Minggu, 17 April 2011

MANTRA DAN YANTRA

Dalam Studi singkatnya tentang Pancayajna di India dan Bali (Pancayajnas in India and Bali, 1975, Dr. C. hooykaas) telah membuat studi perbandingan tentang dewayajna, Pitrayajna, manusayajna dan bhutayajna antara India dan Bali dengan mengambil bahan sumber tertulis dan tradisi yang berlangsung. Hoykaas melihat esensi pelaksanaan yajna tersebut tetap sama.

Yajna berasal dari bahasa Sansekerta, terbentuk dan akar kata yaj berarti memuja, menyembah. Pemujaan atau penyembahan tersebut ditumbuhkan untuk mencangkup aspek-aspek kehidupan yang beragam serta aksistensi kehidupan sebagai suatu kesatuan. Secara sepintas yajna terlihat sebagai suatu ritualistik, tetapi sesungguhnya di dalamnya terkandung aspek sosiologis, kosmologis dan religio-filosofis.

Lewat Gita dapat kita ketahui ada Yajna-Purusa, mahluk tertinggi yang bertindak sebagai penguasa yajna. Awalnya Prajapati-Brahma, Tuhan sebagai pencipta diidentifikasikan sebagai penguasa yajna. Namun kemudian Beliau yang meresapi semuanya menjadi yajneswara, yajna bhrit, yajna bhawana, yajna bhoktra, dan sebagainya. Dialah yang menenima semua kewajiban dalam semua yadjna di seluruh jagat (Gita, V. 29; IX.23). Maka kemudian timbul kesadaran. bahwa manusia harus melaksanakan yajna, karena yajna-cakra adalah hukum kesemestaan yang tak dapat dihindari oleh manusia. Tanpa melaksanakan yajna, manusia hidup sia-sia.

Selanjutnya untuk masyarakat luas dirumuskan adanya panca mahayajna terdiri atas dewayajna, pitrayajna, resiyajna, manusa yajna dan bhuta yajna. Pancamahayajna tersebut sesungguh-nya adalah sebuah kesatuan, muncul dari pemikiran tentang kesatuan semesta. Alam semesta adalah satu kesatuan dan saling bergantung satu sama lain. Tidak ada benda mengada sebagai eksistensi yang terpisah dari yang lain. Setiap orang bergantung pada yang lain atas kelahiran fisik, eksistensi, pengetahuan dan kebudayaan dan keperluan lainnya. Setiap orang dihubungkan dengan Realitas Tertinggi yang satu dan sama. Tak ubahnya dengan gelombang-gelombang ombak dengan samudera. Jadi, setiap orang pada dasarnya berhutang budi pada yang lainnya dalam cara yang berbeda. Adalah wajib bagi siapa saja untuk membayar utang (Rna) kepada yang lain. Hutang-hutang tersebut adalah dewarna, pitrarna, resirna, manusarna dan bhutarna. Panca Rna inilah melahirkan pancamaha yajna. Begitu sentralnya kedudukan yajna dalam agama Hindu, sehingga banyak hal berhubungan dengan yajna seperti tapa, japa, mantra, mudra, yatra, acara, upakara, diwasa dan yang lainnya. Demikian pula dengan yoga, dan sang muput yajna sebagai seorang yogi. Hubungan satu dengan yang lainnya diuraikan secara ringkas berikut ini.

YAJNA: Mantra dan Yantra
Dr. .R. Cons dalam disertsinya secara luas membahas kitab Bhuwanakosa, yang disebutkan sebagai tulisan teologi yang paling tua ditemui dalam tradisi jaya Kuna, memuat sloka-sloka Sansekerta, yang kemudian disimpan dan dipelajari oleh para pandita di Bali. Goris juga menjelaskan bahwa sejauh ini tulisan-tulisan teologi yang muncul kemudian, mengambil bahannya dan karya tertua bersifat Siwa-siddhanta tersebut.
Menurut Bhuwanakosa uraian penghargaan dan yang terendah sampai yang tertinggi adalah: arcana, mudra, mantra, kutamantra, dan pranawa. Dalam pelaksanaan yajna semuanya merupakan sebuah kesatuan.
Yang dimaksud arcana di sini adalah berbagai bentuk simbol-simbol keagamaan, termasuk upakara (banten) dan juga yantra. Yantra umumnya berarti alat untuk melakukan pemusatan pikiran, dapat berbentuk pratima atau mandala. Yantra dapat berbentuk diagram, dilukis atau dipahatkan di atas logam, kertas atau benda-benda lain yang disucikan. Yantra secara simbolik adalah tempat mensthanakan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi seorang pemuja Saraswati aksara atau lontar/kitab adalah yantra. Di tempat lain daksina (banten daksina), atau catur (banten catur) adalah yantra. maka Yantra adalah alat sejauh itu berguna sebagai obyek untuk memusatkan pikiran, tetapi sekaligus juga dapat menerima turuninya Dewa yang dipuja.

