Sabtu, 24 Juli 2010

MISTERI PULAU JAWA KUNO

Sebelum dihuni manusia, bumi Jawa telah dihuni oleh golongan dewa-dewi dan makhluk halus lainnya. Salah satu putra Sang Hyang Jagad Girinata, yaitu Bathara Wisnu, turun ke arcapada lalu kawin dengan Pratiwi, dewinya bumi….

Sebuah teori geologi kuno menyebutkan, proses terbentuknya daratan yang terjadi di Asia belahan selatan adalah akibat proses pergerakan anak benua India ke utara, yang bertabrakan dengan lempengan sebelah utara. Pergerakan lempeng bumi inilah yang kemudian melahirkan Gunung Himalaya.
Konon, proses tersebut terjadi pada 20-36 juta tahun yang silam. Anak benua yang di selatan sebagian terendam air laut, sehingga yang muncul di permukaan adalah gugusan-gugusan pulau yang merupakan mata rantai gunung berapi. Gugusan pulau-pulau di Asia Tenggara, yang sebagian adalah Nuswantoro (Nusantara), yang pada zaman dahulu disebut Sweta Dwipa. Dari bagian daratan ini salah satunya adalah gugusan anak benua yang disebut Jawata, yang satu potongan bagiannya adalah pulau Jawa.Jawata artinya gurunya orang Jawa. Wong dari kata Wahong, dan Tiyang dari kata Ti Hyang, yang berarti keturunan atau berasal dari Dewata. Konon karena itulah pulau Bali sampai kini masih dikenal sebagai pulau Dewata, karena juga merupakan potongan dari benua Sweta Dwipa atau Jawata.
Mengingat kalau dulunya anak benua India dan Sweta Dwipa atau Jawata itu satu daerah, maka tidak heran kalau ada budayanya yang hampir sama, atau mudah saling menerima pengaruh. Juga perkembagan agama di wilayah ini, khususnya Hindu dan Budha yang nyaris sama.
Al kisah, dalam kunjungan resminya sebagai utusan raja, Empu Barang atau nama bangsawannya Haryo Lembusuro, seorang pandhito terkemuka tanah Jawa, berkunjung ke Jambu Dwipa (India).
Sesampainya menginjakkan kaki di negeri Hindustan ini, oleh para Brahmana setempat, Empu Barang diminta untuk bersama-sama menyembah patung perwujudan Haricandana (Wisnu). Namun, dengan kehalusan sikap manusia Jawa, Empu Barang menyatakan bahwa sebagai pandhito Jawa, dia tidak bisa menyembah patung, tetapi para Brahmana India tetap mendesaknya, dengan alasan kalau Brahmana dinasti Haricandana menyembahnya karena Wisnu dipercaya sebagai Sang Pencipta Tribuwana.
Dengan setengah memaksa, Empu Barang diminta duduk, namun sewaktu kaki Empu Barang menyentuh tanah, tiba-tiba bumi bergoyang (tidak disebutkan berapa kekuatan goyangannya dalam skal ritcher). Yang jelas, saking hebatnya goyangan tersebut, patung tersebut hingga retak-retak.
Memang, menurut tata cara Jawa, penyembahan kepada Sang Penguasa Hidup itu bukan patung, tetapi lewat rasa sejati, sehingga hubungan kawula dengan Gusti menjadi serasi. Itulah Jumbuhing Kawula Dumateng Gusti.
Orang Jawa melakukan puja-puji penyembahan kepada Gustinya langsng dari batinya, maka itu dalam perkembangannya disebut aliran Kebatinan atau perkembangan selanjutnya dikenal dengan istilah Kejawen, karena bersumber dari Jawa.
Bagi orang Jawa tentang cerita waktu bumi Jawa belum dihuni manusia, telah dihuni oleh golongan dewa-dewi dan makhluk halus lainnya. Dan salah satu putra Sang Hyang Jagad Girinata, yaitu Bathara Wisnu turun ke arcapada kawin dengan Pratiwi, dewi bumi.
Dalam pemahaman kejawen, hal itu disikapi dengan terjemahan, kalau Wisnu itu artinya urip/hidup, pemelihara kehidupan. Jadi jelasnya awal mula adanya kehidupan manusia di bumi, atas izin Sang Penguasa Jagad. Dewa perlambang sukma, manusia perlambang raga. Begitulah hidup manusia, raganya bisa rusak, namun sukmanya tetap hidup langgeng.
Kemolekan bumi Jawa laksana perawan rupawan yang amat jelita, sehingga Kerajaan Rum (Ngerum) yang dipimpin Prabu Galbah, lewat laporan pendeta Ngali Samsujen, begitu terpesona karenanya. Maka diutuslah dutanya yang pertama yang bernama Hadipati Alip.
Hadipati Alip berangkat bersama 10.000 warga Ngerum menuju Nuswa Jawa. Mereka dalam waktu singkat meninggal terkena wabah penyakit. Tak tersisa seorang pun. Lalu dikirimlah ekspedisi kedua dibawah pemimpinan Hadipati Ehe. Malangnya, mereka juga mengalami nasib sama, tupes tapis tanpa tilas.
Masih diutus rombongan berikutnya, seperti Hadipati Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Semuanya mengalami nasib sama, tumpes kelor.
Melihat semua itu, Prabu Galbah terkejut dan mengalami shock hebat. Akibatnya, sakit jantungnya kambuh. Dia kemudian jatuh sakit, dan dalam waktu tak lama mangkat.
