagi raga yang telah lama dijamah sang kala; tuntaskan seluruh permaianan jemarinya yang telah membuat raga tidak lagi memiliki keharuman karena tetesan air liur yang tidak lagi mampu ku hapuskan

Minggu, 29 Mei 2011

BOCAH BAJANG DAN SEMAR

Bocah Bajang nggiring angin
anawu banyu segara
ngon-ingone kebo dhungkul
sa sisih sapi gumarang

Teks empat baris yang menggambarkan Bocah Bajang (anak yang tidak bisa besar atau cacat) tersebut merupakan salah satu Jineman atau lagu yang selalu dikumandangkan pada pegelaran Wayang Purwa, khusus untuk mengiringi munculnya tokoh Semar pada waktu goro-goro. Hal tersebut tidak secara kebetulan, tetapi merupakan sebuah ekspresi kreatif untuk menyampaikan sesuatu makna yang dianggap penting, melalui lagu Bocah Bajang dan wayang Semar.

Semar dan Dewa Ruci, keduanya merupakan gambaran Kesempurnaan
yang tinggal dan hidup dalam manusia yang lemah dan cacat.
(lukisan karya: herjaka HS, tahun 2003)

Tokoh Semar mempunyai sifat pribadi yang mendua. Ia adalah dewa bernama Batara Ismaya, yang manitis (tinggal dan hidup) pada seorang manusia cebol, berkulit hitam, bernama Ki Semarasanta. Bentuk wayangnya pun dibuat mendua: bagian kepala adalah laki-laki, tetapi payudara dan pantatnya adalah perempuan. Rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak, tetapi sudah memutih seperti orang tua. Bibirnya tersenyum menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan, tetapi matanya selalu basah seperti sedang menangis sedih. Oleh karena serba misteri, tokoh Semar dapat dianggap dewa, dapat pula dianggap manusia. Ya laki-laki, ya perempuan, ya orang tua dan sekaligus kanak-kanak, sedang bersedih tetapi dalam waktu yang sama juga sedang bergembira. Maka tokoh ini diberi nama Semar asal kata samar, yang berarti tidak jelas.

Sebuah dugaan, tokoh Semar dalam Pewayangan merupakan perwujudan dari kerinduan manusia dalam pengembaraannya menyelami yang Ilahi. Dikarenakan Hyang Maha Sempurna itu tidak kelihatan, tidak bisa diraba, jauh tak terbatas, dekat tidak bersentuhan, maka sulitlah untuk menggambarkannya. Oleh karena kekurangannya, kelemahannya dan cacat-cacatnya, manusia hanya dapat menggambarkan ketidakmampuannya menggambarkan yang Ilahi. Maka yang muncul kemudian adalah bentuk yang tidak sempurna. Lahirnya karya yang disengaja tidak sempurnya seperti wayang Ki Semarasanta atau Semar, merupakan sebuah konsep kerendahan hati, penyadaran diri dan keterbukaan pribadi akan kelemahannya, kekurangannya, cacat-cacatnya. Karena dengan sikap tersebut manusia diyakini mampu nglenggahake (menghadirkan dan mendudukkan) yang Maha Sempurna.

Selain tokoh Semar atau Ki Semarasanta, manusia cebol berkulit hitam yang dimaksudkan untuk nglenggahake kesempurnaan yaitu Bathara Ismaya, di pewayangan juga ada tokoh lain yang dibuat bajang, kerdil, untuk tujuan yang sama yaitu: Sang Hyang Pada Wenang dan Dewa Ruci.

Untuk menandaskan munculnya tokoh Semar atau Ki Semarasanta, manusia cacat yang berpribadi mendua, diiringi dengan lagu Bocah Bajang sedang membawa binatang piaraan yang mempunyai sifat mendua pula. Yaitu Seekor Kerbau, binatang yang bodoh dan tumpul otaknya, menggambarkan kelemahan manusia. Dan seekor Sapi Gumarang, binatang yang cerdas dan mempunyai tanduk sangat tajam, menggambarkan ketajaman manusia akan misteri Ilahi.

Dari paparan tersebut tokoh Semar yang diekspresikan ke dalam bentuk wayang dan tokoh Bocah Bajang yang di ekspresikan ke dalam lagu jineman, mempunyai inti makna yang sama. Ke duanya memberikan gambaran bahwa dalam diri manusia yang serba kekurangan, lemah dan cacat bertahtalah Yang Maha Sempurna.

Dalam usahanya mengharmoniskan antara sifat yang serba kurang, lemah dan cacat di satu sisi dan sifat yang serba sempurna di sisi yang lain, manusia membutuhkan perjuangan panjang, sepanjang umur manusia itu sendiri. Seperti Bocah Bajang nggiring angin dan nawu segara.