Mudra berasal dari akar kata mud berarti “membuat senang”. Mudra diyakini membuat Dewata yang dipuja senang. Terdapat 108 mudra, 55 di antaranya yang biasa digunakan. Mudra yang dimaksudkan disini adalah sikap-sikap ketika memuja, dilakukan dengan posisi tangan dan jari-jari tertentu, termasuk sikap badan seperti dalam latihan yoga. Matsya mudra misalnya dilakukan ketika mempersembahkan Arghya, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di punggung tangan kiri lalu direntangkan, seperti sirip kedua ibu jari, dan sungu yang berisi air diandaikan samudera lengkap dengan ikan-ikan di dalamnya. Di samping untuk menyenangkan Dewata, mudra juga diyakini dapat memberikan siddhi, dan pelaksanaannya dapat memberikan keuntungan bagi tubuh seperti kestabilan, kekuatan dan penyembuhan penyakit. Mudra adalah hal yang sangat penting bagi para sulinggih di Bali dalam pelaksanaan yajna (Kat Angelo, Mudra’s on Bali, 1992). Setelah mudra kita masuk ke dalam hal yang sangat penting yaitu mantra, kuta-mantra dan pranawa mantra. Mantra yang disusun dengan aksara-aksara tertentu, diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sedangkan aksara-aksara itu sebagai perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki, mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengan swara (ritme) dan warna (bunyi). Mantra itu mungkin jelas dan mungkin tidak jelas artinya. Kuta-mantra atau wija-mantra, misalnya Hrang, Hring Sah, tidak mempunyai arti dalam bahasa sehari-hari. Tetapi mereka yang sudah menerima inisiasi mantra mengetahui bahwa artinya terkandung dalam perwujudarmya itu sendiri (swa-rupa) yang adalah perwujudan Dewata yang dipuja. Untuk memahami hal ini terlebih dahulu kita harus memahami proses lahirnya mantra atau wijamantra itu sendiri. Seperti halnya antariksa gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan udara (wayu), karena itu di dalam rongga tubuh yang menyelubungi jiwa gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan pranawayu dan proses menarik dan mengelurkan nafas. Shabda pertama kali muncul di muladhara-cakra dalam tubuh. Bunyi yang teramat lembut yang pertama kali muncul di dalam Muladhara disebut para, berkurang kelembutannya ketika sudah sampai di sanubari yang dikenal dengan pasyanti. Ketika mencapai buddhi, bunyi itu sudah menjadi lebih kasar lagi disebut Madhyama. Akhirnya sampai kepada wujudnya yang kasar, keluar melalui mulut sebagai waikhari. Substansi semua mantra adalah Cit, dengan perwujudan luarnya sebagai bunyi, aksara, kata-kata. Maka aksara itu sesungguhnya adalah yantra dan aksara atau Brahman yang tak termusnahkan.
Beberapa proses harus dilakukan sebelum mantra itu dapat diucapkan, seperti penyucian mulut (mukha soddhana), penyucian lidah (jihwasoddhana), penyucian terhadap mantra itu sendiri (ashaucabhanga) dan lain-lain. Yang intinya segalanya dalam suasana penuh kesucian.

Pranawa mantra adalah OM, yang merupakan intisari dari semua mantra. Dan OM inilah merupakan intisari bentuk yajna atau pemujaan. Om disthanakan oleh para sadhaka di dalam sari alam semesta dalam wujud ghreta (susu), taila (biji-bijian, benih) dan madhu (madu). Bentuk-bentuk upakara yang lain yang bahannya diambil dari isi jagat (isin pasih, isin tukad, isin danu, isin alas dsb) yang kemudian dijadikan yantra, dimaksudkan untuk dihidupkan, ditegakkan dan dirahayukan kembali (winangun urip, panyegjeg jagat, bhuta hita, jagathita, sarwaprani hita).

YAJNYA : YOGA DAN YOGI
Uraian singkat di atas telah menyiratkan bahwa pelaksanaan yajna atau pemujaan sesungguhnya adalah proses yoga. Mantra dan yantra misalnya adalah jalan bagi seseorang yogi untuk mencapai tujuan yoganya. Menurut ajaran yoga tantris, sifat imanensi yang mutlak dalam semesta alarn dan dalam diri manusia sebagai bagian dan semesta alam, dapat dibedakan menjadi tiga bentuk: niskala (immaterial), Sakala-niskala (materialimmaterial) dan sakala (material) Niskala dipakai dengan bentuknya sebagai hakikat terdalam segala sesuatu. Dalam kaitannya dengan yoga, niskala berarti lubuk hati seseorang, jiwanya yang paling dalam. Yang mutlak bersifat sekala-niskala bila mulai terwujud dalam hati seorang yogi, materialisasinya mencapai puncaknya, bila dalam keadaan sekala yang mutlak menjadi objek pencerepan (persepsi) panca indera, misalnya bersemayam atau bersthana (supratistham pinratistha) di dalam sebuah benda yang disucikan (yantra). Dengan mengadakan konsentrasi terus-menerus seorang yogi seolah-olah menghimbau yang Mutlak untuk meninggalkan keadaan niskala-nya sehingga menampakkan diri di hadapan mata batin dalam keadaan sakala-niskala sambil bersemanyam di hati seorang yogi. Sang yogi lalu menarik Yang Mutlak ke atas, meninggalkan tubuhnya lewat Siwadwara (sahasrapadma : bunga padma berkelopak seribu), yang berada di dalam kepala, lalu menghimbau Yang Mutlak bersthana di suatu benda atau tempat suci. Obyek ini lalu menjadi sarana untuk mengadakan kontak dengan Yang Mutlak dalam keadaan yang Skala, yang telah disthanakan di dalam Padmasana, sanggartawang dan lain-lain. Praktek yoga seperti inilah yang dilaksanakan oleh para seulinggih, tepatnya para sadhaka. Maka seorang sadhaka adalah beliau yang, melaksanakan sadhana. Di Bali sasana yang dipakai landasan disebut juga dalam Wrehaspatitattwa, Tattwa jnana, Jnan sidhanta dan lain. Antara lain diuraikan ajaran asthanggayoga terdiri atas Yama, Nyama, Asana Pranayama, Pratihara, Dharma, Dhyana, dan Samadhi. Jelasnya seorang Sadhaka yang biasanya memimpin yajna adalah seorang Wrati, beliau yang melaksanakan Wrata (brata). Brata banyak sekali jenisnya, diantaranya yang penting misalnya ialah yang dilakukan pada han Siwaratri, terdiri atas Upawasa, Mona dan Jagra. Brata diyakini akan menghasilkan punya (kekuatan positip, dan dapat melenyapkan papa (kesengsaraan). Dengan demikian aktifitas yajna sesungguhnya adalah praktik yoga. Yajna dilaksanakan pada hari suci (subha diwasa) misalnya pada hari Tilem, Purnama; dilaksanakan pada suatu tempat terpilih (tempat suci). Maka aktifitas yajna adalah sebuah totalitas kesemestaan.