Pendeta Ngali Samsujen, merasa bersalah karena nasehatnya menimbulkan malapateka ini terjadi. Akhirnya beliau mati dalam rasa bersalah. Tinggal Mahapati Ngerum, karena rasa setianya, dia ingin melanjutkan missi luhur yang dicita-citakan rajanya. Dia akhirnya ingat pada sahabatnya yang sakti bersanama Jaka Sangkala alias Aji Saka, yang tinggal di Tanah Maldewa atau Sweta Dwipa.
Habisnya para migran dari Ngerum ke Tanah Jawa itu, menurut Jaka Sangkala adalah karena hati mereka yang kurang bersih. Mereka tidak meminta izin dahulu pada penjaga Nuswa Jawa. Padahal, karena sejak zaman dahulu, tanah ini sudah ada yang menghuni. Yang menghuni tanah Jawa adalah manusia yang bersifat suci, berwujud badan halus atau ajiman (aji artinya ratu, man atau wan artinya sakti).
Selain penghuni yang baik, juga dihuni penghuni brekasakan, anak buah Bathara Kala. Makanya tak ada yang berani tinggal di bumi Jawa, sebelum mendapat izin Wisnu atau manikmaya atau Semar.
Akhirnya, Mahapati Ngerum diantar Aji Saka menemui Wisnu dan isterinya Dewi Sri Kembang. Saat bertemu, dituturkan bahwa wadyabala warga Ngerum yang mati tidak bisa hidup lagi, dan sudah menjadi Peri Prahyangan, anak buah Batara Kala. Tapi ke-8 Hadipati yang gugur dalam tugas itu berhasil diselamatkan oleh Wisnu dan diserahi tugas menjaga 8 mata angina. Namun mereka tetap menghuni alam halus.
Atas izin Wisnu, Mahapati Negrum dan Aji Saka berangkat ke tanah Jawa untuk menghadap Semar di Gunung Tidar. Tidar dari kata Tida; hati di dada, maksudnya hidup. Supaya selamat, oleh Wisnu, Mahapati Ngerum dan Aji Saka diberi sifat kandel berupa rajah Kalacakra, agar terhindar dari wabah penyakit dan serangan anak buah Batara Kala.
Kisah di atas hanya merupakan gambaran, bahwa ada makna yang tersirat di dalamnya. Wisnu dan Aji Saka itu dwitunggal, bagaikan matahari dan sinarnya, madu dan manisnya, tak terpisahkan. Loro-loro ning atunggal.
Maka itu, keraton Wisnu dan Aji Saka itu di Medang Kamulan, yang maksudnya dimula-mula kehidupan. Kalau dicermati, intinya adalah kawruh ngelmu sejati tentang kehidupan manusia di dunia, sejak masih gaib hingga terlahir di dunia, supaya hidup baik, sehingga kembalinya nanti menjadi gaib lagi, perjalanannya sempurna.
Singkat cerita, perjalanan ke tanah Jawa dipimpin oleh Aji Saka dengan jumlah warga yang lebih besar, 80 ribu atau 8 laksa, disebar di berbagai pelosok pulau. Sejak itulah, kehidupan di tanah Jawa Dwipa yang disebut masyarakat Kabuyutan telah ada sejak 10.000 SM, tetapi mulai agak ramai sejak 3.000 SM.
Sesudah kedatangan pengaruh Hindu, muncul kerajaan pertama di Jawa yang lokasinya di Gunung Gede, Merak. Rajanya Prabu Dewowarman atau Dewo Eso, yang bergelar Sang Hyang Prabu Wismudewo. Raja ini memperkuat tahtanya dengan mengawini Puteri Begawan Jawa yang paling terkenal, yakni Begawan Lembu Suro atau Kesowosidi di Padepokan Garbo Pitu (penguasa 7 lapis alam gaib) yang terletak di Dieng atau Adi Hyang (jiwa yang sempurna), juga disebut Bumi Samboro (tanah yang menjulang tinggi). Puterinya bernama Padmowati atau Dewi Pertiwi.
Dari perkawinan campuran itu, lahirlah Raden Joko Pakukuhan, yang kelak di kemudian hari menggantikan tahta ayahnya di kerajaan Jawa Dwipa atau Keraton Purwosarito, dan bergelar Sang Prabu Sri Maha Panggung. Lalu keraton dipindah lokasinya ke Medang Kamulan.
Penggantinya adalah putranya Prabu Palindriyo. Dari perkawinannya dengan puteri Patih Purnawarman, Dewi Sinto, lahir Raden Radite yang setelah bertahta dan bergelar Prabu Watuguung. Dia memerintah selama 28 tahun. Pemerintahannya mempunyai pengaruh kuat di Jawa Barat. Adalah kakaknya, Prabu Purnawarman yang membuat Prasasti Tugu, sebelah timur Tanjung Priuk dalam pembuatan saluran Kali Gomati, Prasasti Batu Tulis di Ciampea, Bogor.
Untuk menguasai Jawa Timur, Prabu Watugunung mengawini puteri Begawan Kondang, yaitu Dewi Soma dan Dewi Tumpak. Dia juga mengawini Ratu Negeri Taruma yang bernama Dewi Sitowoko.
Dalam pemerintahannya terjadi perebutan tahta dengan Dewi Sri Yuwati, saudara lain ibu (Dewi Landep). Dewi Sri Yuwati dibantu adiknya lain ibu, Joko Sadono (putera Dewi Soma). Akhirnya Prabu Watugunung berhasil dikalahkan, dan Joko Sadono menggantikan tahtanya dengan gelar Prabu Wisnupati, permaisurinya Dewi Sri. Kakak Dewi Sri diangkat sebagai raja Taruma, bergelar Prabu Brahma Raja.

Jumat, 09 Juli 2010

Secarik Catatan Nafsu Birahi

AKu,.... Aku nafsu, aku, nafsu birahi, satu dari sekian banyak saudara-saudaraku penghuni dunia kecil, aku sungguh lah telah menggoda tiap anak keturunan Adam-Hawa. Namun hingga saat ini aku belum bisa puas atas apa yang telah aku kerjakan.

Aku telah menyebar benih birahi dimanapun aku berada, aku tidaklah memandang jika kau rajin menyembah-Nya, aku tidaklah peduli berapa banyak Kau bersedekah, aku juga tidak akan hiraukan setenar apakah dirimu, semua ku masuki, semua ku pengaruhi, ku tarik segala imajinasimu, ku buai kau dengan segala keindahan, aku sanggup membuat matamu terjaga hingga berhari-hari, akupun terkadang membuat kepalamu berdenyut, yang paling ku suka disaat aku membuat jantungmu berdetak kencang ya sangat kencang dan tak akan berakhir hingga ku berucap berhenti, inilah aku, ya ketahuilah jika aku yg bernama nafsu birahi.

Setiap wanita aku jadikan tempat persembunyianku, setiap pria aku jadikan tempat bermain, setiap kali aku mendatangimu aku tidak pernah mengenal diriku tua muda ataupun anak-anak, setiap kau dekat dengan ku, tak akan pernah kau menjauh, sampai sejauh manapun kau melangkah aku sanggup mengikutimu, dalam tidur aku mimpi indah mu; dalam terjaga aku penghantar segala kenikmatan. Di setiap doa yang kau ucapkan hanya membuat aku tertidur, "ya", aku istirahat hanya pada saat kau sedang sujud pada NYA, namun setelah itu aku sudah bangun kembali.