SAT CIT ANANDA
Yajna merupakn basis kehidupan yang antara lain menjadi sumber inspirasi dan kreatifitas umat Hindu. Maka yajna memberi kekuatan hidup; pikiran-pikiran segar dan suci senantiasa diperlukan dalam setiap kehidupan, pada setiap zaman.
 
Pelaksanäan yajna ditentukan juga oleh ruang dan waktu (desa-kala) lalu menyadarkan manusia (patra) tentang posisinya di alam semesta alam raya ini, serta hakikat dirinya yang merupakan putra Sang Abadi (Amretsyah Putrah). Manusia dengan demikian membangun sifat tyaga (ikhlas) dalam diri, melakukan pengorbanan bagi kerahayuan masyarakat luas, dan untuk mencapai tujuan kehidupan yaitu Sat Cit Anandam.

Yadnya adalah jalan kesucian, karena dengan melaksanakan yajna sesungguhnya manusia menyucikan dirinya, dan menyadari bahwa hakikat dirinya adalah suci. Oleh karena itu tapa, yajna, kirti dan yoga yang merupakan jalan kesucian mendapat tempat yang sangat mulia dalam agama Hindu.

sumber [WHD No. 516 Desember 2009].

Jumat, 11 Februari 2011

Merah darah Ku Putih Tulang Ku

Salam Merdeka.

Ingin rasanya saya katakan lewat suatu pembicaraan lisan dengan anda bapak Presiden RI bapak Soesilo Bambang Yudhoyono, apa yang telah bapak lakukan sudah lebih dari cukup untuk negeri ini, namun negeri ini belum lah cukup memberikan apa yang bapak pinta, segala yang telah dilakukan secara nyata ataupun tidak nyata telah saya baca, semua adalah hasil kerja keras, bapak yang selalu siap disaat situasi apapun, berusaha menjaga tubuh yang sehat dan kuat untuk menghadapi situasi apapun yang akan terjadi pada negara Indonesia. Bapak pun sebagai kepala rumah tangga yang mesti mendidik anak-anak menjadi teladan, walaupun terkadang melupakan arti sebuah kebahagiaan keluarga. Tetap bungkam disaat Ibu Any membicarakan kenakalan anak dan tetap bungkam disaat kesalahan telah dilakukan untuk menjalani tugas sebagai seorang kepala negara dan juga hampir melalaikan tugas sebagai seorang kepala rumah tangga.

Pak SBY, sekian kali saya bertanya dengan alam keheningan dan alam tetap menjawab " jika api yang ada hanya untuk manusia yang sejati ", dan api itu telah bapak genggam, genggam erat, hingga tangan dan tubuhpun sudah hampir terbakar. Panasnya api wahyu yudho yudhi telah bapak genggam seorang diri.

Pak SBY, BERTAHALAH - HINGGA MASA KEPEMIMPINAN INI HABIS, saat itulah kala cakra akan turun ke bumi Indonesia dan kala cakra akan berbicara dengan mendung putih.




Selasa, 28 Desember 2010

ARTI KATA NUSANTARA

Boedak Satepak 26 Desember jam 11:14 
Sampurasun...!
***catatan :


RA = SINAR / Matahari
DEWA = CAHAYA / Rambatan cahaya Matahari
SANG = CA'ANG / TERANG

Karuhun Sunda ternyata sudah lebih dulu memahami bahwa; Seluruh benda langit yang mengelilingi Matahari itu BERASAL dari Matahari juga...(pecahan) dan posisi Planet Bumi adalah ruang langit yang paling sempurna untuk kehidupan Manusia berdasarkan jarak radial Matahari yang paling ideal... (*sabab deukeut teuing mah panas... jauh teuing nya ti'is).

Sehingga... Karuhun Sunda mengatakan bahwa :
  1. MANUSIA dan mahluk hidup lainnya TERCIPTA dari BUMI, maka mereka menyebutnya sebagai BWA-ACI atau "Aci ning Bumi" .
  2. BUMI (*dan benda langit lainnya) TERCIPTA dari MATAHARI... itu sebabnya mereka menyebut Bumi sebagai BWA-NA (*Na = Api).
Berdasar pada pemahaman tentang adanya ajaran Matahari, Api, Bumi dan Manusia maka kita dapat mengidentifikasi tentang asal kata "SUNDA"... (*SU-NA-DA), tentu saja ini bukan yang paling benar... tapi kita tidak boleh terlepas dari KONTEKS dan LOGIKA... agar tidak menjadi ilmu GATUK.

  1. SU = merupakan inti ajaran Matahari (Surya) "Kebijakan - Kebajikan" yang prinsipnya mengacu kepada sifat-sifat Sang Hyang Manon (Surya / simbol Sang Hyang), sebab ia mengawali dan memberikan segala kehidupan bagi manusia serta mahluk lainnya yang ada di Bumi...tanpa pilih-kasih... dan Matahari itu adalah "RA".... (*RA = Sinar = Maha Cahaya = Matahari = simbol Sang Hyang = MAHADEWA).
  2. NA = "Api" merupakan kesadaran tentang konsep BWA-NA, atau Bumi yang pada mulanya merupakan kesatuan dari Matahari (BUR / Maha Cahaya), atau API itu merupakan perwakilan dari MATAHARI di Bumi.
  3. DA = artinya Besar... Gede... atau Agung.
Maka kristalisasi dari SU-NA-DA itu adalah SUNDA yang nilainya sama saja dengan "RA". 
Dengan demikian :
"RA" = MATAHARI, MAHACAHAYA, MAHADEWA. jadi :
  • Bangsa SUNDA = Bangsa - RA
  • Agama SUNDA = Agama - RA
  • Negeri SUNDA = Negeri - RA (Naga-RA)
  • Tanah SUNDA = Tanah - RA
  • Bahasa SUNDA = Bahasa - RA
  • Bende SUNDA = Bende - RA
Sekarang kita lihat pada penamaan berikut :
  • Dirganta - RA
  • Swarganta - RA
  • Dwipanta - RA
  • Nusanta - RA
  • Jawa - RA
  • Swa - RA
  • Bata - RA

Jadi SUNDA itu bukan ras atau etnis atau suku bangsa yang hidup di Jawa Barat... tapi suatu AJARAN di wilayah yang sangat besar (*sekelas BENUA)...dan sekarang wilayah besar itu menciut dengan sebutan INDONESIA. 

Sekali lagi saya tegesken bahwa :
"RA" itu adalah SINAR (Maha Cahaya) atau BUR yang artinya MATAHARI, MAHACAHAYA, MAHADEWA ialah LAMBANG dari SANG HYANG TUNGGAL.

Itu sebabnya kita disebut sebagai BANGSA MATAHARI atau BANGSA SURYA atau PENGANUT AJARAN SURYA (meureun ceuk orang BARAT mah bangsa ARYA ???).
India = Negeri Chandra (Bulan)
Jepang = Negeri Matahari Terbit
Timur Tengah = Negeri Chandra Surya.

Maka tidak aneh jika Leluhur bangsa menerapkan pola KEMAHARAJAAN dalam konsep PA-RA-HYANG (*PA = Tempat) untuk menata kehidupan SWA (*diri / manusia) 'anak' dari BWA-ACI di BWA-NA. Karena merujuk kepada pola ajaran "RA" maka sistem ketata-negaraanpun berupa KONSTELASI BENDA LANGIT yang mengelilingi dan terpusat pada MATAHARI... artinya bangsa SUNDA itu sudah menerapkan pola kenegaraan yang TERPIMPIN dan TERPUSAT (kesatuan pemerintahan). Dengan jabaran sebagai berikut :

  1. Inti SANG HYANG TUNGGAL >>> pemimpin ajaran disebut RAMA, tempatnya disebut KARAMAT... dianggap sebagai UTUSAN TUHAN.
  2. Ring Satu >>> wilayah PA-RA-HYANG (Parang), pemimpinnya disebut RA-HYANG dengan gelar RATU dan tempat tinggalnya disebut KARATUAN (Keratuan / Keraton). 
  3. Ring Dua >>> wilayah PA-DA-HYANG (Padang), pemimpinnya disebut DA-HYANG dengan gelar DATU atau RESI dan tempat tinggalnya disebut KADATUAN (Kedatuan / Kedaton).
  4. Ring Luar >>> wilayah besar disebut KA-HYANG-an.
Susunan ketata-negaraan tersebut (La-Hyang) menyerupai konstelasi benda langit terhadap Matahari, dan pola tersebut diaplikasikan hingga bangsa kita selalu membangun wilayah PA-RA-HYANG di sekitar GUNUNG yang umumnya jenis GUNUNG BERAPI, sebab RA = NA (Api).

Demikian UNGGUL dan TERHORMATNYA derajat bangsa Indonesia (di masa lalu), baik dari segi ketata-negaraan, kebangsaan, keagamaan dan kemasyarakatannya. Tapi pada saat ini hal hal tersebut DITOLAK MENTAH-MENTAH oleh sebagian besar 'orang' Sunda SONTOLOYO ! 

Konsep PA-RA-HYANG ini tidak hanya berlaku di NUSANTA-RA tapi juga hampir diseluruh dunia, seperti di BENUA AFRIKA (Timur Tengah) melalui pola ke-NABI-an dan yang terakhir mempergunakan pola tersebut adalah EROPA dengan kekuasaan Vatican-nya. Setiap negara kerajaan di dunia mengadopsi pola PA-RA-HYANG, walaupun dengan sebutan dan gelar yang berbeda (Nabi, Paus, Rabi, Tsar, Kan dsb) namun pada prinsipnya sama kekuasaan berada ditangan PEMUKA AGAMA tapi tentu tidak semua dapat berlangsung dengan lancar.