Hai cucu Adam-Hawa, tidak mengertikah kau, jika aku ini lelah? Tidak sadarkah kau jika aku juga butuh istirahat? Aku sudah mengembara dalam jangka kala yg tak terbatas, kini aku minta padamu-ya-aku minta dengan amat sangat, berikanlah aku kesempatan untuk tidur dan bermimpi..kesempatan dimana aku dapatkan disaat kau bersujud memuja-NYA. Semakin lama kau dalam dekapan-Nya, akupun semakin bisa menikmati arti sebuah mimpi...

TENTANG CINTA DAN PERKAWINAN

Kiriman Via Email 
Oleh seorang sahabat : Aloysius Christihapsoro
Suatu hari, Plato bertanya kepada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa mendapatkannya?”

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum terbentang luas di depan sana. Berjalanlah maju tanpa boleh berbalik atau mundur kembali. Jika kamu menemukan satu berkas yang menurutmu paling mengagumkan, ambillah. Itu artinya engkau telah menemukan cinta.”

Plato berjalan menyusuri ladang gandum dan akhirnya kembali dengan tangan kosong. Gurunya bertanya, “Mengapa engkau tidak membawa satu berkas pun?” Plato menjawab,

“Sebab saya hanya boleh membawa satu berkas saja, dan pada waktu berjalan tidak boleh berbalik ataupun mundur kembali. Sebenarnya saya telah menemukan satu berkas yang paling mengagumkan, tetapi saya tak tahu apakah ada berkas yang lebih mengagumkan lagi di depan sana, jadi tidak saya ambil berkas tersebut. Ketika saya melanjutkan perjalanan lebih jauh, baru saya sadari bahwa berkas-berkas yang saya dapati kemudian tidak sebagus berkas yang tadi. Jadi pada akhirnya saya tidak mengambil satu berkas pun.”

Gurunya menjawab, “Ya itulah cinta.”

Di lain waktu, Plato bertanya pula kepada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa mendapatkannya?”

Gurunya menjawab, “Ada hutan yang subur lebat terbentang di depan sana. Berjalanlah maju tanpa boleh berbalik atau mundur kembali. Jika kamu menemukan satu pohon yang menurutmu paling elok, tebanglah. Itu artinya engkau telah menemukan perkawinan.”

Plato berjalan, dan kemudian kembali dengan membawa sebatang pohon. Pohon yang dibawanya bukanlah pohon yang teramat elok, segar dan rimbun, tidak juga yang paling tinggi; melainkan biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu menebang pohon macam itu?” Plato pun menjawab,

“Sebab, berdasarkan pengalaman sebelumnya, setelah menjelajah seluruh hutan, ternyata nantinya saya akan kembali dengan tangan kosong. Jadi, ketika saya melihat pohon ini, saya pikir ia cukup baik dan saya menyukainya, maka saya putuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Saya tak hendak kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.”

Gurunya pun menjawab, “Dan ya itulah perkawinan.”

Senin, 05 Juli 2010

Mata Malam

Oleh Nanang Hape

PAGI ini seluruh keluarga Pandawa berduka. Tadi malam salah satu putra terbaik, Gatutkaca anak Bima tewas di medan perang. Tungku pembakaran jasadnya masih mengepulkan asap, membubung tinggi ke angkasa. Baranya bahkan belum padam. Wewangian merebak dan semua menundukkan kepala. Mungkin aku satu-satunya yang tidak menangis karena bagiku tak ada yang perlu ditangisi. Dia mati dengan hebat, bertempur dengan ksatria yang sama sekali bukan tandingannya, Karna Adipati Awangga, sulung Pandawa yang dibuang ibunya dan memilih bergabung dengan Kurawa. Aku tahu semua alasannya, jadi mengapa kini semua berlomba mengucurkan air mata. Satu-satunya yang berhak menangis adalah Pergiwa, istri Gatutkaca. Dia tidak pernah tahu untuk apa suaminya mati. Dan jika ada orang kedua yang pantas meratapi kematiannya, maka itu adalah aku karena aku yang melahirkannya.