-----------------------------------------------------------------

*** Kesimpulan :
  1. SUNDA bukan nama etnis atau ras... melainkan nama sebuah ajaran tentang SU-NA-DA.
  2. SUNDA adalah nama ajaran KEAGAMAAN dan KETATA-NEGARAAN yang dampaknya mendunia.
  3. RA = SU + NA + DA >>> Kebajikan dan Kebijakan + Api + Agung / Besar = MAHADEWA (Bur)
  4. INDONESIA adalah NEGERI MATAHARI (RA) - Nusanta-RA.
PA-RA-HYANG berhasil mem-BWA-NA dan menjadi panutan seluruh kerajaan di dunia akibat menerapkan pola ketata-negaraan SITUMANG (Resi, Ratu, Rama, Hyang) untuk membangun DA-HYANG-SU-UMBI. Di sisi lain konsep RESI - RATU - RAMA atau sering disebut TRI-SU-LA ini merupakan Tri-Tunggal yang diumpamakan 'seperti senjata' yang digunakan oleh tokoh-tokoh :
  1.  Batara Guru (Siwa)
  2. Betari Durga
  3. Poseidon (*Pasundaan ?)
  4. Ratu Laut Selatan, dsb

SEJARAH INDONESIA

Boedak Satepak 26 Desember jam 11:19 

Bangsa kita ini begitu aneh, mau saja didikte oleh para ilmuwan Barat bahkan hampir 100% turut menyepakati pendapat bangsa lain, misalnya ketika negara dan bangsa Indonesia dikategorikan sebagai bangsa kelas tiga ataupun ketika disebut sebagai negara berkembang. Barat menetapkan bahwa kebudayaan Mesir dan Yunani (6000 - 5000 SM) sebagai peradaban tertua di bumi, ilmuwan negeri kita ikut mendukung propaganda 'ilmiah' itu. Entah kenapa, ilmuwan sejarah dan kepurbakalaan bangsa kita sepertinya takut untuk melahirkan teori baru tentang peradaban atau memang otaknya kurang cerdas. Namun pada umumnya takut untuk berhadapan dengan argumentasinya sejarawan Barat (salut untuk Prof. Primadi Tabrani).

Berdasarkan catatan yang tertulis di alam sebagai "situs sejarah" baik yang berupa penamaan wilayah serta objek-objek lain yang ada di negara kita sebenarnya menunjukan kemungkinan sangat besar bahwa peradaban manusia berawal dari negara ini (30.000-12.000 SM).

Paradigma sejarah dunia harus dirombak total...

Indonesia tidak pernah mengalami jaman es (Ice Age) sebab berada di atas permukaan pegunungan berapi (ring of fire) dengan titik lintasan matahari paling ideal. Berbeda dengan negara-negara lain yang pernah tertutup es, terutama kawasan Eropa.

  1. Awal peradaban dimulai dari daerah Gn. Bata-Ra Guru (Dn. Toba), kini kita mengenali masyarakatnya dengan sebutan Bataka-Ra (Batak Karo). Wilayah tersebut sering disebut sebagai "Mandala Hyang" (Mandailing). Ajarannya bernama Surayana (SU-RA-YANA) dengan kiblat Matahari atau Batara Guru (kita menyebutnya sebagai Batara Surya) hingga kita mengenal istilah Satu Sura (Suro). Adapun Batara Durga adalah wakil Matahari (Batara Guru) di Bumi yaitu API.
  2. Setelah Gn. Bata-Ra Guru meletus peradaban bergeser ke Gn. Sunda (Gn. Ka-Ra Katwa), biasa disebut sebagai Bwa-Na Ataan (Banten). Plato menyebutnya sebagai Benua Atalan atau Sundalan, ajarannya disebut Sundayana (sama dengan Surayana). Maka, kata "SUNDA" itu bukan nama sebuah etnis di Jawa Barat melainkan nama ajaran yang juga menjadi nama wilayah besar. Sunda merupakan asal kata Su-Na-Da dan itu bukan singkatan tapi kesatuan kalimat. SU = Benar/Baik, NA = Api, DA = Besar/Gede/Agung. Kata Sundayana oleh Barat digunakan menjadi "Sunday" dan matahari nya disebut "Sun".
  3. Letusan Krakatau menyebabkan pindahnya peradaban menuju daerah Lamba Hyang atau Lambang (Lembang). Konsep kenegaraan pertama di muka bumi berawal dari wilayah ini Gn. Agung (Tangkuban Parahu) dengan konsep "Salaka Domas dan Salaka Nagara" (Dvi-Varna yaitu MERAH = Sinar/RA/BUR/Mahacahaya/Matahari... dan PUTIH = Naga/Penguasa wilayah Gunung Api dan Lautan, sistem kenegaraan berupa Keratuan yang dimulai oleh Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya kemudian dilanjutkan oleh Maharatu Resi Prabhu Sindu La Hyang yang kelak dikemudian hari diteruskan oleh dinasti Warman (Mulawarman) atau dengan konsep kenegaraan SITUMANG (Resi-Ratu-Rama & Sang Hyang) yang menaungi Da Hyang Su-Umbi (Wilayah Hyang Bumi yang Benar atau PA-DA-HYANG) sebutan "Ratu / RA-TWA" tidak sama dengan queen, Ratu artinya sama dengan Rajya (bahasa India). Ratu merupakan kedudukan di Ka-Ra-Twa-an (Keraton) dan gelar penguasanya disebut RA-HYANG untuk wilayah PA-RA-HYANG (Parang). Di wilayah PA-DA-HYANG (Padang) penguasanya bergelar DA-HYANG berkedudukan di Kedaton (Ka-Da-Twa-an)... bertugas sebagai pengelola wilayah besar di luar Parahyang... Datu = Resi.
  4. Setelah Tk Parahu meletus pemerintahan berpindah ke Gn. Brahma (Bromo) dengan dua gerbang besar Gn. Sundoro (Sunda-Ra) dan Gn. Sumbing (Su-Umbi Hyang) serta pelataran Dieng (Da Hyang / Padang). Lalu Gn. Su-Meru menjadi penanda puncak kejayaan ajaran Salaka Domas dan Salaka Naga-Ra.
  5. Letusan Gn. Bromo menyebabkan pusat pemerintahan berpindah ke Gn. Gede (Gn. Agung-Bali), ajaran Sundayana terus berkembang seperti yang disampaikan oleh Prabhu Sindu La-Hyang, dan menjadi semakin pesat dengan nama Udayana (Sundayana). 
  6. Peradaban pemerintahan Purwanagara ini diakhiri dengan ditetapkannya Gn. Tambo-Ra di Pulo Su-Bawa di masa Maharaja Resi Prabhu Tarus Bawa pada jaman Dwipanta-Ra (jauh sebelum era Nusanta-Ra).
Ajaran Sundayana yang disampaikan oleh Maharatu Resi Prabhu Sindu La Hyang oleh bangsa Jepang disebut Sinto (Shinto). Cikal bakal ajaran Matahari ditetapkan di Su-Mate-Ra sedangkan di Jepang menjadi A-Mate-Ra-Su. Di Cina konsep ajaran La-Hyang ini dikenal dengan sebutan "Liong" (Naga dan Ra) kemudian di India ajaran itu disebut Hindu yang diawali dari daerah Jambudwipa... boleh jadi disimbolkan dalam kisah RAMAYANA (RAMA dan SINTA/Sinto/Sindu). 

Di Mesir kita mengenal tokoh Dewa Ra. Sebutan itu sesungguhnya tidak tepat, sebab DEWA = Cahaya, dan RA = Pusat Cahaya/Mahacahaya/Matahari. Jadi; RA adalah INTI dari DEWA... atau RA = MAHADEWA / MAHACAHAYA. Keberadaan RA di Mesir merupakan 'pengakuan' bangsa Mesir terhadap ajaran KETUHANAN bangsa NUSANTA-RA.... Bukankah patung Budha yang ada di Borobudur-pun tidak diartikan bahwa Sidharta Gautama ada di Indonesia? demikian pula dengan adanya RA di Mesir. 

Walaupun hal tersebut masih berupa "aku-akuan" namun perlu ditelaah lebih lanjut oleh para ahli sejarah, budaya dan kepurbakalaan yang memiliki KECERDASAN. Diluar nantinya "benar atau salah" tentu saja tidak usah khawatir sebab ilmu pengetahuan harus tetap hidup dan berkembang walaupun mengakibatkan terjadinya perobahan besar yang melahirkan paradigma baru. 

Profesor Dr Arysio Santos dari Brazil seorang ahli fisika nuklir telah mencoba meneliti tentang keberadaan Benua Atlantis yang kesimpulannya mengarah ke negara Indonesia namun penelitian Santos ditentang keras oleh para sejarawan Barat hingga bukunya dilarang terbit, lebih goblok dan celakanya lagi ilmuwan kita yang bangsa Indonesia asli malah ikut menentang teorinya profesor Brazil itu yang secara tidak langsung memberikan semangat dan mengangkat sedikit derajat bangsa maling ini adalah 100% BENAR bahwa Rakyat SUNDA (Nusanta-Ra) atau BANGSA MATAHARI adalah keturunan ANJING yang menikah dengan seorang putri Maha Cantik bernama DAYANG SUMBI anak perempuan Maharaja Sunda.

Memang rakyat Nusanta-Ra sesungguhnya adalah keturunan ANJING SI TUMANG... sebab fakta dan realitanya demikian dan itu tidak perlu ditolak, bahkan sudah seharusnya kita sebagai Bangsa Matahari merasa bangga menjadi keturunan langsung Si Tumang dan Dayang Sumbi.

Apakah benar-benar "ada" yang disebut si Tumang...??? ... 100% ADA !
Apakah benar Si Tumang itu Anjing...??? ... 100% BENAR !
Apakah benar ada anjing mengawini Putri Maha Cantik...??? ... 100% BENAR !
Apakah benar Rakyat Sunda Bangsa Matahari itu keturunan mereka...??? ... 100% BENAR
Cilaka...Gustiiii...cilaka...!

Sebagian besar bangsa Sunda ini tidak mengerti maksud dan maknanya...
Kisah roman murahan yang disuarakan oleh bangsa Eropa dipakai untuk menterjemahkan "cerita sejarah Bangsa Nusanta-Ra" yang Agung... Sejarah telah diselewengkan oleh orang-orang biadab yang tidak bertanggung-jawab... bahkan dalam sebuah acara kesenian, walikota Bandung Dada Rosada tidak menyetujui adanya gambar "anjing" (Si Tumang)... dia bilang "Rakyat Sunda bukan turunan Si Tumang...!" Sungguh ironis dan patut dikasihani jika orang setingkat WALIKOTA BANDUNG... tidak memahami sejarah beserta nilai-nilai luhurnya... bahkan bukan mustahil GUBERNUR JABAR-pun tidak tahu apa-apa tentang nilai agung leluhur Bangsa Sunda.... maka bagaimana mungkin mereka dapat memimpin dan membangun ??? 

Dari begitu banyak ketidak-pahaman atas nilai Leluhur Bangsa itu, sebenarnya apa yang ada di balik kisah perkawinan Anjing Si Tumang dan Dayang Sumbi...?
Berdasarkan pola lokal jenius (kearifan lokal) leluhur bangsa Nusanta-Ra ketika membangun sistem nilai komunikasi dalam bentuk kata/bahasa/gambar/gerak.dsb sering mempergunakan pola struktur yang unik, dan ini hampir di seluruh Nusanta-Ra. Khusus dalam pola kata / bahasa banyak yang dibuat singkat dan singkatan...umumnya memiliki nilai yang agung dan luhur. 
Misalnya :

- Majapahit = Maharaja Purahita
- Suling = Su-La-Hyang
- Sunda = Su-Na-Da
- Dwipantara = Dwi-Pa-Na-Ta-Ra
- Jawara = Jawa-Ra
dst.