Aku tidak akan lupa anakku lahir menderita. Tali pusatnya tidak terpotong oleh senjata apa pun. Semua keris dan panah terhebat Arjuna, bahkan senjata Cakra Kresna seakan-akan tak memiliki tuah apa-apa. Hanya ada satu senjata yang mampu, pusaka Wijayandanu yang dikuasai Karna. Saat itu Kresna, kiblat Pandawa, berkata, sesungguhnya Wijayandanu adalah hak Arjuna. Merebutnya dari tangan Karna bukanlah sebuah kesalahan. Kakak beradik itu segera terlibat pertarungan sengit. Arjuna hanya berhasil merebut sarung pusaka. Peristiwa itu membuatku percaya bahwa ada garis yang telah ditentukan untuk pilihan-pilihan manusia karena sarung pusaka yang sama sekali tidak tajam itu mampu mengakhiri penderitaan anakku, memotong tali pusarnya dan segera lenyap sesudahnya. Aku tak peduli, hanya melihat ia menjadi bocah kecil, lengkap dengan senyum kanak-kanaknya.

Nasib yang membawanya ke jalan yang lain, sama sekali bukan pilihanku tapi apa daya. Ia terpilih menjadi pembela dewa-dewa di kahyangan. Pracona dan Sekipu, raksasa-raksasa buas itu menyerang kahyangan membuat dewa kalang kabut. Anakku terpilih untuk menghadapi mereka. Permainan apa lagi ini?

Sebagai bayi, anakku memang istimewa. Tubuhnya kukuh mewarisi kekuatan bapaknya. Dan kudengar, saat bertarung dengan raksasa-raksasa itu, taring-taring tajam mereka tak berarti bagi tubuh Gatutkaca.

Aku tidak mau melawan bayi. Jadikan tubuhnya sebanding dengan kami.

Raksasa-raksasa itu meminta dan dewa yang menentukan. Sekali lagi anakku tak punya pilihan. Tubuh mungilnya dilemparkan ke lautan api Candradimuka. Sekian puluh pusaka kahyangan menyertainya, melebur dalam tubuh. Beberapa saat kemudian ia muncul dari kobaran api. Sesosok pemuda usia belasan yang kemudian membantai Pracona, raja raksasa penyerang kahyangan.

Arimbi istriku, sayang sekali kau tidak menyaksikan kehebatan anakmu. Sebagai ayah, kebanggaanku tak terkira.

Bima mengantarkan anakku sekembali dari kahyangan dengan bangga. Sesosok bayi dipisahkan dari susuanku dan pulang sebagai seorang remaja yang tak pintar berkata-kata. Kebanggaan apa yang aku miliki? Tak tahukah mereka bahwa aku masih ingin menggendong dan meninabobokan sebelum tidur dengan lagu anak-anak, mengajari berjalan dan menyuapi dengan riang. Kini anakku pulang dengan sorot mata yang asing. Aku tak akan kuat lagi membimbing tangannya dan bahkan tubuhnya pun telah setinggi ayahnya. Kumisnya melintang, dadanya bidang lengkap dengan bulu lebatnya. Namun ayahnya tidak pernah mau tahu kalau matanya tetap mata seorang bocah. Dia bahkan tak mengenaliku sebelum ayahnya mengatakan bahwa aku ibunya. Neraka meledak di kepalaku saat ia bertanya apa itu seorang ibu.

Waktu berjalan cepat dan ia segera menjadi ksatria paling setia di keluarga Pandawa. Semua orang menyayangi, merasa lebih berhak atas hidupnya dan selama itu pula aku hanya bisa menjadi penonton. Anakku menjadi milik semua orang, milik sekian ratus ribu prajurit yang merasa bangga dipimpin olehnya. Ia milik Pandawa yang telah memiliki rencana besar akan masa depannya. Betul. Jika dia ada di Amarta. Namun saat dia pulang dan berkumpul dengan saudara-saudaranya? Antareja dan Antasena dengan keriangan mereka bercanda di halaman, memanjat pohon beringin yang ditanam Trembaka, ayahku, sementara Gatutkaca hanya mengawasi dari kejauhan. Dalam tubuh kekarnya, aku merasakan jiwa kecil yang memberontak karena ia tidak pernah mengalami masa-masa indah sebagaimana saudara-saudaranya. Ia tidak pernah bergulat di kubangan, naik rakit batang pisang di kali kotor, menangkap capung atau sekadar kejar-kejaran. Dalam hidupnya tak ada sejarah layang-layang daun gadung, topeng tempurung atau sekedar perang-perangan. Ia hanya mengenal perang yang sesungguhnya, yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

Aku pernah menanyainya suatu kali.

Anakku, apakah kau ingin memanjat pohon beringin itu? Yang ditanam oleh kakekmu?

Mereka tidak mengajakku.

Tapi kau boleh.

Tak ada jawaban.

Kau ingin menangkap capung?

Terlalu mudah bagiku.

Anakku mungkin memiliki pohon dan capung sendiri. Ya, di balik dada anakku yang bidang terdapat sayap pemberian dewa. Ia tak perlu memanjat untuk berkenalan dengan angkasa. Ia bebas pergi ke mana saja. Seperti burung elang, ia adalah penguasa di udara, tapi ia tetap tidak bisa bermain di sana. Segalanya terlewat begitu saja tanpa pernah tahu siapa yang telah merampasnya. Ia tidak pernah tahu barus bagaimana, di mana dan seperti apa. Tak tersediakah sekejap waktu untuk mengenalkannya pada apa itu senang, apa itu indah, apa itu duka? Biarlah ia tidak bergulat di kubangan. Ia tidak harus bermain layang-layang. Aku hanya ingin anakku menjadi seorang manusia.

Satu-satunya peristiwa yang membuatku bangga adalah saat dia jatuh cinta. Saat itulah aku melihatnya sebagai manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam sebuah perjalanan ia berjumpa Pergiwa, seorang putri gunung anak seorang pertapa. Hatinya berbunga. Belum lagi mengerti apa yang sesungguhnya sedang ia alami, kekecewaan menderanya dengan kejam saat tahu bahwa gadis itu telah dijodohkan dengan Lesmana anak Duryudana Raja Hastina. Pergiwa telah merampas hatinya dan ia tak tahu harus berbuat apa selain terbang setinggi mungkin, menukik ke bukit cadas dan menghantamkan tubuhnya di bebatuan. Bukan tubuhnya yang hancur melainkan batu-batu yang pecah dan longsor ke bawah, mendebam bergemuruh menggempakan bumi.

Aku berterima kasih pada Kresna yang telah mengajarinya menjadi seorang laki-laki, mencuri pujaan hatinya, menikahi Pergiwa, dan dengan segera memberiku seorang cucu yang mewarisi kegagahannya, Sasikirana. Dua tahun berikutnya adalah masa terindah dalam hidupku. Setelah itu aku tidak boleh berharap terlalu banyak karena ia telah kembali pada kesediakalaannya. Hari-harinya adalah pertempuran, isi kepalanya adalah segala persoalan tentang bagaimana memikirkan taktik perang, memadamkan pemberontakan, memimpin pasukan ke negara seberang untuk memperluas jajahan.

Tubuh dan pikirannya sedang dibangun oleh Kresna -siapa lagi kalau bukan dia- demi menyambut Baratayuda, perang besar di Kurusetra. Kurawa dipenuhi orang-orang kuat berilmu tinggi dan Pandawa harus mempersiapkan segalanya mulai sekarang atau tidak sama sekali. Semua orang, bahkan aku percaya bahwa taktik Kresna adalah yang terbaik.

Hidup anakku diatur oleh Kresna. Bahkan peristiwa Tunggarana, sebuah tanah perbatasan antara Pringgandani dan Trajutrisna yang diperebutkan oleh Boma dan Gatutkaca, menurutku adalah perbuatan Kresna juga. Tanah gersang yang tidak seberapa luas itu mendadak melambung nilainya menjadi sebuah pertaruhan harga diri, sebuah persaingan antara Boma dan Gatutkaca. Keduanya merasa berhak atas Tunggarana dan rupanya kata-kata tak pernah cukup. Tak ada lain, pertarungan menjadi jawaban. Orang-orang beranggapan Boma akan menang karena ia adalah anak Kresna. Tetapi kenyataan berbicara lain. Gatutkaca menang dan Boma tersingkir. Bagiku bukan Gatutkaca yang menyingkirkannya melainkan Kresna sendiri. Kresna hanya ingin tahu sampai di mana kemampuan anakku sehingga harus dicarikan lawan yang seimbang. Boma sangat pantas untuk itu. Mengenai hubungan bapak anak itu, sedikit pun aku tidak percaya bahwa Kresna akan mengakui Boma sebagai darah dagingnya, karena sesungguhnya ia tak lebih dari aib seorang raksasa yang dengan licik telah memperkosa istrinya. Aku semakin yakin akan hal itu karena setelah peristiwa tewasnya Samba anak Kresna yang lain oleh Boma, pada akhirnya tangan Kresna sendiri yang mengakhiri hidup Boma dengan senjata Cakra.