Setiap "penamaan" (apapun) yang dibuat pada jaman dahulu perlu direnungkan lebih dalam dan teliti, sebab biasanya tidak dapat dikaji dengan pola manapun kecuali mempergunakan pola yang sesuai dengan tata nilai dan pola lokalnya (*termasuk konteks kejadian / sejarah). Maka demikian pula dengan keberadaan tokoh "Anjing Si Tumang dan Dayang Sumbi" sebagai leluhur bangsa Nusanta-Ra. Keduanya samasekali bukan objek mahluk, baik binatang ataupun manusia sebab keduannya hanyalah simbol. Selama ini terjadi kesalah-kaprahan dalam pola penuturan dan penulisan kata "Si Tumang" yang sebenarnya adalah SI-TU-MA-HYANG singkatan dari : 
1. SI = Resi
2. TU = Ratu
3. MA = Rama 
4. HYANG = Sang Hyang Tunggal

Pola RESI-RATU-RAMA dan SANG HYANG TUNGGAL ini merupakan KONSEP KETATA-NEGARAAN PA-RA-HYANG yang kerap disebut juga sebagai TRI TUNGGAL atau TRITANGTU. Keberadaan konsep kenegaraan Sunda tersebut diabadikan dalam bentuk "monument kepala anjing" dari batu yang diberi nama SANG HYANG WATUGUNUNG RATU AGUNG MANIKMAYA.

Tri Tunggal atau SITUMANG inilah yang dengan "setia menjaga" Negeri Matahari kita, maka itu sebabnya dikatakan sebagai ANJING (*simbol kesetiaan dan pengabdian kepada negara). Kadang kesetiaan manusia kalah jauh dibandingkan hewan ini... bahkan manusia bersetia pada dasarnya karena "ada kepentingan".... contohnya ANGGOTA PARPOL.... heheheheh :)

CITRA binatang "anjing" menjadi BURUK setelah masuk dan adanya ajaran Islam di Indonesia, disebut sebagai binatang yang "NAJIS"...dan jika terkena liur atau moncong hidungnya harus dibasuh TUJUH KALI.... Mengapa begitu ekstrimnya...??? hingga sekelas dengan BABI (*simbol rakus)...??? Bahkan di Islam ada fatwa, "Jika di dalam rumah ada anjing maka malaikat tidak akan masuk...!" (*ini mungkin bisa jadi resep panjang umur :) 
***dalam Islam, "anjing selalu dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif... entah apa maksudnya padahal masih banyak binatang lain selain bercitra negatif juga berbahaya.
Kisah rusaknya CITRA ANJING tidak ada bedanya dengan kisah LEMBU yang dikorbankan ('dipersembahkan')... padahal di Jepang sebagai negeri MATAHARI TERBIT (pengikut ajaran Negeri Matahari) anjing-pun disimbolkan sebagai penjaga Sang Matahari (AMATE-RA-SU). 

*** Yang unik justru disebagian besar bangsa kita (terutama di desa), citra binatang UNTA yang tidak ada di negeri ini posisinya jadi lebih baik ketimbang "anjing"... why.... why.... ???

DAYANG SUMBI sendiri sesungguhnya BUKAN manusia berkelamin perempuan. Seperti halnya sebutan SI-TU-MA-HYANG, maka Dayang Sumbi-pun memiliki arti sendiri, yaitu :

1. DA = Besar / Agung
2. HYANG = Sang Hyang Tunggal
3. SU = Baik / Benar
4. UMBI = Ambu / Ibu / Bumi 
Maka, Dayang Sumbi atau DA-HYANG SU-UMBI itu adalah IBU PERTIWI atau Negeri Matahari (Indonesia). Oleh sebab itulah disebut "Putri Maha Cantik" yang maksudnya adalah NEGERI SUBUR YANG MAHA INDAH...!!!


KESIMPULAN :
  1. SITUMANG sesungguhnya SIMBOL atas Lembaga Hukum Ketatanegaraan PA-RA-HYANG... Pusat Hukum Yang Berlandas kepada nilai KETUHANAN YANG MAHA ESA (Sang Hyang Tunggal)Resi = Legislatif. Ratu = Eksekutif. Rama = Yudikati. Hyang = Tuhan. Triaspolitika ini sudah hidup di negeri kita lebih dari dua ribu tahun yang lalu... bahkan hebatnya, ketiga konsep KENEGARAAN itu terikat dan dipersatukan dalam hukum TUHAN (Sang Hyang Tunggal).
  2. DAYANG SUMBI sesungguhnya merupakan SIMBOL WILAYAH yang MAHA CANTIK atau IBU PERTIWI. DA-HYANG SU-UMBI itu artinya adalah Keagungan / Kebesaran Tuhan di Bumi yang Baik / Benar.
  3. Istilah "KAWIN" tidak berarti merujuk kepada soal sex dan humanisme, tetapi lebih berupa KONSEP PENYATUAN dan KESATUAN dalam PENATAAN KELUARGA BESAR (Negara).
  4. ANJING merupakan simbol kesetiaan dalam menjaga kesatuan, keutuhan dan keberlangusungan NAGA-RA.
  5. Seluruh keturunan SI-TU-MA-HYANG dan DA-HYANG SU-UMBI adalah BANGSA MATAHARI yang SANGAT BERADAB atau BANGSA YANG MEMILIKI HUKUM KETUHANAN serta ATURAN HIDUP BERBANGSA dan BERNEGARA sejak... lebih dari 2000 tahun yang lalu....!!! 
Dan itu adalah KITA...PUTRA NEGERI MATAHARI yang AGUNG
"Mari membangun RA-HAYAT !!!"

Kata kunci :
SENI merupakan JEMBATAN bagi KEINDAHAN dan MANUSIA SUNDA TIDAK MEMERLUKAN JEMBATAN ITU.....sebab MANUSIA SUNDA ADALAH KEINDAHAN ITU SENDIRI...!!!

Seni adalah "piranti" untuk mengasah kelembutan rasa (hati) dan kecerdasan berpikir, maka mempelajari SENI sama dengan BELAJAR MENGASAH RASA HINGGA MENCAPAI PUNCAK KETAJAMAN. Lalu, apa puncak pencapaian dari mempelajari seni...??? tentu saja untuk mendapatkan KEINDAHAN. 

"Banyak karya seni yang menawarkan kesedihan dan kesengsaraan, namun tidak pernah ada keindahan yang menyajikan kepedihan" 

Kebutuhan atas KEINDAHAN merupakan sifat ADIKODRATI yang dibawa sejak lahir oleh segala bangsa. Namun kebutuhan tersebut sangat tergantung kepada nilai-nilai tradisi dan potensi lingkungannya (semesta kehidupan yang ada di sekitar). Dengan kata lain; tergantung kepada sarana atau fasilitas yang tersedia sebagai pengasah "rasa".

Sejak jaman dahulu, "keindahan" bagi bangsa Sunda telah menjadi KEBUTUHAN HIDUP YANG UTAMA, dan ini menjadi sangat berbeda dengan bangsa2 lain di dunia. Mengapa demikian...? Sebab KEBUTUHAN DASAR telah terpenuhi secara sempurna (sandang, pangan, papan). Hal ini merupakan POLA ALAMIAH segala bangsa yang berlaku hingga detik ini, tanpa sedikitpun ada perobahan....mungkin begitulah sifat manusia, namun harus dipertegas bahwa BANGSA SUNDA TELAH LEBIH DAHULU MENGAWALINYA. 

Walaupun "keindahan" telah menjadi kebutuhan yang mendasari pola kehidupan bangsa Sunda, namun masyarakatnya tidak pernah menempatkan "keindahan" itu sebagai objek SENI (Art). Bahkan hampir secara eksplisit seni diabaikan, sebab dimata orang Sunda "keindahan" itu bergulir dengan sendirinya datang dari lubuk hati tanpa harus berpikir dan tanpa harus direkayasa atau dibuat-buat... jujur apa adanya.... atau sebut saja bahwa KEINDAHAN TELAH MENJADI BAGIAN DALAM PERI KEHIDUPAN masyarakat Sunda. 

Tentu paparan di atas terasa begitu SOMBONG dan terasa seperti PROPAGANDA kaum puritan lokal yang tersingkir dari peradaban 'modern'... TIDAK... sama sekali tidak begitu...!!! Paparan di atas adalah sebuah realita dan fakta yang sudah lama terkubur di negara kita (Nusantara) dan seolah tidak boleh diungkap lagi.
Bukti dan sisa-sisa KEINDAHAN itu sebetulnya masih tertampakan walaupun sudah semakin samar-samar, beberapa contoh (0,1%) di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Pola berbahasa dan berbicara sebagai PENGHORMATAN... dan bukan sekedar berkomunikasi atau menyampaikan informasi.
  2. Pola penempatan diri (tahu diri) sesuai dengan keberadaan diri sebagai KEHORMATAN dan bukan dalam pola kasta... tanpa dipaksa dan tidak memaksa.
  3. Pola saling MENJAGA dan MENGHORMATI kepada segala penghuni alam... apa pun bentuk dan sifatnya... tidak berlaku pemusnahan (pembunuhan).
  4. Pola bersikap dan berperilaku melalui pengukuran diri berdasarkan kualitas lingkungan (alam sekitar)... menjaga KELANGSUNGAN HIDUP DIMASA DEPAN... atau PEDULI kepada generasi yang akan datang.
(*terlalu banyak untuk diungkapkan sebagai BUKTI-BUKTI).

Hal ini diakibatkan oleh KONSEP atas sudut pandang KEINDAHAN, yaitu AJARAN TENTANG MANUSIA ADILUHUNG yang diterapkan oleh para leluhur bangsa, PENCAPAIAN PUNCAK DARI SEGALA PUNCAK PEMBENTUKAN KARAKTER MANUSIA UNGGUL PARIPURNA.

Dimata orang Sunda, KEINDAHAN itu adalah KEHIDUPAN... maka setiap KEHIDUPAN merupakan HAL YANG SANGAT BERHARGA... itu sebabnya bangsa Sunda begitu peduli terhadap segala aspek kehidupan, mereka mencintai kehidupan melampaui dirinya sendiri dan mereka harus menunjukan fungsi-guna diri terhadap lingkungan hidup dan masa depan seluruh keturunannya agar hidup lebih baik. Hal tersebut dilakukan secara ESTAFET dari generasi ke generasi... seolah memberi kabar tentang 

"BANGUNLAH SEBUAH KEHIDUPAN YANG MAHA INDAH...(di negeri ini)"
Jadi, tidak perlu heran jika bangsa Sunda lebih memilih HIDUP ketimbang MATI... artinya; SEMANGAT HIDUP mereka bangun sedemikian rupa demi MEMBANGUN KEHIDUPAN DI DALAM SEMESTA KEHIDUPAN.... hal ini begitu bertentangan dengan seluruh ajaran yang datang dari negeri seberang, terutama Islam yang mensahkan KEMATIAN melalui PERANG dan JIHAD. 
betapa INDAHNYA MENJADI ORANG SUNDA... 
sayang hanya sedikit orang yang memahaminya.....