Selanjutnya Pringgandani menjadi ujung tombak Amarta. Semua rakyat kami adalah ksatria-ksatria raksasa yang akan dengan mudah menyerahkan hidupnya untuk kemuliaan pemimpin-pemimpin mereka. Mereka percaya telah ditakdirkan memiliki derajat lebih rendah dibanding manusia sehingga satu-satunya cara untuk menegaskan keberadaan adalah dengan mengabdi pada manusia, pada Pandawa. Dengan begitu, aku sama sekali tak heran jika kami selalu berada di garis terdepan pada setiap pertempuran. Tak terhitung lagi korban, tak terasa lagi pedihnya kehilangan karena semua telah menjadi keseharian. Tak terkecuali perang ini, Baratayuda, perang yang bagiku hanya demi menagih janji beberapa gelintir orang. Nyatanya, Kurusetra menjadi ladang pembantaian dan seperti pemulung beruntung, ajal memungut segalanya.

Tadi malam Kresna menyelinap ke peraduan Gatutkaca. Telingaku terlalu tajam untuk melewatkan percakapan mereka.

Anakku, seberapa besar kau mencintai Pandawa?

Sebesar hormatku padamu.

Jika kuminta nyawamu malam ini?

Kau lebih tahu harga yang pantas untuk itu.

Kemenangan Pandawa.

Tunjukkan jalanku.

Aku segera tahu bahwa pasukan Awangga yang dipimpin Karna menyerang pada malam hari. Meski kami telah sepakat untuk berperang hanya pada siang hari, mulai matahari timbul dan berhenti pada saat tenggelam, rupanya perang adalah perang yang sejak dulu hanya mementingkan tujuan, menghancurkan musuh dengan cara apa pun. Maka malam itu, Kurusetra segera merona oleh ribuan obor. Keringat dan darah belum lagi kering, tapi seburuk-buruk kenistaan seorang ksatria adalah menolak tantangan. Pasukan Pringgandani segera bersiap, mengasah taring masing-masing, memburu musuh Pandawa.

Mengapa harus anakku? Wijayandanu di tangan Karna adalah senjata pemusnah terhebat. Jangankan manusia, dewa pun tak akan sanggup. Sebuah rahasia yang samar-samar kudengar, senjata itu akan membunuh Arjuna, adik iparku yang paling disayang oleh Kunti ibu mertuaku. Tapi Kresna memiliki rencana lain. Harus ada yang dikorbankan sebelum Karna bertemu dengan Arjuna. Nyatalah bahwa sebenarnya tak ada lagi kesempatan bagi Gatutkaca. Ia hanya sekeping mata uang pembeli kemenangan Pandawa. Karna sama sekali bukan tandingannya. Dan aku tahu, saat bintang-bintang berjatuhan dari langit, Wijayandanu telah menemukan sarungnya, tenggelam di tubuh Gatutkaca. Anakku telah mengepakkan sayap kecilnya, terbang di sela-sela bintang, memungutinya seperti kerang. Tubuhnya digulung mendung, seperti Antareja dan Antasena yang bergelut di kubangan. Ia menukik ke bumi, tapi kali ini tanpa bayangan Pergiwa yang dulu membuatnya bertindak serupa. Tubuhnya membelah malam, menghantam kereta kuda Karna. Aku melihat senyum terakhirnya.

Pagi ini aku menyelinap ke benteng Kurawa untuk menemui Karna. Kuceritakan padanya tentang Gatutkaca, anakku yang malang. Mengapa seorang Karna begitu lantang tertawa setelah menghabisi nyawa seorang bocah yang sama sekali bukan tandingannya. Ia tersenyum.

Kami hanya sedang bermain.

Kutatap matanya lekat. Aku tahu bahwa aku telah memaafkannya. Aku segera memeluknya karena mata itu, ternyata adalah mata Gatutkaca juga. Mata bayi yang hanyut di sungai air mata ibunya. Kunti, mertuaku. (35)

Griya Gayeng, Maret 2005

Cerpen Nanang Hape
Sumber : Suara Merdeka